Kamis, 31 Maret 2011

Ada Cinta Di Musim Gugur

Central Park, menjelang sore…
            Lizzy tersentak dari lamunan ketika sehelai daun maple berwarna kemerahan jatuh menimpa keningnya. Musim gugur tahun ini seolah datang terlalu cepat. Langit di atasnya masih membiru cerah dan bernoda kilau matahari. Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang gadis kecil menggesek biolanya memainkan Ode to Joy Beethoven di hadapan seorang lelaki tua berambut perak. Lizzy sudah sering melihat mereka namun selalu iri melihat kehangatan yang terpancar di mata kakek dan cucu itu. Mereka sama sekali tak terusik oleh musim gugur yang menyelinap diam-diam di balik dedaunan maple.
            Tiba – tiba daun maple berwarna kemerahan itu jatuh semakin banyak, menghujaninya. Spontan Lizzy bangkit dari duduknya dan mendongak.  Didapatinya seorang pemuda duduk diatas pohon di belakangnya sambil membawa keranjang bunga berisi daun – daun maple.
            “Ye… Hujan maple!!!,” seru pemuda itu girang karena berhasil membuat Lizzy terkejut. Ia menumpahkan semua maple dari dalam kerangjang yang kini membuat Lizzy menjerit histeris.
            “Aaarrrgghh!!! Stop! Stop!,” teriak Lizzy sambil mengibas sehelai maple yang menyangkut di kepalanya. Lalu mendelik kearah Dylan. Pemuda itu perlahan turun dari pohon setelah melempar keranjang bunga ke sebelah kaki Lizzy berdiri.
            “Kau ini apa? Tidak punya kerjaan?,” omel Lizzy yang kemudian kembali duduk.
            Dylan cemberut sambil duduk disebelah Lizzy.
            “Kau ini tidak tahu terima kasih, ya. Aku sudah mencoba menghiburmu tapi kau malah mengomeliku. Selalu mengomel,” gerutu Dylan. Diambilnya beberapa helai daun maple dari tanah kemudian melemparnya ke atas. Wuuuusshh….. daun – daun itu berjatuhan kacau karena dimainkan angin musim gugur yang lumayan kencang sehingga daun – daun yang tersisa di ranting pohon ikut berguguran.
            Lizzy melongo. “Kau? Menghiburku? Apa itu cara menghiburmu? Parah sekali.”
            “Hei. Harusnya kau bilang terima kasih padaku. Hidup itu harus dinikmati. Tidak seperti kau. Setiap hari berwajah murung, kadang menangis, kadang marah – marah tidak jelas, mengomel seperti ini? Hati – hati, bisa – bisa bibirmu cepat keriput.”
            “Huh. Aku tak butuh kau hibur.” Lizzy mendengus.
Dylan kembali cemberut. Ditatapnya gadis Indonesia itu yang selalu bersikap dingin. Gadis disebelahnya itu memang moodnya sedang jelek. Setelah putus dari kekasihnya, gadis itu menjadi murung. Selalu melamun dan terkadang menangis sendiri. Cinta memang membingungkan, ya? Tiba – tiba muncul ide brilian dari otaknya.
            “Ayo, gadis maple ikut aku!.” Dylan mengulurkan tangannya kepada Lizzy. Gadis itu memandangnya dengan dahi berkerut seolah bertanya, “Kemana?”.
            “Ayo ikut saja!,” paksa Dylan dengan menarik tangan Lizzy dan berhasil membuat gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengikutinya. Dylan tetap memegang tangan Lizzy sampai akhirnya mereka tiba di tepi danau. Lalu naik ke atas perahu kecil yang tersedia disana. Memang perahu kecil itu sengaja disediakan oleh pemerintah untuk para pengunjung Central Park.
            Dylan tersenyum saat melihat ekspresi bingung Lizzy. Gadis itu mau saja naik perahu bersamanya. Perlahan, Dylan mulai mendayung dan perahu pun berjalan lambat – lambat. Diatas perahu kecil itu mereka menikmati indahnya taman Central Park saat musim gugur. Begitu indah memukau. Warna – warni maple disana sini. Juga angin musim gugur yang sejuk dan sinar matahari yang merambat pelan menunggu tenggelam.
            “Bagaimana kalau malam ini kau kencan denganku saja?,” ujar Dylan masih mendayung.
            Lizzy menatap mimik serius pemuda di depannya itu.  “Apakah ada kejutan?,” tanyanya dengan alis terangkat.
            “Tentu saja. Kau akan mendapat banyak kejutan malam ini. Kau lihat saja nanti. Aku akan membuatmu terkejut beberapa kali,” jawab Dylan yakin.
            “Baiklah. Aku menunggunya,” kata Lizzy setuju. Senyum Dylan pun terkembang. Mata birunya menatap Lizzy sejenak lalu kembali tersenyum semakin lebar.
            Ternyata Dylan tidak bohong dengan ucapannya. Pemuda itu telah menyiapkan segalanya untuk kencan mereka berdua. Mulai dari makan malam di tepi danau sambil melihat ratusan kembang api yang mewarnai langit Central Park malam itu. Serta wajah terkejut dan terpesona Lizzy saat mendengar bunyi letusan kembang api dan melihat bunga api itu berpendar diatas langit gelap yang tersihir menjadi warna – warni. Juga tawa riang kedua insan itu menjadi moment tersendiri yang berarti untuk Dylan maupun Lizzy. Apa yang dilakukan Dylan malam itu berhasil membuat kesedihan Lizzy hilang sejenak. Setidaknya butuh waktu agar gadis itu benar – benar terlepas dari kesedihan dan kembali pada Lizzy yang ceria.
            “Bagaimana? Kau suka kencan malam ini?,” tanya Dylan malam itu ketika sampai di depan apartement Lizzy.
            “Well, cukup mengesankan. Thanks,” ucap Lizzy sambil melempar senyum.
            “Okey. Kalau begitu tunggu kencan – kencan kita selanjutnya. Aku akan membuat ucapan cukup mengesankan itu menjadi fantastis,” kata Dylan yakin.
            Lizzy tertawa kecil. “Aku menunggu.”
            “Kalau begitu selamat tidur,” ujar Dylan salah tingkah. “Sampai jumpa besok.”
            “Ya.”
            Dylan melambaikan tangan. Lizzy membalasnya. Perlahan pemuda itu berjalan menjauhi pintu apartement Lizzy. Dan mendadak berhenti ketika suara Lizzy memanggil namanya.
            “Hei, Dylan.”
            Dylan menoleh. “Ya?”
            “Terima kasih,” senyum Lizzy. Dylan hanya mengacungkan jempol lalu melambaikan tangan kemudian melangkah pergi meninggalkan apartement Lizzy.
            Lizzy masuk kedalam lalu melempar diri di atas tempat tidur. Ia mulai mengenang kembali kencan malam tadi bersama Dylan. Juga mengenang awal pertemuan mereka di Manhattan dua bulan yang lalu. Waktu itu Lizzy sedang bertengkar dengan kekasihnyaa di telepon dan kemudian tiba – tiba Dylan datang menabraknya sambil membawa travel bag. Dylan yang baru pertama kali datang ke Amerika. Pemuda campuran Inggris – Korea itu bercerita kalau ia kabur dari Negara asalnya di Korea karena tidak mau melakukan wajib militer. Padahal usianya sudah dua puluh tahun, dua tahun dibawahnya. Alasannya sih karena dia mencintai menggambar dan membuat desain. Memang sih, Lizzy sempat memergoki Dylan yang sedang asyik dengan sketch book. Tetapi pemuda itu selalu menolak orang lain untuk mengintipnya. Namun begitu, pemuda itu selalu sok dewasa kepada Lizzy dan selalu mengekori Lizzy sampai ke tempat kerja gadis itu. Mengakunya sih karena Lizzy adalah teman pertamanya di New York dan apartement mereka yang bersebelahan. Awalnya Lizzy sempat risih dengan kehadiran Dylan. Akan tetapi perlahan ia mulai terbiasa. Walaupun usia mereka beda dua tahun, Dylan memang jauh lebih dewasa dari pada Lizzy. Terkadang pemuda itu bersikap bijaksana dibandingkan Lizzy yang tidak suka mengalah.
            Malam itu, Lizzy tidak lagi memikirkan mantan kekasihnya. Di benaknya dipenuhi dengan sosok Dylan yang jenaka dan jujur. Sampai akhirnya ia terlelap dan bermimipi mengenakan gaun pengantin dan disampingnya berdiri Dylan dengan pakaian berjas putih yang senada dengan gaun yang dikenakannya. Lalu keduanya mengucapkan janji setia. Lalu… Lalu… Lizzy terbangun karena jatuh dari tempat tidur. Seketika mimpi indahnya lenyap. Namun detik kemudian ia tersadar dan menepuk – nepuk kedua pipinya.

            Hari setelah kencan pertama Lizzy dengan Dylan, hubungan mereka pun semakin akrab dan tidak lagi saling cek – cok. Walau sesekali Lizzy masih sering mengacak – acak rambut Dylan. Dylan yang tidak suka diperlakukan seolah dirinya masih anak – anak selalu protes. Namun hal seperti itu sudah biasa dan tidak terlalu Lizzy permasalahkan. Sampai suatu hari ketika akhir pekan, Dylan cemberut di sepanjang jalan di kawasan Theatre District. Biasanya kalau mereka jalan – jalan berdua seperti malam itu, pasti Dylan lah yang lebih cerewet sambil menariknya kesana – sini untuk melihat – lihat. Kebetulan malam itu sedang ada festival musim gugur.
            “Hei, Dylan. Lihat badutnya lucu sekali,” tunjuk Lizzy pada seorang badut yang sedang melucu yang membuat para penonton tertawa terbahak – bahak.
            “Sepertinya kau suka sekali dengan badut itu, ya?,” ujar Dylan yang kedua matanya tak lepas dari pertunjukan teater.
            “Kau lihat. Dia sungguh lucu sekali,” seru Lizzy dengan tawa riangnya. Dylan hanya menatap gadis itu beberapa saat. Lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Lizzy yang sibuk tertawa karena badut – badut itu.
            “Kalau kau mau, aku bisa setiap hari berpenampilan seperti badut itu,” bisik Dylan, berhasil membuat Lizzy menoleh.
            “Kau? Konyol sekali.” Lizzy hanya mendecak pelan dan pandangannya kembali pada teater yang memukau didepan mereka.
            “Yeah. Asal kan itu dapat membuatmu tertawa seperti ini,” cetus Dylan menerawang.
            “Hah? Kau bicara apa barusan? Aku tidak dengar,” seru Lizzy pada Dylan yang kini mendengus pelan. Mungkin karena terlalu kerasnya suara para pengunjung yang menonton teater tersebut atau kah karena gadis itu terlalu terpukau dengan penampilan si badut sampai tidak mendengar Dylan bicara.
            Pertunjukan teater pun usai. Lizzy dan Dylan kembali berjalan untuk melihat – lihat. Keduanya sempat bercanda sampai tiba – tiba seorang gadis berambut pirang berdandan glamour berseru memanggil Lizzy.
            “Hei, Lizzy.” Gadis itu melambai kearah mereka. Lizzy balas melambai. Sepertinya itu temannya.
            “Hei. Kau disini juga? Shopping?,” kata Lizzy ketika gadis berambut pirang itu yang datang menghampiri mereka berdua.
            “Yeah. Kau sendiri?.” Gadis pirang itu memamerkan tas – tas belanjaan. Lalu kedua matanya melirik Dylan seolah mengatakan, “Itu siapamu?.”
            “Oh. Kenalkan ini tetanggaku. Namanya Dylan. Dylan, ini Charol. Dia teman sekantorku,” jawab Lizzy memperkenalkan keduanya.
            “Oh. Kupikir pacarmu,” cetus Charol dengan nada tinggi.
            “Aku? Dengan dia? Jangan bercanda,” komentar Lizzy dengan tawa canggungnya. Mengingat Dylan lebih pantas menjadi adiknya karena pemuda itu lebih muda dua tahun darinya. Tentu saja. Hal itu pun juga sudah Dylan tebak. Dylan tidak suka dengan cara Lizzy memperlakukannya seolah dirinya masih remaja.
            “Okey. Tapi kuharap kau menemukan pacar baru agar kau melupakan pria itu. Well, menurutku dia cocok denganmu,” senyum Charol sambil melempar pandang kearah Dylan. Lizzy melongo. Tidak mengerti maksud ucapan Charol. Namun Dylan paham. Pemuda itu hanya berdeham pelan merasa salah tingkah sekaligus beruntung bertemu dengan Charol.
            “Baik lah, aku harus pergi sekarang. John sedang menungguku di apartement. Kasihan sekali dia demam dan kau tahu aku harus merawatnya,” cerita Charol. “Okey, Lizzy, sampai ketemu besok. Jalan lupa ceritakan padaku tentang dia besok di kantor,” bisik gadis itu. “Okey. Aku pergi dulu. Bye.” Charol pun melenggang meninggalkan mereka berdua menuju ke sebuah mobil sedan pink.
            “Kau tahu, dia memang pecinta warna pink. Tapi dia tetap teman terbaikku selama aku berada di Starlet Magazine,” kata Lizzy memberitahu.
            “Yeah. Bisa kulihat kalau seleranya sungguh tinggi,” sahut Dylan setuju. “By the way, apa kau masih memikirkan dia?.” Spontan Lizzy menoleh.
            “Maksudmu siapa? Aku tak mengerti…”
            “Katakan padaku sehebat apakah dia sampai kau selalu memikirkannya? Untuk apa kau memikirkan lelaki yang sudah menghianatimu? Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan hal ini. Mengapa harus dia?.” Lizzy terdiam membatu. Suaranya tertahan di tenggorokan. “Ayo lah. Untuk apa aku selama ini berusaha menghiburmu kalau kau tak juga melupakan dia?.” Pertanyaan Dylan itu seolah sebuah pedang yang menghunus menenai jantungnya.
            “Hentikan, Dylan. Aku tidak harus menjawabnya, bukan? Lagi pula itu bukan urusanmu,” cetus Lizzy dengan suara bergetar.
            “Memang. Tapi apa tidak bisa kau mencari penggantinya dan menempatkan posisi itu di hatimu agar nama itu tidak lagi ada disana? Kalau ka uterus – menerus memikirkannya, perasaanmu akan semakin terluka, bukan?.”
            “Sudah lah! Aku tak mau mendengarnya lagi. Urus saja dirimu sendiri. Kau tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Aku punya alasan sendiri mengapa aku tak melakukannya!,” bentak Lizzy yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Dylan sendiri. Dylan menatap sosok gadis itu yang kini menjauh. Otaknya terasa buntu. Nafasnya memburu dan ingin rasanya ia memukul semua apa yang ada dihadapannya saat ini.

            Setelah kejadian di Theatre District itu, Lizzy berusaha sebisa mungkin menghindari Dylan. Ia tidak mau kalau harus mendengar pertanyaan yang membuatnya bingung. Namun ia sadar betul kalau selama ini pemuda itu telah berusaha keras menghiburnya untuk tidak larut dari patah hatinya. Akan tetapi untuk melupakan perasaannya pada seseorang itu sangat lah sulit. Ia butuh waktu sampai benar – benar melupakannya.
            Disamping itu Dylan juga mencari tahu tentang hubungan Lizzy dengan mantan kekasihnya dulu. Pemuda itu datang ke menemui Charol tanpa sepengetahuan Lizzy. Charol pun menceritakan segalanya. Tentang keluarga Lizzy yang melarang keras gadis itu untuk menjalin hubungan dengan pria berkebangsaan selain Indonesia. Karena mereka tidak ingin Lizzy terjerumus oleh kebudayaan barat. Sedangkan mantan kekasihnya dulu adalah warga negara Indonesia juga. Hanya saja kekasihnya itu menghianatinya dan berselingkuh di belakang Lizzy sampai menghamili seorang gadis di Negara tersebut. Lizzy mendapat kabar itu dari saudara sepupunya yang kuliah di Universitas Indonesia. Bulan kemarin mereka telah melangsungkan pernikahan. Lizzy begitu terpukul. Itu lah alasan mengapa Lizzy belum ingin jatuh cinta lagi. Penjelasan Charol tersebut berhasil membuat ulu hati Dylan ngilu. Padahal ia sempat yakin perasaannya pada Lizzy adalah cinta. Namun apakah itu masih bisa disebut cinta kalau kenyataannya ia belum siap menghadapi dilema dan kepahitan karena penolakan yang jelas dari Lizzy. Meskipun ini lah kali pertamanya ia merasa ingin melindungi seseorang yang dikasihinya. Dylan yakin perasaan itu adalah cinta. Tetapi kali ini ia tidak memiliki nyali lagi untuk mengutarakannya. Apakah hanya karena masalah adat dan kebudayaan juga kewarganegaraan? Lalu apa bedanya dengan berkewarganegaraan yang sama tapi memiliki perangai yang lebih bejat dari warga Negara asing? Toh semua itu tak jauh beda dan belum tentu sama.
            Di dalam apartementnya, Dylan memandangi sketch booknya nanar. Ketika perasaannya galau, sebuah sms muncul di inbox ponselnya. Dari nuna yang berarti kakak perempuan.  Sms itu memberitahukan agar ia segera pulang ke Seoul karena ibunya sakit serius. Dylan tidak membalasnya dan langsung menelepon kakak perempuannya.

            Lizzy begitu kaget mendapati Dylan ada di depan kantornya malam itu. Entah sudah berapa lama pemuda itu duduk menunggu disana karena penampilannya tampak kusut. Namun ia ragu menghampiri karena merasa bersalah telah membentaknya waktu itu. Akhirnya, Lizzy berpura – pura tidak melihat Dylan. Belum sempat ia melangkah jauh, Dylan telah melihatnya.
            “Gadis maple! Tunggu!,” panggil Dylan dari belakang. Lizzy tak lantas menengok. Sebelum gadis itu berjalan lebih jauh, Dylan lekas mengejarnya dan meraih lengan Lizzy.  “Kenapa kau belakangan ini selalu menghindariku? Okey, aku minta maaf soal yang waktu itu. Tapi aku sungguh ingin tahu. Dan sekarang kau tak perlu menjawabnya karena aku sudah mencari tahu semuanya.” Namun Lizzy hanya diam membisu. Gadis itu malah melepaskan tangan Dylan dari lengannya dan kembali berjalan. Baiklah karena sekarang pemuda itu telah mengetahui semuanya. Jadi ia tidak perlu repot – repot menjelaskan. Namun mengapa masih ada beban disana? Bukan kah tadi ia berniat meminta maaf pada pemuda itu? Mengapa sekarang ia menghindar lagi?.
            “Besok aku pulang ke Seoul!.” Tiba – tiba Dylan berseru. Seketika langkah Lizzy terhenti. “Kutunggu kau besok siang di tempat biasa. Terserah kau mau datang atau tidak.”
            Dylan berharap gadis itu berbalik menghampirinya. Namun yang diharapkannya tidak terjadi. Lizzy kembali melangkah ke depan tanpa menengok sedikit pun. Hati Dylan kembali terasa ngilu. Ia tidak menyangka perjalanan cintanya akan setragis ini.

            Besok siangnya, Lizzy bergegas pergi ke Cetral Park dan membatalkan jadwal pertemuannya dengan fotografer majalah demi seorang Dylan yang mungkin bukan siapa – siapa baginya. Akan tetapi selama tiga bulan terakhir ini, pemuda itu telah membantu mengisi kekosongan hatinya. Ia baru menyadari kalau keberadaan Dylan berpengaruh besar dalam hidupnya. Mengingat Dylan yang selalu menghantui di setiap mimpi – mimpinya. Bahkan belakangan ini ia sering memikirkan pemuda itu.
            Sesampai di kawasan Central Park, Lizzy segera berlari menyusuri taman sampai ke jembatan danau namun sosok yang dicarinya tidak ada. Ia pun berkeliling namun nihil. Apa mungkin ia terlambat datang. Si bodoh itu juga tidak memberitahu jam keberangkatan pesawat ke Seoul. Bagaimana mungkin si bodoh itu telah pergi meninggalkan New York secepat ini? Setelah satu jam keliling taman, ia tetap tidak menemukan Dylan disana. Jangan – jangan anak itu mengerjainya? Ia pun segera menelepon Charol barang kali temannya itu mengetahui informasi terbaru tentang Dylan.
            “Lizzy. Penerbangan ke Seoul dua jam lagi berangkat,” kata Charol di telepon.
            Berarti kalau di taman tidak ada, Dylan sudah berangkat ke Airport. Itu lah kalimat yang terlintas di benak Lizzy. Gadis itu kembali berlari meninggalkan Central Park dan mencari taxi menuju ke Bandara Internasional John F. Kennedy. Satu setengah jam perjalanan menuju ke Bandara tersebut karena masih harus terjebak di macet. Lizzy pun berhasil sampai sebelum waktunya. Paling tidak ia masih memiliki waktu untuk bicara kepada Dylan sebelum ia menyesal karena tidak mengatakan apa pun pada pemuda itu.
            Lizzy menyusuri koridor Airport sambil mencari – cari sosok Dylan. Ia berharap pemuda itu belum berangkat. Tetapi sampai sekarang ia belum menemukan sosok Dylan. Sampai akhirnya ia berusaha menerobos masuk ke Terminal 1 dan berhasil dicegah security.
            “Please, Sir. Izinkan saya masuk sebentar. Saya mau mencari teman saya,” ronta Lizzy memohon.
            “Sorry, Miss. Kami tidak bisa mengizinkan siapa pun masuk kecuali para penumpang.”
            “Please, Sir. Tolong. Biarkan saya masuk sebentar,” pinta Lizzy memohon lagi. Namun petugas Bandara tetap bersikeras untuk tidak membiarkan Lizzy masuk kedalam.
“Lizzy?.” Tiba – tiba terdengar suara khas yang Lizzy kenal memanggil namanya.              Lizzy mencari sumber suara tersebut dan mendapati Dylan tengah berdiri di belakangnya dengan membawa travel bag. Lizzy terpaku pada sosok itu. Jung Dylan Wo. Pemuda itu Nampak terkejut dengan kehadiran Lizzy. Antara tidak percaya dan senang karena gadis itu datang. Walau bukan di Central Park seperti tempat yang dijanjikannya semula.
            Perlahan, Lizzy melangkahkan kakinya yang terasa pegal menghampiri sosok Dylan yang berdiri mematung di tempat.
            “Kupikir kau tak kan datang…,” ucap Dylan datar. Seolah semua itu adalah mimpi.
            “Kau…. Uuuurrrghhh!!! Kau sungguh menyebalkan, Jung Dylan.” Tiba – tiba  saja Lizzy sudah memukulinya dengan tangan kurus gadis itu.
            “Aw. Aduh. Maaf. Maaf. Aku benar – benar tidak menyangka kau akan datang,” pekik Dylan menahan rasa sakit yang mengenai badannya.
            “Kau tahu, aku mencarimu di sepanjang Central Park tapi kau tidak ada disana. Seperti orang bodoh saja mencarimu. Sungguh menyebalkan,” teriak Lizzy kesal.
            “Maaf. Tapi aku sudah menunggumu selama dua jam disana. Lalu kupikir kau tak kan datang. Jadi kuputuskan untuk berangkat ke Bandara saja.”
            “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan? Kau sudah membuatku membatalkan jadwal pertemuanku dengan fotografer majalah dan nanti pastinya aku akan diomeli atasanku. Kau mau tanggung jawab dengan semua itu, hah?.” Lizzy kembali memukuli Dylan. Pemuda itu hanya pasrah mengingat dialah yang bersalah pada gadis itu.
            Dylan pun menggenggam tangan kurus Lizzy agar tidak memukulinya lagi mengingat sudah tidak cukup banyak waktu mereka untuk bicara.
            “Kau sudah selesai bicara?,” katanya pada gadis itu. Lizzy mengangguk pelan. “Baiklah. Aku minta maaf karena telah mempermainkanmu sampai kau kelelahan begini. Dan aku minta maaf karena aku harus pulang ke Seoul karena ibuku sakit serius. Meskipun aku ingin lebih lama lagi bersamamu disini. Tapi kau juga tidak akan tega dengan masa depanku, kan?.” Dylan menatap kedua mata Lizzy lurus. “Aku masih harus menyelesaikan masalahku di Korea. Masih banyak yang harus kukerjakan disana. Tapi aku berjanji padamu, setelah aku menjadi orang yang sukses, dan menjadi seorang pria yang pantas untukmu, aku akan kembali.
            “Dan aku ingin memberitahumu sebuah pengakuan. Walau ini terdengar tidak masuk akal karena kita baru saling mengenal. Tapi aku merasa harus menjagamu dan berusaha menghiburmu agar kau tidak berwajah murung lagi. Setelah kepergianku, berjanjilah padaku kau tidak akan murung lagi. Kau harus melanjutkan hidupmu demi impianmu dan orang – orang yang kau sayangi. Karena aku ingin kau selalu tersenyum dan ceria seperti musim gugur. Aku menyukaimu, gadis maple. Sarang haeyo… tapi aku tidak ingin dengar jawabanmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku saja. Tapi nanti setelah aku kembali, kau harus menjawabnya dengan tegas. Jadi, tunggu lah aku. Tapi jika kau menemukan orang lain dan membiarkan ia singgah di hatimu, aku pun juga tidak bisa memaksamu kau harus denganku. Itu pilihanmu dan aku tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu,” kata Dylan panjang lebar. Lalu diambilnya sebuah sketch book dari balik jaketnya dam memberikannya pada Lizzy. “Ini untukmu supaya kau mengingatku.” Melihat kedua mata Lizzy yang berkaca – kaca, Dylan bersuara lagi,”Kumohon, jangan menangis. Kau lebih manis tersenyum dari pada menangis, Lizzy.”
            “Siapa juga yang menangis? Aku tidak menangis,” elak Lizzy.
            “Kalau begitu tersenyum lah.” Lizzy pun tersenyum tipis. Dibalas senyuman manis Dylan dan tatapan lembutnya.
            Setengah jam berlalu. Terdengar suara panggilan terakhir kepada para penumpang untuk segera masuk ke terminal 1 karena beberapa menit lagi pesawat akan melakukan take off. Dylan pun berpamitan dengan Lizzy sambil melambaikan tangan. Lizzy membalasnya dengan lambaian tangan juga sampai akhirnya sosok Dylan menghilang dari pandangannya. Lizzy hamper saja menangis. Tetapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cengeng.
            Pada saat berada diluar Bandara, perlahan jari – jari tangan Lizzy membuka halaman pertama buku sketsa milik Dylan. Alangkah terkejut dan terharunya ia ketika melihat lukisan hitam putih bergambar dirinya di dalam buku itu. Merasa penasaran, Lizzy pun membalik lembaran demi lembatan berikutnya yang hamper semuanya adalah gambar dirinya yang sedang tersenyum. Dan lembar terakhir adalah lukisan yang bergambar dirinya sedang tertawa bersama Dylan dengan hiasan sekelai daun maple kering yang bertuliskan, teruntuk gadis maple-ku dari yang terkasih, Dylan. Senyum Lizzy terkembang sambil memandangi gambar halaman akhir itu. Ia tidak sabar menunggu datangnya musim gugur berikutnya ia pun juga tidak ingin kalah dengan Dylan. Ia juga harus bisa sukses menggapai mimpinya menjadi seorang jurnalis ternama. Juga tidak sabar menunggu Dylan dewasa muncul di hadapannya.
Di tengah sejuknya angin musim gugur Lizzy tersenyum. Tangannya mendekap buku sketsa milik Dylan di dadanya. Tak ada lagi penyesalan mengendap di hatinya. Musim gugur kali ini telah mengingatkannya pada hal terindah yang pernah dimilikinya.
Thanks, Dylan. You’re always gonna be my autumn.

Selesai

"naskah ini dikut sertakan dalam lomba Cinta Lintas Benua" tetepi tdk mendapat juara krn naskah hard copy saya nyasar entah kemana.. pdhl alamatnya sudah benar wktu ngirim... -_-"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar