Namanya Lavender Patricia Samudra. Lebih suka dipanggil Aven. Gadis egois, keras kepala, ceroboh, dan payah dalam pelajaran matematika ini adalah pewaris kekayaan keluarga Samudra Tirtasanjaya yg memiliki beberapa hotel berbintang lima yang berdiri di beberapa pelosok negeri Indonesia. Dan juga salah satu pemilik perkebunan anggur terbesar di Negeri Paman Sam. Seumur hidupnya Lavender tidak pernah hidup serba kekurangan. Karena kekayaan keluarganya itu lah ia tumbuh menjadi sosok gadis yang manja, boros, dan pemalas. Setiap hari hanya foya – foya dengan teman – temannya. Hanya bisa meminta uang, uang, dan uang kepada ayahnya tanpa tahu bagaimana susahnya mencari uang. Aven tidak peduli dari mana kekayaan yang melimpah itu. Yang penting apa pun yang diinginkannya harus dipenuhi. Kalau tidak gadis itu akan mengamuk dan menangis sepanjang malam.
Lavender adalah putri kesayangan. Awalnya. Namun hadir seorang pemuda yang lebih tua dua tahun darinya, yang mengaku sebagai anak haram ayahnya dengan perempuan lain asal Korea. Sejak itu lah hidup Aven berubah. Rasa sayang ayahnya pun berkurang. Malah ayahnya bangga kepada saudara tirinya itu. Karena kata ayah, Park Eun Min alias Leon Samudra ( ganti marga ) adalah pemuda yang sangat brilian dan berotak cerdas. Disebut – sebut juga kalau Leon mampu memegang seluruh aset kekayaan keluarganya. Sebal bukan main. Aven pun membuat perkara sehingga membuat ayahnya naik pitam. Aven pun dikirim ke Indonesia tetapnya di kota Yogyakarta dan tinggal dengan neneknya yang super duper cerewet. Disana Aven harus berusaha segalanya sendiri. Tidak ada kemewahan disana. Ia pun dipertemukan dengan Biru, pemuda super cuek, arogan yang katanya berdarah ningrat yang kabur dari Jakarta. Lengkap sudah penderitaan Aven. Apalagi ketika mengetahui Biru si manusia es tiba – tiba saja mengajaknya menikah. Heemm.. Gimana jadinya ya kalau seorang Lavender berpasangan dengan Pangeran Es?
1
My Bad Day
Manhattan, US di sebuah club malam…
“Aven! Aven! Aven!” Suara yel yel mengelu – elukan nama seorang gadis yang sedang duduk di depan meja bartender sedang berlomba minum dengan seorang pemuda bule. Di depan meja tempat Aven duduk telah terdapat sepuluh botol minuman keras yang sudah kosong. Kini gadis itu meneguk sisa beer-nya yang terakhir. Sementara pemuda di sebelahnya sudah teler lalu pingsan di tempat. Pemuda itu hanya mampu menghabiskan sembilan botol saja.
“Yeee… You is the best, Ven,” sorak penggemar gadis itu.
“Huuu…. Chiken boy!!.” Lalu mencemooh untuk sang Losser.
Aven yang masih duduk di tempat tersenyum bangga dengan wajah memerah setengah mabuk.
“I said if I never lose… hoek… hoek,” ujar Aven sambil bersendawa mengerikan. Namun bagi para Aven Lover, sendawa gadis itu adalah nada yang indah.
“Yeee!!!! Aven! Aven! Aven!.” Suara yel yel terdengar lagi.
Aven sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti para penggemarnya.
“Are you okey, Ven?,” tanya Linda cemas lalu memapah tubuh temannya itu yang sempoyongan.
“Yeah. I’m okey. Kau tau kalau aku tak pernah mabuk. Aku tidak mabuk,” ceracau Aven. Walaupun begitu Linda masih memapahnya hingga sampai di mobil.
Linda mendudukkan Aven di kursi belakang sedangkan ia yang menyetir.
“Ah, baik lah kali ini aku yang menyetir,” keluhnya sambil menghidupkan mesin mobil. Mobil mewah keluaran Ferrari itu pun berjalan lambat – lambat hingga akhirnya berhasil meninggalkan Club malam dengan mulus.
Jalan besar Times Square sudah sepi. Linda melirik jam digital pada monitor mobil yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia pun mempercepat sedikit laju mobil karena ia tidak ingin mendapat semprot ayah Aven karena memulangkan anak semata wayangnya dini hari.
Mobil sporty kuning itu berhenti tepat di depan rumah mewah yang kabarnya dibeli dengan harga 3 M dengan pekarangan luas. Ada sebuah taman dengan beraneka warna bunga tulip yang sengaja ditanam disana. Di tengah – tengahnya terdapat air mancur yang terdengar bergemericik di sela – sela keheningan malam. Sebagai pagar, berdiri pohon – pohon cemara yang menjulang tinggi berderet rapi mengelilingi rumah mewah itu.
Linda keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan Aven yang sudah tertidur. Setengah mati, Linda memapah Aven hingga di depan pintu. Kemudian ia mencari – cari kunci cadangan dari dalam tas tangan temannya itu yang sengaja dibuat duplikatnya agar Aven leluasa keluar masuk kedalam rumah. Ceklik. Pintu berhasil dibuka. Kini Linda kembali memapah Aven dan meletakkan gadis itu ke atas sofa panjang. Baru saja ia akan menghela nafas lega tiba – tiba saja lampu di ruangan itu mendadak menyala terang. Linda panik dan ingin cepat – cepat keluar dari sana. Namun terlambat. Sesosok pria telah berdiri tak jauh dari tempatnya dan menatapnya tajam.
“Sedang apa kau berada di dalam rumahku?,” tegur Lelaki itu dengan alis berkerut.
Linda mengkerut. Wajahnya kini pucat karena takut.
“Good night, Uncle,” sapanya salah tingkah. “Aku hanya mengantar Aven pulang. Kalau begitu aku pergi sekarang, Uncle.”
“Siapa yang menyuruhmu pergi? Dasar anak muda sekarang tidak tau sopan santun.” Lelaki itu bersuara lagi. Kali ini mendekati sosok putrinya yang tertidur pulas. Linda sudah gemetar dan mematung di tempatnya.
“Dia mabuk? Kau mengajari putriku bergaul seperti ini? Apa begini cara kalian bergaul?.” Pria itu kini memandang galak kepada Linda.
“Ma… Maaf, Uncle. Aven sendiri yang memilih seperti itu. Saya tidak pernah mengajarinya…” Linda menunduk takut.
Samudra, ayah Aven telah mendelik pada gadis muda di depannya. Kemudian kembali menatap putrinya miris.
“Sudah lah. Kau pulang saja sana!,” perintahnya. Linda bergegas keluar dari rumah yang lebih mirip kandang harimau itu. Ia baru akan kembali masuk kedalam mobil ketika menyadari kunci mobil itu tertinggal didalam rumah Aven.
“Aaaagghh!! Stupid! Stupid! Sekarang bagaimana caraku untuk pulang?,” histeris Linda kesal bukan main. Terpaksa ia harus berjalan kaki sampai di jalan raya lalu mulai menelepon seseorang. “Hallo? Mark. Bisa kah kau menjemputku di jalan dekat rumah Aven? Jemput aku, please!.” Setelah terdengar jawaban setuju dari seberang, Linda pun mematikan teleponnya. Lalu ia kembali teringat pada teman baiknya, Aven. “Aven, kau benar – benar menyusahkanku.”
Blog ini dibuat hanya untuk berbagi cerita kehidupan, impian, dan tentang apa yang kita sukai. Bisa juga untuk berkarya kreasi imajinasi. Mari berkarya!!
Sabtu, 09 April 2011
Rabu, 06 April 2011
Regina Spektor - The call lyrics
It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye
Just because everything's changing
Doesn't mean it's never
Been this way before
All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You'll come back
When it's over
No need to say good bye
You'll come back
When it's over
No need to say good bye
Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
Til they're before your eyes
You'll come back
When they call you
No need to say good bye
You'll come back
When they call you
No need to say good bye
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
Til it was a battle cry
I'll come back
When you call me
No need to say goodbye
Just because everything's changing
Doesn't mean it's never
Been this way before
All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You'll come back
When it's over
No need to say good bye
You'll come back
When it's over
No need to say good bye
Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
Til they're before your eyes
You'll come back
When they call you
No need to say good bye
You'll come back
When they call you
No need to say good bye
Minggu, 03 April 2011
Geu rae do... Sa rang ee da (Korean Lyrics)
sang by: Shin Seung Hun
nan sarang-i boyeodo
mot boneun che jinajyo
nan sarang-in-geol allado
dareun ireum-eul but-igo
nan sarang-i deullyeodo
mot deulleun che jinajyo
nae ulleum-eul deop-euryeo keunsoriro utneunde
sarang-i nae sarang-i
geureokedo nappeun gayo
saranghamyeon dadeul haengbokhande
naman une yo
naegeman wae naegeman
ireokedo apeun geojyu
mwodeun beoril tende i sarangman
heo rak dwen damyeon
nan sarang-i apado
meongdeun chaero sallayo
nunmullo sshis-eo bwado na-ajiji anneunde
sarang-i nae sarang-i
geureokedo nappeun gayo
saranghamyeon dadeul haengbokhande naman uneyo
naegeman wae naegeman
ireokedo apeun geojyo
mwodeun beoril tende i sarangman heorakdwendamyeon
sojunghan geos-eun modudeul
tteonaneun geot gataseo
ilgi shilheoseo ma-eum dat-ass-eotjiman
geudae balgeun bich-e naui nun-i meolleobeoryeodo
1.harue harumankeum sangcheoman-i gip-eogado
2.sarang-e chehan mam-e apeumman-eul eonjeogado
3.haruga tto haruga seulpeum-euro tteomilleodo
4.nunmulle mureun mam-i haruharu paeyeo
gado juk-eul mankeum apeun i sarang-e naega sanikka
nan sarang-i boyeodo
mot boneun che jinajyo
nan sarang-in-geol allado
dareun ireum-eul but-igo
nan sarang-i deullyeodo
mot deulleun che jinajyo
nae ulleum-eul deop-euryeo keunsoriro utneunde
sarang-i nae sarang-i
geureokedo nappeun gayo
saranghamyeon dadeul haengbokhande
naman une yo
naegeman wae naegeman
ireokedo apeun geojyu
mwodeun beoril tende i sarangman
heo rak dwen damyeon
nan sarang-i apado
meongdeun chaero sallayo
nunmullo sshis-eo bwado na-ajiji anneunde
sarang-i nae sarang-i
geureokedo nappeun gayo
saranghamyeon dadeul haengbokhande naman uneyo
naegeman wae naegeman
ireokedo apeun geojyo
mwodeun beoril tende i sarangman heorakdwendamyeon
sojunghan geos-eun modudeul
tteonaneun geot gataseo
ilgi shilheoseo ma-eum dat-ass-eotjiman
geudae balgeun bich-e naui nun-i meolleobeoryeodo
1.harue harumankeum sangcheoman-i gip-eogado
2.sarang-e chehan mam-e apeumman-eul eonjeogado
3.haruga tto haruga seulpeum-euro tteomilleodo
4.nunmulle mureun mam-i haruharu paeyeo
gado juk-eul mankeum apeun i sarang-e naega sanikka
LOMBA PUISI DEADLINE 20 MEI 2011
Masyarakat Indonesia umumnya mengenal mitologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari unsur-unsur kepercayaan lokal. Sebelum agama-agama disebarkan serta dipeluk secara luas, mitologi telah memiliki peran penting dalam upaya kontrol sosial masyarakat melalui beragam tata nilai, norma serta amanat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, hingga kini, kisah-kisah mite masih mengambil andil dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat berbagai daerah, baik sebagai warisan intangible culture maupun fungsi-fungsi lain yang bersifat edukatif dan rekreatif.
Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.
Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.
Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:
1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.
2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.
3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”
4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.
5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.
6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.
7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).
8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email: ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).
9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011
10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)
11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Sumber: http://ruangpendidikan.wordpress.com/2011/02/19/lomba-cipta-
Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.
Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.
Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:
1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.
2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.
3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”
4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.
5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.
6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.
7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).
8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email: ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).
9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011
10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)
11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Sumber: http://ruangpendidikan.wordpress.com/2011/02/19/lomba-cipta-
SEO Kontes Hargagila.com diselenggarakan untuk menggairahkan blogger dengan aplikasi SEO (Search Engine Optimization) .
SEO Kontes Hargagila.com diselenggarakan untuk menggairahkan blogger dengan aplikasi SEO (Search Engine Optimization) .
SEO Game ini ditujukan kepada segenap pelaku dan profesional bisnis online dan internet marketer Indonesia, untuk berpartisipasi mengikuti SEO Game 2011 yang di selenggarakan oleh Hargagila.com. Pendaftaran tgl. 14 Maret 2011 - 14 Juni 2011. Pengumuman tgl. 17 Juni 2011, dengan total hadiah lebih dari Rp. 15.000.000,- Daftarkan segera! dan selamat berjuang!
Peraturan SEO Game HargaGila.com:
1. Tanggal dimulainya SEO Game adalah 14 Maret 2011 (Jam 12:00 wib).
2. Tanggal berakhirnya SEO Game adalah 14 Juni 2011 (Jam 12:00 wib).
3. Pengumuman tgl. 17 Juni 2011
4. Hanya teknik-teknik SEO yang etis saja yang dapat digunakan dalam kontes ini,
dan para juri berhak untuk meninjau kembali teknik-teknik yang digunakan oleh
para pemenang, untuk memastikannya.
5. Tidak diperbolehkan adanya unsur pornografi, diskriminasi, atau tindakan yang
melanggar hukum dalam pelaksanaan SEO Game.
6. Target Keyword: “Harga Jual Blackberry iPhone Laptop Murah ” dan membuat link
ke http://www.hargagila.com
7. SEO Game ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai content relevansinya.
8. Relevansi content sangat diperhatikan disini, buatlah content berbahasa
Indonesia yang sesuai target kata kunci dan enak dibaca.
9. Hanya peserta yang teregistrasi yang dapat bersaing dan memenangkan hadiah
yang disediakan panitia.
10. Pendaftaran tidak dipungut biaya dan terbuka untuk siapa saja tanpa batasan
umur.
11. Setiap entry halaman peserta harus memiliki back link yang dapat dilihat
terhadap www.hargagila.com
12. Satu orang hanya dapat memperoleh satu hadiah.
13. Umur domain maksimal 5 tahun.
14. Anda diperbolehkan menggunakan domain yang telah ada, namun halaman/URL
entry yang disubmit harus benar-benar baru dengan tanpa back link dan versi
cache sebelumnya.
15. Tidak menggunakan domain dan subdomain dengan target keyword yang di
lombakan.
16. Panitia penyelenggara dan tim pembuat Hargagila.com diperbolehkan
mengikuti kontes, namun tidak berhak memperoleh hadiah apapun.
17. Peraturan dapat ditambah atau diubah dari waktu ke waktu sesuai dengan
feedback yang diterima dari peserta.
18. Target pemenangan SEO Game HargaGila.com result di Google.co.id
19. Buat backlink ke
Harga Jual Blackberry iPhone Laptop Murah
20. Tambahkan Logo SEO Game Hargagila.com pada web/blog Anda
Perlu di ingat:
1. Perlu diingat bahwa saat Anda register untuk SEO Game, Anda harus memastikan bahwa entry URL yang Anda masukkan mengacu kepada halaman sebenarnya yang Anda submit untuk kontes.
2. Pada saat register, apabila terdapat kotak isian yang kosong atau URL entry tidak mengacu kepada spesifikasi yang seharusnya, maka entry akan dihapus.
3. Selama kontes, kami akan memeriksa ulang halaman entry untuk memverifikasi usia dan backlink. Jika suatu entry ditemukan lebih tua dari yang diperbolehkan atau tidak memasang backlink yang seharusnya (ditunjukkan dibawah ini), entry tersebut akan didiskualifikasi dari kontes, maka dari itu pastikan entry Anda sesuai dengan peraturan yang berlaku pada kontes.
Backlink yang dibutuhkan:
Untuk informasi lebih lengkap mengenai SEO Game kami, mohon untuk mengunjungi
halaman Informasi SEO Game dan/atau jika berencana untuk mengikuti Game kami,
Anda dapat melakukannya dengan mengisi Formulir Pendaftaran.
Hadiah:
Ke-1 : Rp. 6.000.000,-
Ke-2 : Rp. 4.000.000,-
Ke-3 : Rp. 3.000.000,-
Ke-4 : Rp. 2.000.000,-
Sumber: http://hargagila.com/kontesseo/index.php
SEO Game ini ditujukan kepada segenap pelaku dan profesional bisnis online dan internet marketer Indonesia, untuk berpartisipasi mengikuti SEO Game 2011 yang di selenggarakan oleh Hargagila.com. Pendaftaran tgl. 14 Maret 2011 - 14 Juni 2011. Pengumuman tgl. 17 Juni 2011, dengan total hadiah lebih dari Rp. 15.000.000,- Daftarkan segera! dan selamat berjuang!
Peraturan SEO Game HargaGila.com:
1. Tanggal dimulainya SEO Game adalah 14 Maret 2011 (Jam 12:00 wib).
2. Tanggal berakhirnya SEO Game adalah 14 Juni 2011 (Jam 12:00 wib).
3. Pengumuman tgl. 17 Juni 2011
4. Hanya teknik-teknik SEO yang etis saja yang dapat digunakan dalam kontes ini,
dan para juri berhak untuk meninjau kembali teknik-teknik yang digunakan oleh
para pemenang, untuk memastikannya.
5. Tidak diperbolehkan adanya unsur pornografi, diskriminasi, atau tindakan yang
melanggar hukum dalam pelaksanaan SEO Game.
6. Target Keyword: “Harga Jual Blackberry iPhone Laptop Murah ” dan membuat link
ke http://www.hargagila.com
7. SEO Game ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai content relevansinya.
8. Relevansi content sangat diperhatikan disini, buatlah content berbahasa
Indonesia yang sesuai target kata kunci dan enak dibaca.
9. Hanya peserta yang teregistrasi yang dapat bersaing dan memenangkan hadiah
yang disediakan panitia.
10. Pendaftaran tidak dipungut biaya dan terbuka untuk siapa saja tanpa batasan
umur.
11. Setiap entry halaman peserta harus memiliki back link yang dapat dilihat
terhadap www.hargagila.com
12. Satu orang hanya dapat memperoleh satu hadiah.
13. Umur domain maksimal 5 tahun.
14. Anda diperbolehkan menggunakan domain yang telah ada, namun halaman/URL
entry yang disubmit harus benar-benar baru dengan tanpa back link dan versi
cache sebelumnya.
15. Tidak menggunakan domain dan subdomain dengan target keyword yang di
lombakan.
16. Panitia penyelenggara dan tim pembuat Hargagila.com diperbolehkan
mengikuti kontes, namun tidak berhak memperoleh hadiah apapun.
17. Peraturan dapat ditambah atau diubah dari waktu ke waktu sesuai dengan
feedback yang diterima dari peserta.
18. Target pemenangan SEO Game HargaGila.com result di Google.co.id
19. Buat backlink ke
Harga Jual Blackberry iPhone Laptop Murah
20. Tambahkan Logo SEO Game Hargagila.com pada web/blog Anda
Perlu di ingat:
1. Perlu diingat bahwa saat Anda register untuk SEO Game, Anda harus memastikan bahwa entry URL yang Anda masukkan mengacu kepada halaman sebenarnya yang Anda submit untuk kontes.
2. Pada saat register, apabila terdapat kotak isian yang kosong atau URL entry tidak mengacu kepada spesifikasi yang seharusnya, maka entry akan dihapus.
3. Selama kontes, kami akan memeriksa ulang halaman entry untuk memverifikasi usia dan backlink. Jika suatu entry ditemukan lebih tua dari yang diperbolehkan atau tidak memasang backlink yang seharusnya (ditunjukkan dibawah ini), entry tersebut akan didiskualifikasi dari kontes, maka dari itu pastikan entry Anda sesuai dengan peraturan yang berlaku pada kontes.
Backlink yang dibutuhkan:
Untuk informasi lebih lengkap mengenai SEO Game kami, mohon untuk mengunjungi
halaman Informasi SEO Game dan/atau jika berencana untuk mengikuti Game kami,
Anda dapat melakukannya dengan mengisi Formulir Pendaftaran.
Hadiah:
Ke-1 : Rp. 6.000.000,-
Ke-2 : Rp. 4.000.000,-
Ke-3 : Rp. 3.000.000,-
Ke-4 : Rp. 2.000.000,-
Sumber: http://hargagila.com/kontesseo/index.php
lomba 2011 : Sayembara Menulis Cerpen Forum Sastra Bumi Pertiwi Tingkat Nasional 2011
Sayembara Menulis Cerpen Forum Sastra Bumi Pertiwi Tingkat Nasional 2011
Dead Line 25 Maret 2011
Syarat lomba :
1. Peserta adalah warga negera Indonesia tanpa batasan usia
2. Naskah berbahasa Indonesia, diketik di kertas kuarto, spasi ganda, font Times News Roman ukuran 12
3. Panjang naskah 4-8 halaman, margins 3 cm
4. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau hasil plagiat
5. Tema bebas, namun diharapkan mengandung manfaat/ pesan moral bagi pembaca
6. Naskah belum pernah dipublikasikan di media manapun dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain
7. Sertakan sinopsis cerpen di halaman terpisah, maksimal 150 kata
8. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen
9. Setiap naskah diberi judul, nama penulis, biografi singkat penulis, no hp, email dan alamat rumah
10. Setiap cerpen/setiap judul naskah yang diikutsertakan wajib membayar uang pendaftaran RP 10.000,- (uang ini nantinya akan digunakan untuk pembuatan antologi dan sebagian disumbangkan untuk membantu korban bencana alam)
11. Uang pendaftaran ditransfer ke Bank BRI No Rekening : 5412-01-013576-53-1 a/n Abdur Rahim
12. Bukti transfer discan atau difoto, lampirkan beserta naskah cerpen, lalu kirim ke email: fsbp@ymail.com cc : fsbp2@yahoo.co.id
13. Format subject (FSBP-Nama Penulis-Judul Naskah). Contoh: FSBP-Kurniawan-Senja
14. Karya peserta diterima panitia paling lambat tanggal 25 Maret 2011
15. Pemenang diumumkan pada tanggal 25 Mei 2011 di blog FSBP http://forumsastrabumipertiwi.blogspot.com/ atau Facebook : Fs Bumi Pertiwi dan Forum Sastra Bumi Pertiwi
16. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
Hadiah:
Ø Pemenang 1 uang tunai Rp 3.000.000,- + piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Ø Pemenang 2 uang tunai Rp 2.000.000,- + piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Ø Pemenang 3 uang tunai Rp 1.000.000,- + piagam pengahrgaan + antologi cerpen pemenang
Ø 20 pemenang harapan mendapat piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Contact person: Abdur Rahim (085767601378)
Dead Line 25 Maret 2011
Syarat lomba :
1. Peserta adalah warga negera Indonesia tanpa batasan usia
2. Naskah berbahasa Indonesia, diketik di kertas kuarto, spasi ganda, font Times News Roman ukuran 12
3. Panjang naskah 4-8 halaman, margins 3 cm
4. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran atau hasil plagiat
5. Tema bebas, namun diharapkan mengandung manfaat/ pesan moral bagi pembaca
6. Naskah belum pernah dipublikasikan di media manapun dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain
7. Sertakan sinopsis cerpen di halaman terpisah, maksimal 150 kata
8. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen
9. Setiap naskah diberi judul, nama penulis, biografi singkat penulis, no hp, email dan alamat rumah
10. Setiap cerpen/setiap judul naskah yang diikutsertakan wajib membayar uang pendaftaran RP 10.000,- (uang ini nantinya akan digunakan untuk pembuatan antologi dan sebagian disumbangkan untuk membantu korban bencana alam)
11. Uang pendaftaran ditransfer ke Bank BRI No Rekening : 5412-01-013576-53-1 a/n Abdur Rahim
12. Bukti transfer discan atau difoto, lampirkan beserta naskah cerpen, lalu kirim ke email: fsbp@ymail.com cc : fsbp2@yahoo.co.id
13. Format subject (FSBP-Nama Penulis-Judul Naskah). Contoh: FSBP-Kurniawan-Senja
14. Karya peserta diterima panitia paling lambat tanggal 25 Maret 2011
15. Pemenang diumumkan pada tanggal 25 Mei 2011 di blog FSBP http://forumsastrabumipertiwi.blogspot.com/ atau Facebook : Fs Bumi Pertiwi dan Forum Sastra Bumi Pertiwi
16. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
Hadiah:
Ø Pemenang 1 uang tunai Rp 3.000.000,- + piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Ø Pemenang 2 uang tunai Rp 2.000.000,- + piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Ø Pemenang 3 uang tunai Rp 1.000.000,- + piagam pengahrgaan + antologi cerpen pemenang
Ø 20 pemenang harapan mendapat piagam penghargaan + antologi cerpen pemenang
Contact person: Abdur Rahim (085767601378)
Sayembara Puisi & Cerpen Markas Sastra DEADLINE 20 MARET 2011
Sayembara Puisi & Cerpen Markas Sastra
Untuk syarat-syaratnya, tidak ada yang terlalu mencolok, terbuka untuk umum. Untuk puisi bertema bebas, sementara ketentuan untuk cerpen
* Tema: Manusia Indonesia
* Panjang cerpen tidak terbatas
* Huruf yang digunakan harus Times New Roman, 12pt
* Spasi 1,5
* Berbahasa Indonesia
Bahasa yang digunakan jelas akan mempengaruhi penilaian.
Anda boleh mengirimkan karya sebanyak-banyaknya. Dikumpulkan ke alamatmini.kata1@gmail.com paling lambat 20 Maret 2011.
Karya-karya yang terpilih akan dibukukan dalam antologi oleh Markas Sastra.
http://www.facebook.com/event.php?eid=163648110351873
info: Dewi 021 9686 9779
Untuk syarat-syaratnya, tidak ada yang terlalu mencolok, terbuka untuk umum. Untuk puisi bertema bebas, sementara ketentuan untuk cerpen
* Tema: Manusia Indonesia
* Panjang cerpen tidak terbatas
* Huruf yang digunakan harus Times New Roman, 12pt
* Spasi 1,5
* Berbahasa Indonesia
Bahasa yang digunakan jelas akan mempengaruhi penilaian.
Anda boleh mengirimkan karya sebanyak-banyaknya. Dikumpulkan ke alamatmini.kata1@gmail.com paling lambat 20 Maret 2011.
Karya-karya yang terpilih akan dibukukan dalam antologi oleh Markas Sastra.
http://www.facebook.com/event.php?eid=163648110351873
info: Dewi 021 9686 9779
Sinopsis Dandelion
Setiap orang punya impian dan cita – cita. Tapi impian yang seperti apa? Ketika impian yang kita pilih tidak cukup untuk menyenangkan orang yang kita sayangi termasuk keluarga. Mereka menganggap impian kita tidak berguna dan sebagainya. Lalu kau harus bagaimana? Sementara kau lelah menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Tetapi pada akhirnya kita sebagai anak lah yang harus memilih mana yang terbaik.
Odi, merasa hidupnya sungguh tidak adil. Sejak kecil, gadis itu sudah ditinggal kedua orang tuanya. Ia pun dibesarkan oleh keluarga dari pihak ayahnya. Namun, didikan keluarganya begitu keras. Odi selalu dituntut untuk menjadi anak yang baik, berprestasi, dan penurut. Odi harus menuruti keinginan keluarganya. Sampai memilih sekolah pun juga demikian. Semuanya. Sampai akhirnya ia tumbuh menjadi remaja yang pendiam dan tertutup. Ketika diusia remajanya yang labil dan penuh emosi, Odi berpikir ingin menyerah saja. Ia sudah lelah. Ia pun berada di persimpangan jalan dimana ia harus memilih. Bertahan dengan impiannya atau melepasnya.
Belum lagi seorang teman yang menganggapnya sahabat telah menghianatinya. Masalah pun bertambah rumit. Ditambah lagi kekasihnya memutuskannya tanpa alasan yang masuk akal. Odi pun mengutuk nasibnya. Ia pun melarikan diri dari rumah dan membuat kekacauan di dalam keluarga besarnya. Dari situ lah pertualangan pencarian jati diri Odi pun dimulai. Odi sekuat tenaga harus bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Ia juga dipertemukan oleh cinta. Cinta yang justru menghancurkannya membuat gadis itu semakin frustasi. Hingga ia berhenti untuk mencari cinta dan menutup hatinya untuk siapa pun juga. Sampai suatu ketika ia kembali menata hidupnya dan membuka lembaran baru. Tanpa disadarinya masa lalu tengah mengintai hidupnya. Dan secara tidak sengaja, ia dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya. Namun keduanya telah memiliki dunia yang berbeda
Odi, merasa hidupnya sungguh tidak adil. Sejak kecil, gadis itu sudah ditinggal kedua orang tuanya. Ia pun dibesarkan oleh keluarga dari pihak ayahnya. Namun, didikan keluarganya begitu keras. Odi selalu dituntut untuk menjadi anak yang baik, berprestasi, dan penurut. Odi harus menuruti keinginan keluarganya. Sampai memilih sekolah pun juga demikian. Semuanya. Sampai akhirnya ia tumbuh menjadi remaja yang pendiam dan tertutup. Ketika diusia remajanya yang labil dan penuh emosi, Odi berpikir ingin menyerah saja. Ia sudah lelah. Ia pun berada di persimpangan jalan dimana ia harus memilih. Bertahan dengan impiannya atau melepasnya.
Belum lagi seorang teman yang menganggapnya sahabat telah menghianatinya. Masalah pun bertambah rumit. Ditambah lagi kekasihnya memutuskannya tanpa alasan yang masuk akal. Odi pun mengutuk nasibnya. Ia pun melarikan diri dari rumah dan membuat kekacauan di dalam keluarga besarnya. Dari situ lah pertualangan pencarian jati diri Odi pun dimulai. Odi sekuat tenaga harus bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Ia juga dipertemukan oleh cinta. Cinta yang justru menghancurkannya membuat gadis itu semakin frustasi. Hingga ia berhenti untuk mencari cinta dan menutup hatinya untuk siapa pun juga. Sampai suatu ketika ia kembali menata hidupnya dan membuka lembaran baru. Tanpa disadarinya masa lalu tengah mengintai hidupnya. Dan secara tidak sengaja, ia dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya. Namun keduanya telah memiliki dunia yang berbeda
Shimfoni Hitam
Malam sunyi ku impikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Dihatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun slalu aku bertanya adakah aku dihatimu
T'lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tp mengapa ku tak kan bisa sentuh hatimu....
Bila saja kau disisiku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar shimfoniku
Shimfoni hanya untukmu.....
Lirik dari album Sherina Munaf
Jika lagu ini mengalun, satu nama yang akan terngiang ditelingaku. Jika lagu ini kuresapi, sosoknya yang nampak samar di benakku. Itu dia, dengan jujur kukatakan aku rindu. Walau kita telah tak sendiri lagi. Telah kita sepakati keputusan untuk melangkah dan menggapai mimpi kita masing - masing. Aku dengna keputusanku, dan kau dengna keputusanmu. Engkau pun pergi. Dan jiwaku berkelana entah kemana yang berusaha lari dari bayang - bayangmu. Semakin jauh aku pergi, mungkin dengan begitu aku bisa melupakanmu. Tapi mengapa bayangmu masih membekas?? Walau aku telah mencari cinta lain dan kumbang - kumbang berlomba mendapatkanku. Namun mengapa itu belum cukup? Aku telah berusaha sampai detik ini menghapus kenangan tentangmu. Apa karena aku yang tidak ingin menghapusnya? Tapi biar lah. Akan tetap kusimpan kenanganmu. Dan akan kujadikan rahasia antara kau dan aku. Tapi, kalau boleh sekali saja aku ingin mengatakan sesuatu yang tertunda empat tahun lamanya. Karena tak berani mengatakannya. Atau karena aku yang terlalu gengsi. Dan malam ini, detik ini, aku akan kusampaikan kalimat itu, meski kau tak ada didepan kedua mataku. "Maaf dan terimakasih.... Aku tak akan melupakanmu. Karena kamu yang pertama kali membuatku tersadar akan indahnya mencintai seseorang. Kamu telah mengajariku dimana aku harus berusaha semampuku untuk menjadi diriku sendiri. Dan aku mengaku, aku menyayangimu. Kan selalu menyayangimu. Kuharap kau bahagia. Kita akan bahagia dengan pilihan kita masing - masing. To My First Love - Adit
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Dihatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun slalu aku bertanya adakah aku dihatimu
T'lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tp mengapa ku tak kan bisa sentuh hatimu....
Bila saja kau disisiku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar shimfoniku
Shimfoni hanya untukmu.....
Lirik dari album Sherina Munaf
Jika lagu ini mengalun, satu nama yang akan terngiang ditelingaku. Jika lagu ini kuresapi, sosoknya yang nampak samar di benakku. Itu dia, dengan jujur kukatakan aku rindu. Walau kita telah tak sendiri lagi. Telah kita sepakati keputusan untuk melangkah dan menggapai mimpi kita masing - masing. Aku dengna keputusanku, dan kau dengna keputusanmu. Engkau pun pergi. Dan jiwaku berkelana entah kemana yang berusaha lari dari bayang - bayangmu. Semakin jauh aku pergi, mungkin dengan begitu aku bisa melupakanmu. Tapi mengapa bayangmu masih membekas?? Walau aku telah mencari cinta lain dan kumbang - kumbang berlomba mendapatkanku. Namun mengapa itu belum cukup? Aku telah berusaha sampai detik ini menghapus kenangan tentangmu. Apa karena aku yang tidak ingin menghapusnya? Tapi biar lah. Akan tetap kusimpan kenanganmu. Dan akan kujadikan rahasia antara kau dan aku. Tapi, kalau boleh sekali saja aku ingin mengatakan sesuatu yang tertunda empat tahun lamanya. Karena tak berani mengatakannya. Atau karena aku yang terlalu gengsi. Dan malam ini, detik ini, aku akan kusampaikan kalimat itu, meski kau tak ada didepan kedua mataku. "Maaf dan terimakasih.... Aku tak akan melupakanmu. Karena kamu yang pertama kali membuatku tersadar akan indahnya mencintai seseorang. Kamu telah mengajariku dimana aku harus berusaha semampuku untuk menjadi diriku sendiri. Dan aku mengaku, aku menyayangimu. Kan selalu menyayangimu. Kuharap kau bahagia. Kita akan bahagia dengan pilihan kita masing - masing. To My First Love - Adit
andai perasaaan itu dapat bicara
Andai peraasaan itu dapat bicara
ketika suara teredam karena amarah
dan raasa kecewa yang teramat perih
atau kah hanya sekedar duka
ketika yg dicintai telah pergi
hanya meninggalkan lembaran kenangan
lalu,kemanakah perginya kebahagiaan yg pernah ada?
hanya luka yg tersisa
yg tersimpan begitu dalam dan lekat begitu saja
seperti torehan tak kasat mata
seperti tangis yg tertelan oleh tawa
ketika suara teredam karena amarah
dan raasa kecewa yang teramat perih
atau kah hanya sekedar duka
ketika yg dicintai telah pergi
hanya meninggalkan lembaran kenangan
lalu,kemanakah perginya kebahagiaan yg pernah ada?
hanya luka yg tersisa
yg tersimpan begitu dalam dan lekat begitu saja
seperti torehan tak kasat mata
seperti tangis yg tertelan oleh tawa
Puisi
Katakan pada manusia yang tinggal di tanah ini
Andai kau dengar seru perih hatiku
Ragam petaka telah menimpaku
kalau saja itu menimpa siang
ia akan berubah menjadi malam
kujadikan duka sebagai pelipur laraku
dan tangis untukmu sebagai perhiasanku
patutkah bagi orang yg pernah mencium pusara Ahmad
takkan lagi mereguk aroma semerbak wangi???
"fatimah al-Zahra"
Andai kau dengar seru perih hatiku
Ragam petaka telah menimpaku
kalau saja itu menimpa siang
ia akan berubah menjadi malam
kujadikan duka sebagai pelipur laraku
dan tangis untukmu sebagai perhiasanku
patutkah bagi orang yg pernah mencium pusara Ahmad
takkan lagi mereguk aroma semerbak wangi???
"fatimah al-Zahra"
Get Love !
Namaku Arand Stewart. Aku putra dari pemilik perusahaan stasiun televisi ternama di New York. Hobiku adalah mengoleksi barbie – berbie cantik. Dengan ketampanan dan kekayaan orang tuaku yang melimpah ruah, aku bebas memilih gadis manapun yang kusuka, termasuk mempermainkan perasaan mereka. Kupikir dengan begitu sakit hatiku dapat terobati karena cintaku terhianati oleh gadis yang kusukai. Tepatnya mantan kekasihku. First loveku. Aku tidak tahu mengapa dulu tiba – tiba gadis itu meninggalkanku dan menghilang tanpa jejak. Padahal aku sangat menyukainya. Tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Dan aku telah berubah menjadi seorang play boy.
Malam itu aku sedang makan malam dengan pacar baruku. Baru kemarin kami jadian. Entah apa yang membuatku menerima cinta gadis di depanku sekarang ini. Wajahnya memang manis. Tapi mulutnya cerewet sekali. Aku tidak tahan. Bagaimana tidak. Baru jadian satu hari saja dia sudah berani menyuruhku ini itu. Melarang berbagai aktivitas yang kusukai seperti bermain futsal atau bermain play station. Ibu dan ayahku saja tidak melarang. Asalkan itu tidak mempengaruhi prestasiku yang gemilang di sekolah.
“Nah, ini daftar yang harus kau lakukan dan yang tidak boleh kau lakukan selama aku menjadi pacarmu. Kuharap tidak ada komentar karena aku tidak suka dibantah,” kata Jenny sambil memberikan secarik kertas berisi tulisan padaku.
Kedua mataku melebar ketika membacanya. “Apa – apaan ini? Kenapa kau lebih melarangku untuk tidak melakukan hal – hal yang kusukai? Apa?! Aku harus mengantar dan menjemputmu kemana pun kau pergi, menemanimu ke salon, shopping, diner setiap weekend harus tepat waktu. Apa ini tidak kelewatan? Pacar – pacarku yang dulu saja tidak pernah melarang atau mengaturku,” protesku marah. Ini sangat keterlaluan.
“Kau tak suka? Kalau begitu tak usah berpacaran denganku,” cetus gadis itu merajuk.
“Okey. Lebih baik kita putus saja. Aku tak suka kau perintah sesukamu.” Aku bangkit dari duduk.
“Apa?! Kau bercanda, ya?.” Jenny melotot.
“Aku serius. Mulai detik ini juga kita putus!,” tegasku akhirnya. Lalu meninggalkan restaurant.
“Arand! Kau tidak bisa begini padaku.” Masih kudengar suara Jenny berteriak padaku tetapi tidak kutanggapi. Aku terus berjalan menghampiri mobilku dan pergi.
***
Aku jomblo lagi. Tapi kali ini aku malas mencari koleksi baru lagi. Aku bosan. Toh tidak ada seorang dari mereka yang memahamiku. Menurutku para gadis itu angkuh dan matrelialistis. Semuanya sama saja. Kalau matre sih tidak masalah. Hanya saja aku tidak suka cara mereka mengaturku seperti boneka. Aku adalah seorang pria sekaligus yang pantas menjadi pemimpin para wanita. Tapi mengapa wanita lebih suka mengaturku? Kadang aku benci dan muak dengan mereka. Wanita itu egois. Aku berjanji tidak akan mencari koleksi lagi.
Hari – hari lajangku pun dimulai. Memang lebih baik seperti itu. Karena dengan begitu aku bebas melakukan apa pun yang kusukai tanpa ada yang mengaturku. Aku lebih aktif berkumpul bersama teman – teman sepermainanku yang juga tidak memiliki kekasih. Kami para pria asyik dengan obrolan masing – masing yang terkadang konyol. Akan tetapi aku menikmatinya.
Suatu hari, aku dipaksa temanku untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Tadinya ingin kutolak tetapi karena dia teman lamaku dan kami sudah lama sekali tidak berjumpa, akhirnya kuputuskan untuk datang juga.
Di keramaian pesta itu, banyak wajah – wajah asing yang belum kukenal. Jadi aku memilih menyendiri ke tempat lain. Beberapa gadis melirik tertarik padaku. Sesekali mereka melempar senyum padaku. Memberi sinyal agar aku menghampiri mereka. Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik.
“Hei, Arand!.” Tiba – tiba seseorang memanggilku. Aku menoleh. Kulihat Philip, teman lamaku melambailkan tangan, menyuruhku datang ke tempatnya. Aku pun kesana tanpa mempedulikan lirikan gadis – gadis itu.
Philip tersenyum lebar padaku. Kemudian merangkulku.
“Hei. Sudah lama sekali tidak bertemu. Apa kabar kau sekarang? Kelihatannya kau sendiri?,” kata Philip riang.
Aku hanya tersenyum simpul. “Baik. Kau sendiri apa kabar?.”
“Seperti yang kau lihat. Oh, ya. Ada yang ingin kuperkenalkan padamu,” cetus Philip lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Sayang!.” Philip melambai kepada seorang gadis cantik yang sedang duduk di dekat kolam. Gadis itu terlihat anggun dengan gaun long dress putih. Dia berjalan menghampiri kami.
Deg. Jantungku seperti hampir copot ketika dia mendekat. Aku mengenalnya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa.
“Sayang, kenalkan ini teman lamaku. Arand. Kami dulu bertetangga dan aku sering main ketempatnya,” ujar Philip dengan sebelah tangan melingkar ke pinggang gadis itu. Gadis itu tersenyum manis padaku.
“Hei, senang bertemu denganmu,” tukas gadis itu ramah. Aku membeku seketika. Tubuhku terasa kaku. Aku masih tidak percaya akan penglihatanku. Dia, wanita pujaanku, bidadariku, Irina. Irina yang itu.
Philip yang melihat reaksi kagetku sepertinya tidak menyadari kegugupanku. Bahkan dia tidak menyadari gelas yang kupegang bergetar dan hampir jatuh ke lantai.
“Philip, aku mau ke toilet sebentar.” Gadis itu bersuara lagi.
“Okey.” Philip mendaratkan ciuman ke pipi gadis itu. Aku terkesiap. Gadis itu tidak menolak. Lantas dia melenggang pergi. Pandanganku tak lepas dari sosoknya hingga akhirnya sosok itu menghilang dari keramaian.
“Bagaimana? Dia cantik, bukan?,” kata Philip bangga. Seolah mengerti apa yang kupikirkan. Aku hanya mengangguk. Tapi pikiranku masih tertuju pada gadis tadi.
“Dia siapamu?,” tanyaku konyol. Sudah jelas panggilan “sayang” tadi menunjukkan bahwa gadis tadi adalah miliknya.
“Tentu saja kekasihku. Namanya Marina. Cantik seperti namanya, bukan?.”
Kedua mataku terpejam. Kurasakan sakit menghujam jantung hatiku. Lagi – lagi aku harus patah hati dengan gadis yang sama. Sungguh memalukan.
***
Hari – hari berikutnya, aku pergi mencari keberadaan Irina. Philip bilang gadis itu mengikuti kursus balet yang letaknya tidak jauh dari taman kota. Aku pun pergi kesana. Kutanyai setiap orang, mereka bilang tidak mengenal Irina. Apa kah mungkin Philip bohong padaku? Tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Kemudian aku memaksa masuk kedalam untuk mencari sendiri di sekolah balet itu. Tetapi sosok yang kucari tidak ada disana.
Seminggu berlalu. Kurasakan aku mulai putus asa. Sudah lama cinta itu kucari, dan sekarang dia datang kembali dalam hidupku namun bukan untukku. Aku begitu merindukan dia sampai dadaku terasa sesak. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan berbicara dengannya tentang alasannya dulu meninggalkanku.
Tanpa kusadari, tiga hari menjelang kelulusan. Satu bulan itu kulakukan untuk mencari keberadaan Irina yang belum berhasil kutemukan. Sudah beberapa hari aku mengurung diri didalam kamar dan mogok melakukan aktifitas lain. Aku juga tidak nafsu makan. Dan itu membuat kedua orang tuaku khawatir. Sudah tiga hari mereka membujukku untuk keluar dari kamar dan menyuruhku makan. Tetapi aku tidak ingin bertemu siapa pun. Sampai akhirnya aku jatuh sakit dan pingsan. Ayahku yang menemukan diriku pingsan didalam kamar segera membawaku ke rumah sakit. Dokter bilang aku terkena sakit tifes. Belum lagi ada peradangan di lambungku. Kedua orangtuaku sempat panik. Mereka akan membayar berapa pun agar aku berhasil sembuh. Ibu sempat menangis melihat kondisi malangku yang terbaring lemas di tempat tidur dengan wajah pucat. Aku kasihan melihatnya.
“Ibu… Maafkan aku yang tidak berbakti kepadamu. Maafkan aku yang selalu membuat kalian cemas. Aku memang anak yang tidak berguna. Ibu, maafkan aku…,” ucapku lirih dan lemah. Suara itu nyaris tertelan di tengorokanku namun kupaksa bicara.
Ibu kembali menangis. Sedangkan ayahku hanya menatapku nanar.
“Kau kenapa, sayang? Apa yang membuatmu menderita seperti ini? Katakana pada ibu.” Ibu membelai kepalaku sambil terisak.
Aku hanya tersenyum. Walaupun aku bercerita pun tidak akan mengubah apa – apa. Dia tidak akan pernah kembali padaku.
“Ibu, ayah… Terima kasih untuk semua yang kalian berikan padaku. Aku bersyukur menjadi anak kalian. Terima kasih.” Itu pesan terakhir yang ku ucapkan.
Pandanganku kembali menerawang ke langit – langit kamar rawat yang serba putih itu. Kurasakan bayangmu menari – nari dalam ingatanku. Senyummu, candamu, semuanya seperti candu. Tetapi, mengapa tak seindah yang kuharapkan? Padahal aku mencintaimu. Dan aku rela melakukan apa pun untukmu. Tapi mengapa? Perlahan pandanganku kabur. Gelap dan aku tidak bisa melihat apa pun.
***
Lima e-mail baru di inbox yahoo mail Marina. Dibacanya pesan – pesan itu dengan tatapan tidak percaya. Sudah lama sekali ia tidak membuka e-mail lamanya itu karena terlalu sibuk dengan latihan balet dan masalah keluarganya.
Sender 2 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Kau dimana?
Sender 13 Maret xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Mengapa kau pergi, Irina? Aku mencarimu
Sender 14 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Happy Valentine! I love you…
Sender 5 januari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Apakah itu kau? Mengapa harus dia?
Sender 2 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Aku mencintaimu…
Detik kemudian air matanya bergulir. Nafasnya terasa sesak. Ia terduduk lemas. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Karena sudah terlambat untuk mengawalinya kembali. Karena ia sudah ada yang memiliki.
End
Autumn In London ( naskah lomba cerpen BWS 2010 )
Autumn In London
Oleh : Diyah Oktavia
Pagi hari yang cerah dengan kicauan burung – burung yang bernyanyi riang di atap rumah penduduk. Semilirnya angin musim gugur menerbangkan daun – daun yang menguning tak tentu arah. Pepohonan yang berderet rapi di tepi jalan kini mulai gundul hanya tinggal rantingnya. Walau begitu tidak membuat aktifitas penduduk menurun. Para orang tua masih giat bekerja demi menghidupi keluarganya. Anak – anak masih aktif dengan kegiatan belajarnya di sekolah. Belum ada yang libur. Setidaknya musim dingin masih datang beberapa minggu lagi.
Seorang gadis asia bertubuh jangkung sedang berlari menuju sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Lagi – lagi ia bangun kesiangan dan pastinya terlambat tiba di sekolah. Dan sialnya hari ini ia ada ujian Matematika yang diajar oleh Mr. Paddock. Pengajar yang terkenal killer di sekolahnya. Ketika tiba di depan sekolah, pintu gerbang telah ditutup. Ia mengumpat sekenanya lalu tanpa pikir dua kali pagar besi itu berhasil dipanjatnya dan mendarat di lapangan sekolah tanpa kurang suatu apa – pun. Hal yang sudah biasa ia lakukan jika terlambat ke sekolah.
Namanya Kaori . Seorang murid tauladan di Westminster High School. Biang keributan di sekolah yang terkenal arogan, cuek, dan jago berkelahi. Dia mantan seorang kapten Judo di Jepang, namun sudah tidak lagi sejak kedua orang tuanya bercerai dan ikut ayahnya pindah ke London. Sedangkan ibunya masih tinggal di Jepang karena dia adalah orang Jepang. Kaori juga memiliki saudara kembar yang mirip dengannya. Tapi saudara kembarnya itu harus tinggal bersama ibunya di Jepang. Dan ia sendiri harus ikut ayahnya. Entah bagaimana kabar mereka. Kaori tidak tahu. Karena setelah perceraian itu dan terpisah, ayahnya melarang untuk berhubungan dengan ibunya atau keluarga yang ada di Jepang. Ayah Kaori sendiri adalah orang Jerman, berkulit putih, rambut pirang, dan bermata abu - abu. Uniknya, ia mewarisi kedua gen orang tuanya. Ia bertubuh jangkung, berkulit kuning coklat, berambut hitam lurus, berhidung mancung, dan bermata abu - abu seperti milik ayahnya. Sedangkan saudara kembarnya berhidung kecil dan bermata hitam gelap seperti ibunya.
Kaori kini berlari menuju koridor sekolah dan memasuki lorong menuju ke kelasnya. Ketika sampai di ambang pintu kelas, ia mengintip sebentar. Ternyata Mr. Paddock sedang membagikan lembar ujian kepada murid – murid di kelas tersebut. Kaori mengumpat lalu ia memberanikan diri masuk kedalam ruang kelas dengan cengiran lebar menyapa pengajarnya.
“Good morning, Sir,” sapa Kaori memasang senyum termanisnya, berharap kali ini Mr. Paddock tidak memberi hukuman padanya.
“Kau terlambat, Miss Kaori. Duduk lah. Aku belum mulai ujiannya,” kata Mr. Paddock menyuruh Kaori duduk. Kaori mengangguk dengan hati lega. Sebelum ia mengucapkan terima kasih, Mr. Paddock bersuara lagi. “Selesai mata pelajaranku nanti kau harus ke ruang kepala sekolah.”
Kaori mendelik kaget. “What?!.”
“Tidak ada protes. Duduk lah dan mulai lah mengerjakan soalnya,” ujar Mr. Paddock sambil memberikan lembaran soal kepada Kaori. Kaori menerima dan berjalan menghampiri bangukunya lalu duduk dengan wajah lesu.
“Kaori. Ssstt... Kaori,” panggil seorang pemuda di belakang Kaori. Gadis itu menoleh. “Aku minta jawabanmu, ya? Aku tak sempat belajar semalam,” bisik Aron sedikit memaksa. Selalu begitu.
Kaori mendengus. “No. Kali ini tidak.” Kemudian ia sibuk mengerjakan soal.
***
Lonceng berdenting tiga kali. Semua murid berhamburan keluar kelas. Hari sudah terlalu siang dan kini waktunya mereka pulang. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak langsung pulang ke rumah. Ada yang main di taman, supermarket, bahkan tempat hiburan.
Kaori sedang berjalan malas setelah mendapat hukuman dari kepala sekolah untuk membantu di perpustakaan sekolah. Dan itu akan membuatnya bertemu dengan ice – man, Lee Eu Sung. Pemuda yang memusuhinya sejak menjadi murid di Westminster High School. Eu Sung, tidak tahu mengapa selalu bersikap dingin padanya. Sialnya, ternyata Eu Sung juga tetangganya. Ayahnya adalah teman baik ayah pemuda itu. Dan celakanya lagi, para orang tua itu menyuruh mereka akrab. Akrab dalam apa? Sungguh Kaori muak padanya. Benci sekali melihat wajah angkuh Eu Sung. Apalagi tadi pemuda itu sempat memergokinya di ruang kepala sekolah dan mendapat hukuman. Pasti diam – diam pemuda itu menertawakannya. Benar – benar menyebalkan.
Kaori sudah sampai di rumah dan hendak tidur siang. Tiba – tiba ponselnya berdering. Ternyata ayahnya yang menelepon. Kaori mengangkat telepon itu.
“Hay, Dad. Ada apa?,” jawabnya datar.
“Kau dimana, dear?,” sahut Ayahnya dari telepon.
“Di rumah. Aku mau tidur siang. Lelah. Ayah masih di kantor?.”
“Ayah lagi di Airport. Ayah ada tugas keluar kota. Kau tak apa di rumah selama aku pergi?.” Nada lelaki itu terdengar cemas.
“Aku akan baik – baik saja. Ayah tidak perlu cemas.”
“Baiklah. Kusuruh Eu Sung menemanimu. Tadi aku selesai meneleponnya dan dia sanggup menjagamu selama aku pergi.”
“Apa?! Kenapa harus Eu Sung? Tidak, Ayah. Aku akan baik – baik saja selama ayah pergi. Tak perlu menyuruh Eu Sung menjagaku,” protes Kaori geram.
“Ayah hanya ingin memastikan kau akan baik – baik saja. Jika dengan Eu Sung akan membuatku merasa lebih baik selama berada di luar kota. Kau anak gadis. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu.” Terdengar suara ayahnya mendesah.
“Baiklah. Okey. Ayah tidak perlu berpikir yang macam – macam. Cepat lah selesaikan pekerjaan ayah disana dan pulang,” ujar Kaori cepat. Itu lebih baik dari pada ia harus berlama – lama dijaga Eu Sung. Pastinya pemuda itu akan menguntitnya sepanjang hari selama ayahnya ada di luar kota. Seperti yang pernah pemuda itu lakukan tahun lalu ketika ayahnya lagi – lagi mendapat tugas keluar kota. Dan biasanya laki – laki itu baru akan kembali beberapa minggu kemudian setelah pekerjaannya di luar kota beres. Mengingat ayah Kaori adalah seorang detektif cukup terkenal di London dan terkadang harus meninggalkannya sendiri di rumah untuk menyelesaikan sebuah kasus.
***
Hari berikutnya, seperti yang Kaori duga bahwa Eu Sung selalu mengawasinya. Terkadang mengikutinya di Cafetaria ketika jam istirahat. Padahal mereka sudah berdua di perpustakaan sekolah selama istirahat berlangsung dan itu harus ia lakukan selama seminggu dalam rangka hukuman dari kepala sekolah. Ugh. Rasanya kesal dan jengkel. Kaori sendiri selama di perpustakaan hanya berbicara seperlunya dengan Eu Sung kalau ada yang penting saja.
Begitu juga sepulang sekolah itu yang biasanya ia pulang sendiri, kini pemuda itu berjalan di belakangnya. Hal itu membuat Kaori semakin panas. Alhasil ia mempercepat langkah agar cepat sampai di rumah dan mengunci pintu sehingga pemuda itu tidak dapat masuk kedalam. Jika ia berada di dalam kamar dan melihat Eu Sung sedang berdiri di balkon kamar, ia cepat – cepat menutup tirai jendela kamarnya. Kebetulan jendela kamar mereka berhadapan. Bila tirai jendela di buka akan tampak Eu Sung yang sedang menatap datar rumahnya atau Eu Sung yang sedang mengelap camera sambil membidik gambar.
Tidak terasa tiga tahun sudah mereka bertetangga. Selama tiga tahun juga mereka berada di sekolah yang sama. Dan sikap Eu Sung tidak ada yang berubah. Masih tetap dingin seperti dulu ketika pertama kali ia bertemu. Terkadang Kaori tidak mengerti sikap dingin pemuda itu yang lebih banyak diam. Tetapi tidak pernah ia mendengar pemuda itu mengeluh ketika disuruh untuk menjaganya.
***
Suatu hari Kaori sedang berjalan – jalan di taman. Ia baru saja membeli bahan untuk membuat spagety. Tadi sewaktu akan pergi ia memantau keadaan terlebih dahulu dan tidak melihat tanda – tanda Eu Sung ada di rumah. Jadi ia bebas pergi sesuka hatinya tanpa harus ditemani pemuda itu. Menyenangkan rasanya. Ia menghirup udara musim gugur sambil tersenyum puas.
Tiba – tiba ada tiga sekawanan preman menghadang langkahnya. Kaori berhenti dan melihat sekitarnya. Sepi. Tak seorang pun orang yang lewat. Hanya mereka berempat di jalan itu. Namun bukan Kaori namanya jika mudah takut atau menjerit minta tolong.
“Hai, manis. Mau kemana?,” tanya Si Pucat menyeringai menggoda Kaori.
“Mari kita bersenang – senang, sayang. Kau pasti suka,” kata Si Botak sambil mencolek lengan Kaori. Sedangkan yang berambut gondrong tertawa lalu senyum – senyum memandang penuh nafsu ke arah gadis itu.
“Minggir. Biarkan aku lewat,” perintah Kaori dingin.
“Hahaha... Galak juga kau, ya? Tambah sexy saja kalau kau marah, manis,” colek Si pucat. Ketiganya tertawa.
Ketika mereka mencoba mendekapnya, Kaori segera memberi tendangan ke kaki Si Jangkung. Lalu meninju rahang kanan Si Botak. Mereka meraung kesakitan. Sebelum ia sempat berlari, Si Pucat segera meraih lengan Kaori dan mencekal kedua tangan gadis itu. Belanjaan Kaori jatuh. Salah satu tangan Si Pucat mencekik lehernya, membuat Kaori sulit bernafas.
“Kau mau coba lari? Sekarang coba saja!,” geram Si Pucat.
“Dasar anak ingusan. Mau mencoba melawan kami? Cari mati kau,” umpat Si Botak.
“Sudah. Bawa saja dia ke tempat kita. Lalu main – main.” Si Jangkung menyeringai galak. Tidak senang dilawan.
Kaori tidak siap. Mereka terlalu kuat. Kemampuan beladirinya tidak akan cukup mampu mengalahkan mereka bertiga. Dan ketika mereka hendak membawa Kaori, sebuah hantaman keras mendarat di pipi kanan Si Pucat. Membuat pria itu tersungkur ke tanah dan mengaduh. Ternyata Lee Eu Sung datang pada waktunya. Pemuda itu tidak puas meninju Si pucat dan memberi hujan tendangan keras kearah perut pria itu yang mengaduh kesakitan dengan mulut berdarah. Melihat temannya roboh, Si Botak dan Si Jangkung kini menyerang Eu Sung. Eu Sung dengan sikap menangkis serangan mereka dan menendang perut Si Botak dan meninju wajah Si Jangkung membuat mereka mundur tiga langkah kebelakang. Eu Sung tidak diam saja. Ia lantas menarik lengan Kaori membawa gadis itu pergi dari sana. Mereka berlari sekuat tenaga sebelum ketiga preman itu sempat mengejar mereka. Mereka terus berlari hingga akhirnya mereka sampai di pasar tradisional yang terletak dekat danau. Eu Sung membawa Kaori pada keramaian itu lalu mereka masuk ke sebuah toko baju untuk bersembunyi. Eu Sung sempat mengintip. Ketiga preman itu sudah tidak mengejar mereka lagi.
“Kau tak apa – apa?,” tanya Lee Eu Sung bersuara.
“Aku baik – baik saja,” ucap Kaori datar. Untung saja tadi Eu Sung segera datang. Kalau tidak ia tidak tahu bagaimana nasibnya. Sekarang ia dapat bernafas lega.
“Ayo, pergi!,” kata Eu Sung sambil menarik Kaori keluar dari toko dan menyusuri jalan besar dan tetap menyusup pada keramaian agar mereka tidak terlihat oleh ketiga preman tadi. Ketika mereka berjalan tiba – tiba tubuh Eu Sung tersungkur ke depan. Pemuda itu roboh dengan darah mengalir dari pinggangnya.
“Eu Sung!,” jerit Kaori kaget dan memangku Eu Sung yang terluka. Kaori sempat melihat Si Botak ada di dekatnya dengan tangan membawa pisau lalu menyeringai dan pergi. Tidak ada yang tahu pasti kejadian tersebut. Kaori hanya dapat berteriak agar ada yang membantu menangkap kawanan si Botak dan menelepon ambulance. Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Eu Sung kedalam mobil ambulance, Kaori ikut serta. “Eu Sung. Bertahan lah. Kau harus kuat.” Kaori mulai terisak saat wajah Eu Sung memucat. Darah Eu Sung masih mengalir.
Lee Eu Sung menatap Kaori tanpa berkedip. Baru kali ini ia melihat wajah Kaori dari jarak yang begitu dekat. Baru kali ini ia melihat wajah itu cemas dan menangis karenanya. Biasanya hanya ekspresi dingin yang dilempar kepadanya. Tapi kali ini ia melihat ekspresi lain Kaori yang belum sempat dilihatnya. Gadis itu menatapnya sedih dengan air mata membasahi pipi mulus gadis itu. Ingin rasanya Lee Eu Sung menyeka air mata itu namun ia terlalu lemah untuk mengangkat tangannya. Ia hanya mampu menatap mata abu – abu gadis itu dalam. “Akhirnya kau melihatku,” hatinya berbisik. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Kemudian perlahan pandangannya kabur dan gelap.
***
Seminggu kemudian, Eu Sung sudah diperbolehkan pulang. Ayah Kaori juga tadi menelepon bahwa pria itu akan sedang menuju Airport menuju London. Ternyata kabar Eu Sung masuk rumah sakit dan sampai di telinga ayah Kaori. Mungkin ayah Eu Sung yang memberitahu sehingga ayah Kaori mempercepat pekerjaannya di luar kota dan kembali ke London menemui putri yang amat dikasihinya.
Siang itu kaori menjenguk Eu Sung di rumah depan. Ayah Eu Sung bilang kalau putranya ada di dalam kamar. Ketika Kaori membuka pintu kamar Eu Sung, kamar itu kosong. Eu Sung tidak ada di dalam? Mungkin sebaiknya ia menunggu didalam saja. Kaori memberanikan diri masuk kedalam. Ia sempat kaget ketika melihat gambar dirinya dengan berukuran besar tertempel di dinding kamar Eu Sung. Kapan Eu Sung mengambilnya? Lalu ia melihat sebuah album yang ditaruh sembarangan di atas meja. Kaori membukanya dan duduk di tepi tempat tidur. Halaman pertama foto dirinya yang sedang menaiki pagar sekolah. Lalu yang sedang berkelahi dengan Robin and the gank. Berikutnya wajah close up Kaori yang sedang tertawa. Di album itu semuanya berisi fotonya dengan macam – macam ekspresi.
Tiba – tiba pintu toilet terbuka. Eu Sung muncul dari dalam dan kaget melihat Kaori yang juga menatapnya kaget.
“Eh. Sorry.” Kaori buru – buru menaruh album itu ke atas meja di ikuti pandangan curiga Eu Sung. “Bagaimana kabarmu hari ini?,” tanya gadis itu salah tingkah. Tentu saja pertanyaan itu sudah ia ulang selama seminggu ini ketika Eu Sung masih berada di rumah sakit. Kaori selalu datang membawakan buah – buahan untuk Eu Sung. Mereka juga sempat bercanda. Dan Kaori baru sadar kalau Eu Sung ternyata menyenangkan. Pemuda itu bercerita apa saja dan terkadang merapikan rambut Kaori yang dimainkan angin yang masuk kedalam ruang rawat. Seminggu itu mereka seperti teman akrab dan bukan lagi musuh seperti anggapan Kaori. Kaori sendiri sudah tidak lagi membenci Eu Sung. Malah ia merasa nyaman didekat pemuda itu.
“Ternyata kau penggemar beratku, ya?,” ujar Kaori memecah keheningan sambil tersenyum simpul.
Eu Sung hanya menatap Kaori datar, tidak langsung menjawab. Pemuda itu kini duduk disebelahnya.
“Kaori, aku senang meliatmu tersenyum,” ucap Eu Sung datar. “Kupikir kau membenciku.” Ditatapnya Kaori dalam. Tatapan teduh dan lembut.
“Tidak, Eu Sung. Kau orang baik. Terima kasih karena menolongku waktu itu sampai kau harus terluka karena aku,” jawab Kaori jujur. Ia balas menatap Eu Sung.
“Bukan salahmu,” sahut Eu Sung membenarkan. Kemudian hening.
“Kaori. Seandainya waktu itu tidak terjadi, apa kau masih mau menatapku seperti ini?.” Pertanyaan Eu Sung itu membuat kedua mata Kaori melebar dan kaget. “Kau tahu, Kaori. Aku sempat berpikir, bagaimana supaya kau melihatku? Bagaimana caranya supaya kau tersenyum padaku? Kau begitu berkilau sampai aku hanya berani memandangmu dari jauh. Aku tak berani mendekatimu karena takut kau akan lari. Melihat caramu memandangku saja sepertinya kau membenciku. Kupikir apa salahku sampai kau begitu benci padaku.”
“Aku tak benci padamu...,” sergah Kaori cepat sambil memalingkan pandangan ke tempat lain.
“Aku tak pernah bisa mengerti kau, Kaori... Kupikir jika aku mati waktu itu karena menolongmu, aku akan sangat bahagia karena kau akhirnya melihatku. Aku senang sekarang kau berani menatapku apalagi tersenyum padaku. Terima kasih...”
“Eu Sung, apa maksudmu?.” Kaori segera menatapnya.
“Kaori... Apa kau benar – benar lupa padaku?.”
“Aku tidak mengerti... Bukankah kita sudah kenal dan bertetangga selama empat tahun ini?.”
Eu Sung hanya tersenyum simpul. “Ternyata kau lupa, ya.”
“Kau bicara apa, sih?,” protes Kaori senewen.
“Apa kau ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu? Di acara tahun baru di Kyoto? Kau pernah membelaku dari teman – teman yang mengolokku waktu itu. Aku masih ingat jelas kau gadis kecil berkepang dua dengan pakaian kimono lalu melempar geta ( sandal kayu orang Jepang ) kepada salah seorang temanku sampai kepalanya bocor. Lalu kau menarikku dan mengajakku melihat kembang api bersama sambil makan takoyaki. Dulu kau sangat cerewet dan kau orang yang periang,” kata Eu Sung pajang lebar. Kemudian tersenyum lebar sambil menatapku yang kini melongo mendengar ceritanya. “Sekarang kau ingat?.”
“Astaga. Bagaimana mungkin itu kau? Itu sudah lama sekali. Aku saja tidak begitu ingat. Lagi pula waktu itu aku belum tahu siapa namamu karena saudara kembarku memanggilku pulang.”
Lee Eu sung kembali tersenyum lebar. “Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan senyum polosmu, Kaori.”
Kemudian mereka tertawa dan mengenang masa – masa yang terlewatkan. Selama tiga tahun Kaori membenci Lee Eu Sung. Mengira pemuda itu sedingin es dan aneh dan juga mengiranya penguntit. Ternyata Eu Sung adalah bagaian dari masa kecilnya yang terlupakan. “Lee Eu Sung. Akan kuingat selalu hari ini,” ucap Kaori dalam hati.
Angin kembali berhembus. Meniup daun – daun kemerahan. Menari – nari dibawa angin kemudian jatuh ke tanah dan kembali berlari.
End
Bersinarlah, Hikari ! ( Spirit To Hikari ) <==== Naskah Lomba Cerpen BWS 2010
oleh Tav Emerald pada 03 November 2010 jam 20:18
Bersinarlah, Hikari !
Oleh : Diyah Oktavia
Ciiiiiiitttt!!! Suara rem menjerit.
“Hei. Kau tak punya mata, ya?,” teriak seorang pemuda dari dalam mobil BMW hitam. Hampir saja ia menabrak pejalan kaki itu yang menyeberang sembarangan. Untung lah dia berhasil mengerem mobilnya. Gadis itu kini menghampiri mobil itu dan melotot pada Hideki.
“Kau yang buta! Sudah lihat itu lampu merah masih ngebut juga. Kau pikir ini jalan nenekmu, ya? Dasar kau tak punya otak!,” maki gadis itu kasar sambil menendang body mobil dengan sepatu boot-nya.
“Hei. Kau apakan mobil ku? Ini mobil mahal tahu.” Hideki mendelik pada gadis gila yang kini ngeloyor begitu saja ke seberang jalan. “Dasar gadis gila!,” umpatnya. “Sial!” Lalu ia pun kembali menjalankan mobil karena lampu sudah berganti warna. Ia tidak ingin terlambat ke acara makam malam bersama keluarganya di sebuah restaurant seafood ternama. Mereka pasti sudah menunggu.
Di lain tempat, Hikari mengomel tidak jelas ketika sampai di rumah sakit umum di daerah Tokyo. Ia kini berada di ruang rawat ibunya.
“Kau kenapa, Hikari? Baru datang kau sudah mengomel,” tegur ibunya. Hikari cemberut.
“Tidak apa – apa. Hanya kesal saja dengan orang di jalan,” cetus Hikari kemudian. Ia mengambil sebuah apel merah yang terletak di atas meja lalu mengupasnya. “Ibu tak usah berpikir yang macam – macam supaya ibu cepat sembuh,” lanjutnya sambil tersenyum simpul kepada ibunya. Hikari hanya tidak ingin penyakit perempuan itu kambuh dan bertambah buruk karena ulahnya.
Sudah tiga bulan ibunya dirawat di rumah sakit itu karena sakit ginjal. Dokter bilang kalau ibunya tidak segera mendapatkan cangkok ginjal yang cocok bisa berakibat fatal. Ia tidak mau kehilangan perempuan yang telah melahirkannya itu. Tidak lagi setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu. Sejak saat itu ibunya merangkap tugas sebagai ayah dan mencari nafkah untuk menghidupi mereka. Perempuan itu juga yang membiayai sekolah Hikari. Dan sekarang ibunya terbaring lemas di tempat tidur membuat dadanya semakin sesak dan sedih.
Setelah pulang dari rumah sakit, Hikari kembali bekerja di sebuah restourant yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kini setiap malam ia harus kerja banting tulang untuk membayar biaya perawatan ibunya. Memang gajinya tidak seberapa. Tapi setidaknya ibunya bisa mendapatkan perawatan yang baik di rumah sakit itu. Begitulah rutinitasnya setiap hari. Pukul lima pagi ia harus bangun dan mengambil kue ke tempat Bibi Ozawa untuk dijual di kantin sekolah. Hasilnya lumayan lah untuk uang jajannya sehari – hari. Kalau soal biaya pendidikannya, ia tidak perlu cemas karena ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah.
***
Pagi itu Hikari sudah tiba di sekolahnya yang terletak di pinggir kota Tokyo. Sekolah seni. Disitulah ia belajar untuk berhasil menjadi pianist bertalenta. Cukup banyak murid di sekolah itu yang mayoritasnya anak orang kaya. Namun Hikari yang memang keras kepala dan berpendirian keras itu tidak mudah dikucilkan begitu saja oleh siswa yang lain. Gadis itu cukup disegani di sekolah karena kemandiriannya dan kecerdasan yang ia miliki. Ia juga memiliki beberapa teman yang menyayanginya di sana. Jadi ia tidak perlu merasa kesepian atau sedih.
Ketika akan masuk kelas, tiba – tiba seseorang tidak sengaja menabraknya. Hikari hampir saja jatuh ke lantai ketika seseorang berhasil menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mereka pun saling tatap. Hikari buru – buru melepaskan diri setelah ia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Hikari sambil membungkukkan badannya sedikit.
“Bukan masalah,” jawab Hideki datar sambil menatap wajah Hikari dengan seksama. Sepertinya ia pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi dimana. Lalu selintas memori berhasil diingatnya. “Ah. Kau gadis yang waktu itu memakiku di jalan, kan?.”
Hikari mendelik. Salah tingkah karena ditatap seperti itu. Beberapa temannya yang melihat kejadian itu berkerumun di belakang. Siapa juga yang tidak mengenal Hideki Hatori dari kelas music, pemuda tampan dan terkaya di sekolah seni tersebut? Seluruh murid pun pasti tahu.
“Hei. Kau yang hampir menabrakku,” sambar Hikari tidak mau kalah.
“Kau juga sekolah disini?,” cetus Hideki.
“Memangnya kenapa? Ini bukan sekolah milikmu, kan?,” ketus Hikari. “Jangan mentang – mentang kau orang kaya bisa seenaknya menindasku. Aku tak selemah yang kau bayangkan. Ingat itu,” lanjutnya galak. Lalu ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya diikuti belasan pasang mata yang kini balik memandang Hideki. Pemuda itu pun juga segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke ruang kelasnya. Di kelas musik.
***
Hikari sedang sibuk menghafal naskah drama yang akan dibawakannya di pentas seni bulan depan. Guru teaternya telah menunjuknya berperan sebagai putri tidur. Kali ini pentas teater akan di adakan di gedung pentas kesenian di taman kota. Dan ia harus berhasil menguasai naskah tersebut dan memerankan perannya dengan baik. Teater nanti berjudl “Snow White.”
“Kau sedang membaca apa?” Tiba – tiba suara ibunya membuat pandangan Hikari menoleh menatap wajah cantik perempuan di depannya itu.
“Menghafal naskah. Bulan depan ada pertunjukan teater, Bu. Aku jadi pemeran utamanya,” jawab Hikari. “Ibu butuh sesuatu?.”
Ibu Hikari menggeleng dan tersenyum tipis. “Tidak. Lanjutkan saja menghafalnya.” Hikari balas tersenyum dan kembali menekuni kertas berisi tulisan – tulisan itu.
***
Hari sudah berganti petang. Hideki sedang melintasi sebuah restaurant seafood dan langkahnya terhenti ketika menangkap sosok gadis yang ia kenal. Dia kan Si Galak itu. Oh, jadi dia kerja part time disini rupanya, batinnya. Lalu muncul ide jahil di otaknya. Ia masuk kedalam dan duduk di meja nomor empat.
“Pelayan!,” serunya memanggil. Hikari yang kebetulan tidak melayani pembeli pun segera mendatangi meja itu dan kaget melihat Hideki yang tersenyum mengejeknya.
“Mau pesan apa?,” tanyanya dengan wajah dingin.
“Jangan galak begitu. Aku disini mau makan. Aku bisa lho melaporkan kepada atasanmu karena kau sudah tidak ramah pada pembeli,” seringai Hideki senang. Hikari melotot sekilas. Ia hampir saja memukul pemuda itu ketika pandangan atasannya mengarah pada mereka. Hikari buru – buru mengurungkan niatnya dan berpura – pura melayani Hideki dengan baik meskipun dadanya bergemuruh karena kesal. Hideki berhasil mengerjainya habis – habisan, membuat Hikari bertambah sebal dengan pemuda itu. Awas kau pemuda sombong!, batin Hikari geram.
Setelah kejadian itu, entah mengapa ia sering menemukan Hideki di tempat yang sama seperti kebetulan. Bahkan ia sempat memergoki Hideki yang sedang membututinya sampai ke rumah dengan mobil BMW-nya. Hikari juga mengatainya sebagai penguntit karena tidak sopan mengikuti seorang gadis. Tetapi hal itu tidak membuat pemuda itu jera. Pemuda itu malah mengarang berbagai cerita yang tidak masuk akal yang membuatnya naik darah. Namun sebaliknya justru hal itu membuat Hideki semakin tertarik dan ingin mengenal Hikari lebih jauh.
Suatu hari ketika Hikari baru keluar dari rumah sakit, tiba – tiba pemuda itu ada di seberang jalan dan berniat memberinya tumpangan.
“Kau mau kemana? Biar kuantar,” kata Hideki menawarkan diri.
“Tidak. Terima kasih. Aku bisa naik bus sendiri,” tolak Hikari lagi – lagi bersikap dingin.
“Ayo lah. Aku tahu kau mau pergi ke tempat kerja. Lagi pula langit sedang mendung. Dari pada nanti kau terlambat karena terjebak macet, kan?.” Hideki semakin senang ketika akhirnya Hikari naik kedalam mobilnya.
“Bagaimana kabar ibumu?,” tanya Hideki membuka topik pembicaraan.
“Tidak begitu baik.”
“Maafkan aku kalau pertanyaanku tadi membuatmu sedih. Memangnya ibumu sakit apa?.” Kali ini Hikari menoleh menatap pemuda itu.
“Sudah sejak kapan kau menguntitku? Sampai masalah ibuku pun kau harus tahu,” ujar Hikari dengan nada tinggi. “Aku sudah pernah bilang padamu jangan campuri urusanku.”
“Baiklah. Tapi kupikir kamu butuh bantuan.”
“Memangnya kau bisa bantu apa? Ibuku sekarat dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Kau pikir karena kau orang kaya kau bisa menginjak harga diriku? Aku tahu kau sama dengan mereka. Hanya mengeruk keuntungan dari kami yang orang miskin,” cacar Hikari membuat Hideki mengerem mobilnya mendadak. “Kau mau membunuhku, ya?!.” Hikari melotot. Hampir saja jantungnya berhenti karena kaget.
“Kau sudah selesai bicara? Dengar. Aku tidak bermaksud berbuat jahat padamu. Aku hanya ingin membantumu. Karena kau juga temanku. Hanya itu,” seru Hideki tegas.
“Teman katamu? Sejak kapan? Kau dan teman – temanmu itu sama saja piciknya.”
“Aku tak sepicik itu! Aku juga punya perasaan. Apa salahnya aku membantumu? Kulihat kau hanya dengan ibumu dan kau pasti butuh bantuan untuk biaya rumah sakit. Setidaknya beri aku kesempatan untuk berbuat baik.”
“Okey. Sekarang kau sudah tahu siapa aku. Sebutkan saja apa maumu. Setelah itu jangan kau ganggu hidupku lagi.” Mereka pun saling pandang. Hideki terdiam beberapa saat.
Tiba – tiba Hikari terisak. Gadis itu menangis.
“Ibuku sedang sekarat. Dia butuh donor ginjal dan harus segera dioperasi. Kalu tidak nyawanya tidak akan tertolong. Aku tak mau kehilangan ibuku. Sudah cukup ayahku saja yang diambil,” ceracau Hikari dalam isak tangisnya.
Perlahan tangan Hideki terulur dan merangkul pundak Hikari yang bergetar. Rasa ibanya muncul.
“Sudah. Kau masih punya aku sebagai temanmu. Kau tak sendiri. Percayalah padaku,” hibur Hideki membiarkan tangisan Hikari memecah keheningan di jalan yang sepi itu.
***
Tibalah hari yang ditunggu. Semua murid teater sudah siap di aula untuk memulai pertunjukan. Tetapi Hikari sebagai pemeran utamanya belum muncul. Hideki yang juga disana sebagai pengiring musik tampak cemas. Entah sudah berapa kali ia melirik jam tangannya dan berjalan kesana kemari. Kemudian terdengar suara langkah orang berlari. Muncul lah Hikari dengan nafas tersenggal. Gadis itu segera meminta maaf kepada guru teaternya dan teman – temannya. Lalu masuk ke ruang ganti. Rasa cemas Hideki pun sirna berganti lega.
Sepuluh menit kemudian pertunjukan pun dimulai. Hikari naik keatas panggung dengan penampilan memukau. Pertunjukan drama Snow White itu pun berlansung dengan sukses. Tepukan meriah dari para penonton yang ada di aula tersebut menjadi penutupan pentas. Dan tiba lah pengumuman pemenang karakter terbaik. Hikari berhasil mendapatkan juara pertama sekaligus pemeran karakter terbaik. Gadis itu naik ke atas panggung dan mendapat sambutan meriah dari juri dan penonton. Apalagi ketika gadis itu menerima piagam penghargaan dan piala. Ratusan penonton bersorak bangga. Begitu juga dengan Hideki yang pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Hikari. Ia begitu mengagumi gadis itu. Gadis yang membuatnya selalu penasaran dan selalu berhasil membuat perasaannya tidak karuan. Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Perasaan ingin menjaga gadis itu pun muncul tanpa ia sadari. Ia hanya ingin gadis itu tersenyum bahagia seperti hari ini. Ia sungguh ingin menjaga senyuman manis itu.
Hikari sudah turun dari panggung disambut dengan ucapan selamat dari teman – temannya dan para pengajar. Mereka sempat berfoto – foto. Hideki menghampirinya setelah yang lain sibuk berfoto.
“Selamat, ya. Penampilanmu luar biasa,” kata Hideki memberi selamat.
“Terima kasih. Ini berkat dukunganmu juga.” Hikari tersenyum manis.
“Apa kau masih memendam rasa benci padaku?,” tanya Hideki kemudian.
Hikari menggeleng. “Aku tidak ingin membenci siapa pun lagi.”
Hideki tersenyum simpul. “Aku yakin suatu hari kau akan menjadi bintang besar.”
“Aku tak ingin menjadi orang terkenal. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”
“Lantas apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak itu?.”
Sebelum Hikari sempat menjawab, Satori, tetangga dekat Hikari menghampiri mereka dengan wajah panik dan sedih.
“Hikari, ibumu. Ibumu sekarat,” kata pemuda itu.
“Apa?.” Seketika darah gadis itu seperti membeku. Mereka bertiga segera pergi ke rumah sakit dengan menaiki mobil milik Hideki.
Sesampai di rumah sakit, Hikari segera berhambur ke ruang perawatan ibunya diikuti Hideki dan Satori. Ketika tiba di depan pintu perawatan, seorang dokter baru keluar dari ruangan tersebut dengan wajah datar.
“Dokter, bagaimana dengan ibu saya?,” tanya Hikari cepat.
Raut wajah pria itu berubah mendung. “Maaf. Ibumu sudah pergi ke sisi Tuhan. Kuatkan dirimu. Kami sudah berusaha semampu kami menolong ibumu.”
“Tidak dokter. Ibu tidak mungkin meninggal. Tidak mungkin!,” raung Hikari tidak terkontrol emosinya. Lalu ia menghambur masuk kedalam ruang perawatan dan melihat ibunya berbaring kaku dan kedua matanya tertutup dengan wajah pucat. Hikari tak kuasa melihatnya. Gadis itu menangis sejadinya.
Hideki segera mendekap tubuh mungil yang bergetar itu kedalam pelukannya. Ia mencoba menenangkan gadis itu yang kini berteriak histeris. Perawat menyuruh mereka keluar karena mereka akan menangani jasat ibu Hikari. Hideki memaksa Hikari keluar dari ruangan dengan perasaan hancur. Satori juga ikut menghiburnya. Namun tangis Hikari belum mereda. Dan Hideki semakin mempererat pelukannya.
***
Hari pemakaman ibu Hikari berlangsung sendu. Semua pihak sekolah datang melayat dan mengucapkan belasungkawa. Beberapa teman teater gadis itu juga datang dan mencoba menghiburnya. Sedangkan Hideki selalu ada disamping gadis itu. Selalu siap kapan pun dibutuhkan. Meskipun kehadirannya belum tentu dapat mengobati kesedihan gadis itu. Sesekali ia memandangnya. Hikari tidak lagi menangis. Hanya diam membisu. Hideki tahu luka dihati Hikari belum sembuh. Apalagi kini ibunya tercinta telah tiada. Ia bisa mengerti kesedihan dan kemarahan gadis itu.
Seusai pemakaman, Hideki mengantar kemana pun Hikari inginkan. Tetapi gadis itu hanya diam. Kedua matanya kosong. Ketika mobil itu melewati taman dekat danau, Hideki menginjak rem. Mobil pun berhenti tepat di tepi jalan taman. Hideki menekan sebuah tombol yang tersedia di pintu mobil membuat kaca pintu depan terbuka, membiarkan angin masuk kedalam memainkan rambut mereka. Suasana menjadi hening hanya terdengar sayup – sayup deru kendaraan yang agak jauh dari mereka dan suara bisikan angin yang berhembus lembut.
“Hikari, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Biarkan ibumu pergi dengan tenang ke alam sana. Jika ibumu melihatmu seperti ini, dia pasti sedih. Dan kau pasti tidak ingin melihat ibumu sedih, bukan?,” ujar Hideki mulai bersuara.
Melihat Hikari yang masih terdiam, Hideki memberanikan diri menyentuh jemari gadis itu yang dingin. Seketika raut wajah Hikari berubah kaget. Tetepi ia membiarkan pemuda itu tetap menggenggam jemari tangannya. Hideki menatapnya dengan lembut. Tatapan itu teduh dan menenangkan. Beberapa detik kemudia raut wajah Hikari yang tegang mulai mencair. Walau ada kebingungan di dalam sorot matanya yang liar.
“Hikari, lepaskan kesedihanmu. Kau tidak sendiri. Masih ada aku dan teman – temanmu. Aku akan menjagamu. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Kau boleh menyuruhku sesuka hatimu. Aku rela melakukan apa pun asal kau dapat kembali tersenyum. Sebagai gantinya, jadi lah dirimu yang sekuat baja. Bersinarlah seperti namamu. Jadilah dirimu sendiri seperti apa yang kau lakukan selama ini.” Tutur kata Hideki itu membuat Hikari kembali meneteskan air mata. Hideki kembali panik.
“Hei. Katakan apa yang salah denganku? Kenapa menangis?.” Hideki segera menyeka air mata itu dengan ibu jari tangannya. “Kumohon jangan menagis lagi. Kau boleh memukulku kalau begitu.”
“Tidak. Kau tidak salah apa – apa,” ucap Hikari kemudian yang berhasil meredakan kepanikan di wajah Hideki. “Terima kasih, Hideki. Terima kasih karena kau bersedia menjagaku.” Lalu tersenyum tipis.
Pipi hideki memerah. Ia tersipu malu. “Aku berjanji,” ucapnya lebih kepada dirinya sendiri.
[ KKDH ] Cerita Cinta Dari Masa Lalu
oleh Tav Emerald pada 26 November 2010 jam 3:52
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Pria penuh pesona yang pernah menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku. Seseorang yang dengan berani merebut posisi special di hatiku. Seseorang yang pernah menjadi sandaran hatiku dan kau buat aku mabuk kepayang. Kau yang seperti candu bagiku. Seperti udara yang kubutuhkan untuk bernafas. Kau yang dengan mudahnya berhasil mengusik fikiranku bahkan yang sering kuimpikan.
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Pemuda yang pernah kubisikkan syair senduku. Dan kudongengkan cerita kelamku. Itu kau yang dalam diam mencerna semua perkataanku dan berkata, “Sudah lah. Jangan diceritakan kalau itu membuatmu sedih.” Lalu kau menatapku sayu dan tersenyum. Seketika aku seperti terbius. Dan setelah itu kita menjadi sangat akrab. Kau penuh canda dan selalu berhasil membuatku ceria pada tiap harinya.
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Seseorang yang kupercaya dapat mengisi kekosongan hatiku dan menjadikanku lengkap. Seseorang yang kemudian menawarkan cintanya kepadaku. Aku menerimamu dengan penuh kebahagiaan. Bahkan aku sampai tak sadar kalau kau memperalatku.
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Seseorang yang pernah menjadi segalanya dalam hidupku. Yang kuharap adalah cinta sejatiku. Tapi apa yang kau lakukan setelah itu? Kau buat aku melayang jauh ke awan kemudian menghempaskanku jatuh hingga ke bumi. Kau memang tak mencampakkan aku. Tapi sikap diammu seperti bukan kau yang kukenal. Kau sama dinginnya dengan air hujan yang mengguyurku dengan derasnya sampai aku menggigil. Tetapi rasa kecewaku jauh lebih sakit dari itu. Sungguh kau tega padaku.
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Pujaanku yang dulu menggandeng tanganku dan menciumnya dengan mesra. Seseorang yang selalu kutunggu kedatangannya di 21 Cinema untuk bermain game kesukaan kami. Hingga akhirnya aku jengah menunggu harena kau yang tak kunjung datang lagi seperti dulu. Kau memang bukan lagi yang dulu. Aku benci sikapmu yang mendiamkanku seolah aku boneka. Aku juga punya perasaan. Kau tahu itu. Tapi tak kah kau merasa aku terluka dengan sikapmu yang tiba – tiba berubah? Kupikir tadinya kau diam karena sedang ada masalah. Kudiamkan kau untuk sendiri dan perfikir. Namun apa setelah itu? Kau masih sama dinginnya.
Hari ini, kulepas kau dari hatiku. Penjahat cintaku yang kemudian kutinggalkan kau tanpa alasan. Maaf. Tetapi kau sudah tidak ada perhatian lagi padaku. Kau lebih sibuk dengan duniamu sendiri. Jadi ketika naluriku berbisik agar aku pergi, aku pun pergi dan menghilang dari hidupmu. Kupikir dengan begitu semua akan berakhir. Namun aku masih terus mengingatmu. Dan malam ini aku kembali teringat tentang cerita kita. Tetapi rasa sedihku tak kan membuatnya kembali utuh, bukan? Kau pun pasti setuju dengan keputusanku. Telah kupilih jalanku sendiri tanpamu. Dan itu suatu kebijaksanaan yang brilian. Tanpamu aku tak perlu bersedih. Meski kau pernah menorehkan luka. Namun aku masih mampu mengendalikan diriku sendiri agar tetap berdiri kokoh dengan kedua kakiku sendiri. Aku tak perlu menyesal meninggalkanmu. Karena belum tentu aku bahagia bersamamu jika aku masih tetap disisimu. Dan aku tak perlu datang meminta maaf padamu. Kau pun pasti maklum. Kau sendiri tak pernah sekalipun memberitahukan alamat lengkapmu. Karena itu aku tak akan mencarimu. Ini lah keputusanku.
Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku. Cinta dari masa laluku. Setelah semua yang kulalui. Aku baik – baik saja tanpamu. Aku tak perlu menengok masa lalu. Biar lah semua mengalir dan berjalan apa adanya. Karena semakin aku mengingatmu, semakin bertambah bebanku. Aku juga tak mau bergulat ke masa itu. Dan tak mau sedih karenamu. Semuanya telah berlalu. Cerita kita juga telah lama usai tiga tahun lamanya. Aku juga telah memiliki pendamping dan tak sepantasnya aku mengingatmu, bukan? Maaf, ya. Kau tahu, aku lega sekarang. Kini aku bebas menjalani hari – hariku tanpa bayang – bayangmu. Selamat tinggal cinta dari masa laluku. Kuharap kau pun juga bahagia sekarang. ^_^
Yogyakarta, 26/11/10, 04:28 WIB
Tulisan ini di ikut sertakan dalam Lomba Menulis "Hari Ini, Kulepas Kau Dari Hatiku
Kamis, 31 Maret 2011
Featuring Jonathan Rhys Meyers Moondance Lyrics
<!--Artist: Featuring Jonathan Rhys Meyers--> <!--Song: Moondance-->
Well, it's a marvelous night for a Moondance
With the stars up above in your eyes
A fantabulous night to make romance
'Neath the cover of October skies
And all the leaves on the trees are falling
To the sound of the breezes that blow
And I'm trying to please to the calling
Of your heart-strings that play soft and low
And all the night's magic seems to whisper and hush
And all the soft moonlight seems to shine in your blush
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Well, I wanna make love to you tonight
I can't wait 'til the morning has come
And I know that the time is just right
And straight into my arms you will run
And when you come my heart will be waiting
To make sure that you're never alone
There and then all my dreams will come true, dear
There and then I will make you my own
Any time I touch you, you just tremble inside
And I know how much you want me that you can't hide
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Well, I wanna make love to you tonight
I can't wait 'til the morning has come
And I know that the time is just right
And straight into my arms you will run
And when you come my heart will be waiting
To make sure that you're never alone
There and then all my dreams will come true, dear
There and then I will make you my own
Any time I touch you, you just tremble inside
And I know how much you want me that you can't hide
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
My Love, my love
I just want one more moondance with you, yes I do
Well, it's a marvelous night for a Moondance
With the stars up above in your eyes
A fantabulous night to make romance
'Neath the cover of October skies
And all the leaves on the trees are falling
To the sound of the breezes that blow
And I'm trying to please to the calling
Of your heart-strings that play soft and low
And all the night's magic seems to whisper and hush
And all the soft moonlight seems to shine in your blush
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Well, I wanna make love to you tonight
I can't wait 'til the morning has come
And I know that the time is just right
And straight into my arms you will run
And when you come my heart will be waiting
To make sure that you're never alone
There and then all my dreams will come true, dear
There and then I will make you my own
Any time I touch you, you just tremble inside
And I know how much you want me that you can't hide
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Well, I wanna make love to you tonight
I can't wait 'til the morning has come
And I know that the time is just right
And straight into my arms you will run
And when you come my heart will be waiting
To make sure that you're never alone
There and then all my dreams will come true, dear
There and then I will make you my own
Any time I touch you, you just tremble inside
And I know how much you want me that you can't hide
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
Can I just have one more Moondance with you, my love
Can I just make some more romance with you, my love
My Love, my love
I just want one more moondance with you, yes I do
Ada Cinta Di Musim Gugur
Central Park, menjelang sore…
"naskah ini dikut sertakan dalam lomba Cinta Lintas Benua" tetepi tdk mendapat juara krn naskah hard copy saya nyasar entah kemana.. pdhl alamatnya sudah benar wktu ngirim... -_-"
Lizzy tersentak dari lamunan ketika sehelai daun maple berwarna kemerahan jatuh menimpa keningnya. Musim gugur tahun ini seolah datang terlalu cepat. Langit di atasnya masih membiru cerah dan bernoda kilau matahari. Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang gadis kecil menggesek biolanya memainkan Ode to Joy Beethoven di hadapan seorang lelaki tua berambut perak. Lizzy sudah sering melihat mereka namun selalu iri melihat kehangatan yang terpancar di mata kakek dan cucu itu. Mereka sama sekali tak terusik oleh musim gugur yang menyelinap diam-diam di balik dedaunan maple.
Tiba – tiba daun maple berwarna kemerahan itu jatuh semakin banyak, menghujaninya. Spontan Lizzy bangkit dari duduknya dan mendongak. Didapatinya seorang pemuda duduk diatas pohon di belakangnya sambil membawa keranjang bunga berisi daun – daun maple.
“Ye… Hujan maple!!!,” seru pemuda itu girang karena berhasil membuat Lizzy terkejut. Ia menumpahkan semua maple dari dalam kerangjang yang kini membuat Lizzy menjerit histeris.
“Aaarrrgghh!!! Stop! Stop!,” teriak Lizzy sambil mengibas sehelai maple yang menyangkut di kepalanya. Lalu mendelik kearah Dylan. Pemuda itu perlahan turun dari pohon setelah melempar keranjang bunga ke sebelah kaki Lizzy berdiri.
“Kau ini apa? Tidak punya kerjaan?,” omel Lizzy yang kemudian kembali duduk.
Dylan cemberut sambil duduk disebelah Lizzy.
“Kau ini tidak tahu terima kasih, ya. Aku sudah mencoba menghiburmu tapi kau malah mengomeliku. Selalu mengomel,” gerutu Dylan. Diambilnya beberapa helai daun maple dari tanah kemudian melemparnya ke atas. Wuuuusshh….. daun – daun itu berjatuhan kacau karena dimainkan angin musim gugur yang lumayan kencang sehingga daun – daun yang tersisa di ranting pohon ikut berguguran.
Lizzy melongo. “Kau? Menghiburku? Apa itu cara menghiburmu? Parah sekali.”
“Hei. Harusnya kau bilang terima kasih padaku. Hidup itu harus dinikmati. Tidak seperti kau. Setiap hari berwajah murung, kadang menangis, kadang marah – marah tidak jelas, mengomel seperti ini? Hati – hati, bisa – bisa bibirmu cepat keriput.”
“Huh. Aku tak butuh kau hibur.” Lizzy mendengus.
Dylan kembali cemberut. Ditatapnya gadis Indonesia itu yang selalu bersikap dingin. Gadis disebelahnya itu memang moodnya sedang jelek. Setelah putus dari kekasihnya, gadis itu menjadi murung. Selalu melamun dan terkadang menangis sendiri. Cinta memang membingungkan, ya? Tiba – tiba muncul ide brilian dari otaknya.
“Ayo, gadis maple ikut aku!.” Dylan mengulurkan tangannya kepada Lizzy. Gadis itu memandangnya dengan dahi berkerut seolah bertanya, “Kemana?”.
“Ayo ikut saja!,” paksa Dylan dengan menarik tangan Lizzy dan berhasil membuat gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengikutinya. Dylan tetap memegang tangan Lizzy sampai akhirnya mereka tiba di tepi danau. Lalu naik ke atas perahu kecil yang tersedia disana. Memang perahu kecil itu sengaja disediakan oleh pemerintah untuk para pengunjung Central Park.
Dylan tersenyum saat melihat ekspresi bingung Lizzy. Gadis itu mau saja naik perahu bersamanya. Perlahan, Dylan mulai mendayung dan perahu pun berjalan lambat – lambat. Diatas perahu kecil itu mereka menikmati indahnya taman Central Park saat musim gugur. Begitu indah memukau. Warna – warni maple disana sini. Juga angin musim gugur yang sejuk dan sinar matahari yang merambat pelan menunggu tenggelam.
“Bagaimana kalau malam ini kau kencan denganku saja?,” ujar Dylan masih mendayung.
Lizzy menatap mimik serius pemuda di depannya itu. “Apakah ada kejutan?,” tanyanya dengan alis terangkat.
“Tentu saja. Kau akan mendapat banyak kejutan malam ini. Kau lihat saja nanti. Aku akan membuatmu terkejut beberapa kali,” jawab Dylan yakin.
“Baiklah. Aku menunggunya,” kata Lizzy setuju. Senyum Dylan pun terkembang. Mata birunya menatap Lizzy sejenak lalu kembali tersenyum semakin lebar.
Ternyata Dylan tidak bohong dengan ucapannya. Pemuda itu telah menyiapkan segalanya untuk kencan mereka berdua. Mulai dari makan malam di tepi danau sambil melihat ratusan kembang api yang mewarnai langit Central Park malam itu. Serta wajah terkejut dan terpesona Lizzy saat mendengar bunyi letusan kembang api dan melihat bunga api itu berpendar diatas langit gelap yang tersihir menjadi warna – warni. Juga tawa riang kedua insan itu menjadi moment tersendiri yang berarti untuk Dylan maupun Lizzy. Apa yang dilakukan Dylan malam itu berhasil membuat kesedihan Lizzy hilang sejenak. Setidaknya butuh waktu agar gadis itu benar – benar terlepas dari kesedihan dan kembali pada Lizzy yang ceria.
“Bagaimana? Kau suka kencan malam ini?,” tanya Dylan malam itu ketika sampai di depan apartement Lizzy.
“Well, cukup mengesankan. Thanks,” ucap Lizzy sambil melempar senyum.
“Okey. Kalau begitu tunggu kencan – kencan kita selanjutnya. Aku akan membuat ucapan cukup mengesankan itu menjadi fantastis,” kata Dylan yakin.
Lizzy tertawa kecil. “Aku menunggu.”
“Kalau begitu selamat tidur,” ujar Dylan salah tingkah. “Sampai jumpa besok.”
“Ya.”
Dylan melambaikan tangan. Lizzy membalasnya. Perlahan pemuda itu berjalan menjauhi pintu apartement Lizzy. Dan mendadak berhenti ketika suara Lizzy memanggil namanya.
“Hei, Dylan.”
Dylan menoleh. “Ya?”
“Terima kasih,” senyum Lizzy. Dylan hanya mengacungkan jempol lalu melambaikan tangan kemudian melangkah pergi meninggalkan apartement Lizzy.
Lizzy masuk kedalam lalu melempar diri di atas tempat tidur. Ia mulai mengenang kembali kencan malam tadi bersama Dylan. Juga mengenang awal pertemuan mereka di Manhattan dua bulan yang lalu. Waktu itu Lizzy sedang bertengkar dengan kekasihnyaa di telepon dan kemudian tiba – tiba Dylan datang menabraknya sambil membawa travel bag. Dylan yang baru pertama kali datang ke Amerika. Pemuda campuran Inggris – Korea itu bercerita kalau ia kabur dari Negara asalnya di Korea karena tidak mau melakukan wajib militer. Padahal usianya sudah dua puluh tahun, dua tahun dibawahnya. Alasannya sih karena dia mencintai menggambar dan membuat desain. Memang sih, Lizzy sempat memergoki Dylan yang sedang asyik dengan sketch book. Tetapi pemuda itu selalu menolak orang lain untuk mengintipnya. Namun begitu, pemuda itu selalu sok dewasa kepada Lizzy dan selalu mengekori Lizzy sampai ke tempat kerja gadis itu. Mengakunya sih karena Lizzy adalah teman pertamanya di New York dan apartement mereka yang bersebelahan. Awalnya Lizzy sempat risih dengan kehadiran Dylan. Akan tetapi perlahan ia mulai terbiasa. Walaupun usia mereka beda dua tahun, Dylan memang jauh lebih dewasa dari pada Lizzy. Terkadang pemuda itu bersikap bijaksana dibandingkan Lizzy yang tidak suka mengalah.
Malam itu, Lizzy tidak lagi memikirkan mantan kekasihnya. Di benaknya dipenuhi dengan sosok Dylan yang jenaka dan jujur. Sampai akhirnya ia terlelap dan bermimipi mengenakan gaun pengantin dan disampingnya berdiri Dylan dengan pakaian berjas putih yang senada dengan gaun yang dikenakannya. Lalu keduanya mengucapkan janji setia. Lalu… Lalu… Lizzy terbangun karena jatuh dari tempat tidur. Seketika mimpi indahnya lenyap. Namun detik kemudian ia tersadar dan menepuk – nepuk kedua pipinya.
Hari setelah kencan pertama Lizzy dengan Dylan, hubungan mereka pun semakin akrab dan tidak lagi saling cek – cok. Walau sesekali Lizzy masih sering mengacak – acak rambut Dylan. Dylan yang tidak suka diperlakukan seolah dirinya masih anak – anak selalu protes. Namun hal seperti itu sudah biasa dan tidak terlalu Lizzy permasalahkan. Sampai suatu hari ketika akhir pekan, Dylan cemberut di sepanjang jalan di kawasan Theatre District. Biasanya kalau mereka jalan – jalan berdua seperti malam itu, pasti Dylan lah yang lebih cerewet sambil menariknya kesana – sini untuk melihat – lihat. Kebetulan malam itu sedang ada festival musim gugur.
“Hei, Dylan. Lihat badutnya lucu sekali,” tunjuk Lizzy pada seorang badut yang sedang melucu yang membuat para penonton tertawa terbahak – bahak.
“Sepertinya kau suka sekali dengan badut itu, ya?,” ujar Dylan yang kedua matanya tak lepas dari pertunjukan teater.
“Kau lihat. Dia sungguh lucu sekali,” seru Lizzy dengan tawa riangnya. Dylan hanya menatap gadis itu beberapa saat. Lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Lizzy yang sibuk tertawa karena badut – badut itu.
“Kalau kau mau, aku bisa setiap hari berpenampilan seperti badut itu,” bisik Dylan, berhasil membuat Lizzy menoleh.
“Kau? Konyol sekali.” Lizzy hanya mendecak pelan dan pandangannya kembali pada teater yang memukau didepan mereka.
“Yeah. Asal kan itu dapat membuatmu tertawa seperti ini,” cetus Dylan menerawang.
“Hah? Kau bicara apa barusan? Aku tidak dengar,” seru Lizzy pada Dylan yang kini mendengus pelan. Mungkin karena terlalu kerasnya suara para pengunjung yang menonton teater tersebut atau kah karena gadis itu terlalu terpukau dengan penampilan si badut sampai tidak mendengar Dylan bicara.
Pertunjukan teater pun usai. Lizzy dan Dylan kembali berjalan untuk melihat – lihat. Keduanya sempat bercanda sampai tiba – tiba seorang gadis berambut pirang berdandan glamour berseru memanggil Lizzy.
“Hei, Lizzy.” Gadis itu melambai kearah mereka. Lizzy balas melambai. Sepertinya itu temannya.
“Hei. Kau disini juga? Shopping?,” kata Lizzy ketika gadis berambut pirang itu yang datang menghampiri mereka berdua.
“Yeah. Kau sendiri?.” Gadis pirang itu memamerkan tas – tas belanjaan. Lalu kedua matanya melirik Dylan seolah mengatakan, “Itu siapamu?.”
“Oh. Kenalkan ini tetanggaku. Namanya Dylan. Dylan, ini Charol. Dia teman sekantorku,” jawab Lizzy memperkenalkan keduanya.
“Oh. Kupikir pacarmu,” cetus Charol dengan nada tinggi.
“Aku? Dengan dia? Jangan bercanda,” komentar Lizzy dengan tawa canggungnya. Mengingat Dylan lebih pantas menjadi adiknya karena pemuda itu lebih muda dua tahun darinya. Tentu saja. Hal itu pun juga sudah Dylan tebak. Dylan tidak suka dengan cara Lizzy memperlakukannya seolah dirinya masih remaja.
“Okey. Tapi kuharap kau menemukan pacar baru agar kau melupakan pria itu. Well, menurutku dia cocok denganmu,” senyum Charol sambil melempar pandang kearah Dylan. Lizzy melongo. Tidak mengerti maksud ucapan Charol. Namun Dylan paham. Pemuda itu hanya berdeham pelan merasa salah tingkah sekaligus beruntung bertemu dengan Charol.
“Baik lah, aku harus pergi sekarang. John sedang menungguku di apartement. Kasihan sekali dia demam dan kau tahu aku harus merawatnya,” cerita Charol. “Okey, Lizzy, sampai ketemu besok. Jalan lupa ceritakan padaku tentang dia besok di kantor,” bisik gadis itu. “Okey. Aku pergi dulu. Bye.” Charol pun melenggang meninggalkan mereka berdua menuju ke sebuah mobil sedan pink.
“Kau tahu, dia memang pecinta warna pink. Tapi dia tetap teman terbaikku selama aku berada di Starlet Magazine,” kata Lizzy memberitahu.
“Yeah. Bisa kulihat kalau seleranya sungguh tinggi,” sahut Dylan setuju. “By the way, apa kau masih memikirkan dia?.” Spontan Lizzy menoleh.
“Maksudmu siapa? Aku tak mengerti…”
“Katakan padaku sehebat apakah dia sampai kau selalu memikirkannya? Untuk apa kau memikirkan lelaki yang sudah menghianatimu? Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan hal ini. Mengapa harus dia?.” Lizzy terdiam membatu. Suaranya tertahan di tenggorokan. “Ayo lah. Untuk apa aku selama ini berusaha menghiburmu kalau kau tak juga melupakan dia?.” Pertanyaan Dylan itu seolah sebuah pedang yang menghunus menenai jantungnya.
“Hentikan, Dylan. Aku tidak harus menjawabnya, bukan? Lagi pula itu bukan urusanmu,” cetus Lizzy dengan suara bergetar.
“Memang. Tapi apa tidak bisa kau mencari penggantinya dan menempatkan posisi itu di hatimu agar nama itu tidak lagi ada disana? Kalau ka uterus – menerus memikirkannya, perasaanmu akan semakin terluka, bukan?.”
“Sudah lah! Aku tak mau mendengarnya lagi. Urus saja dirimu sendiri. Kau tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Aku punya alasan sendiri mengapa aku tak melakukannya!,” bentak Lizzy yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Dylan sendiri. Dylan menatap sosok gadis itu yang kini menjauh. Otaknya terasa buntu. Nafasnya memburu dan ingin rasanya ia memukul semua apa yang ada dihadapannya saat ini.
Setelah kejadian di Theatre District itu, Lizzy berusaha sebisa mungkin menghindari Dylan. Ia tidak mau kalau harus mendengar pertanyaan yang membuatnya bingung. Namun ia sadar betul kalau selama ini pemuda itu telah berusaha keras menghiburnya untuk tidak larut dari patah hatinya. Akan tetapi untuk melupakan perasaannya pada seseorang itu sangat lah sulit. Ia butuh waktu sampai benar – benar melupakannya.
Disamping itu Dylan juga mencari tahu tentang hubungan Lizzy dengan mantan kekasihnya dulu. Pemuda itu datang ke menemui Charol tanpa sepengetahuan Lizzy. Charol pun menceritakan segalanya. Tentang keluarga Lizzy yang melarang keras gadis itu untuk menjalin hubungan dengan pria berkebangsaan selain Indonesia. Karena mereka tidak ingin Lizzy terjerumus oleh kebudayaan barat. Sedangkan mantan kekasihnya dulu adalah warga negara Indonesia juga. Hanya saja kekasihnya itu menghianatinya dan berselingkuh di belakang Lizzy sampai menghamili seorang gadis di Negara tersebut. Lizzy mendapat kabar itu dari saudara sepupunya yang kuliah di Universitas Indonesia. Bulan kemarin mereka telah melangsungkan pernikahan. Lizzy begitu terpukul. Itu lah alasan mengapa Lizzy belum ingin jatuh cinta lagi. Penjelasan Charol tersebut berhasil membuat ulu hati Dylan ngilu. Padahal ia sempat yakin perasaannya pada Lizzy adalah cinta. Namun apakah itu masih bisa disebut cinta kalau kenyataannya ia belum siap menghadapi dilema dan kepahitan karena penolakan yang jelas dari Lizzy. Meskipun ini lah kali pertamanya ia merasa ingin melindungi seseorang yang dikasihinya. Dylan yakin perasaan itu adalah cinta. Tetapi kali ini ia tidak memiliki nyali lagi untuk mengutarakannya. Apakah hanya karena masalah adat dan kebudayaan juga kewarganegaraan? Lalu apa bedanya dengan berkewarganegaraan yang sama tapi memiliki perangai yang lebih bejat dari warga Negara asing? Toh semua itu tak jauh beda dan belum tentu sama.
Di dalam apartementnya, Dylan memandangi sketch booknya nanar. Ketika perasaannya galau, sebuah sms muncul di inbox ponselnya. Dari nuna yang berarti kakak perempuan. Sms itu memberitahukan agar ia segera pulang ke Seoul karena ibunya sakit serius. Dylan tidak membalasnya dan langsung menelepon kakak perempuannya.
Lizzy begitu kaget mendapati Dylan ada di depan kantornya malam itu. Entah sudah berapa lama pemuda itu duduk menunggu disana karena penampilannya tampak kusut. Namun ia ragu menghampiri karena merasa bersalah telah membentaknya waktu itu. Akhirnya, Lizzy berpura – pura tidak melihat Dylan. Belum sempat ia melangkah jauh, Dylan telah melihatnya.
“Gadis maple! Tunggu!,” panggil Dylan dari belakang. Lizzy tak lantas menengok. Sebelum gadis itu berjalan lebih jauh, Dylan lekas mengejarnya dan meraih lengan Lizzy. “Kenapa kau belakangan ini selalu menghindariku? Okey, aku minta maaf soal yang waktu itu. Tapi aku sungguh ingin tahu. Dan sekarang kau tak perlu menjawabnya karena aku sudah mencari tahu semuanya.” Namun Lizzy hanya diam membisu. Gadis itu malah melepaskan tangan Dylan dari lengannya dan kembali berjalan. Baiklah karena sekarang pemuda itu telah mengetahui semuanya. Jadi ia tidak perlu repot – repot menjelaskan. Namun mengapa masih ada beban disana? Bukan kah tadi ia berniat meminta maaf pada pemuda itu? Mengapa sekarang ia menghindar lagi?.
“Besok aku pulang ke Seoul!.” Tiba – tiba Dylan berseru. Seketika langkah Lizzy terhenti. “Kutunggu kau besok siang di tempat biasa. Terserah kau mau datang atau tidak.”
Dylan berharap gadis itu berbalik menghampirinya. Namun yang diharapkannya tidak terjadi. Lizzy kembali melangkah ke depan tanpa menengok sedikit pun. Hati Dylan kembali terasa ngilu. Ia tidak menyangka perjalanan cintanya akan setragis ini.
Besok siangnya, Lizzy bergegas pergi ke Cetral Park dan membatalkan jadwal pertemuannya dengan fotografer majalah demi seorang Dylan yang mungkin bukan siapa – siapa baginya. Akan tetapi selama tiga bulan terakhir ini, pemuda itu telah membantu mengisi kekosongan hatinya. Ia baru menyadari kalau keberadaan Dylan berpengaruh besar dalam hidupnya. Mengingat Dylan yang selalu menghantui di setiap mimpi – mimpinya. Bahkan belakangan ini ia sering memikirkan pemuda itu.
Sesampai di kawasan Central Park, Lizzy segera berlari menyusuri taman sampai ke jembatan danau namun sosok yang dicarinya tidak ada. Ia pun berkeliling namun nihil. Apa mungkin ia terlambat datang. Si bodoh itu juga tidak memberitahu jam keberangkatan pesawat ke Seoul. Bagaimana mungkin si bodoh itu telah pergi meninggalkan New York secepat ini? Setelah satu jam keliling taman, ia tetap tidak menemukan Dylan disana. Jangan – jangan anak itu mengerjainya? Ia pun segera menelepon Charol barang kali temannya itu mengetahui informasi terbaru tentang Dylan.
“Lizzy. Penerbangan ke Seoul dua jam lagi berangkat,” kata Charol di telepon.
Berarti kalau di taman tidak ada, Dylan sudah berangkat ke Airport. Itu lah kalimat yang terlintas di benak Lizzy. Gadis itu kembali berlari meninggalkan Central Park dan mencari taxi menuju ke Bandara Internasional John F. Kennedy. Satu setengah jam perjalanan menuju ke Bandara tersebut karena masih harus terjebak di macet. Lizzy pun berhasil sampai sebelum waktunya. Paling tidak ia masih memiliki waktu untuk bicara kepada Dylan sebelum ia menyesal karena tidak mengatakan apa pun pada pemuda itu.
Lizzy menyusuri koridor Airport sambil mencari – cari sosok Dylan. Ia berharap pemuda itu belum berangkat. Tetapi sampai sekarang ia belum menemukan sosok Dylan. Sampai akhirnya ia berusaha menerobos masuk ke Terminal 1 dan berhasil dicegah security.
“Please, Sir. Izinkan saya masuk sebentar. Saya mau mencari teman saya,” ronta Lizzy memohon.
“Sorry, Miss. Kami tidak bisa mengizinkan siapa pun masuk kecuali para penumpang.”
“Please, Sir. Tolong. Biarkan saya masuk sebentar,” pinta Lizzy memohon lagi. Namun petugas Bandara tetap bersikeras untuk tidak membiarkan Lizzy masuk kedalam.
“Lizzy?.” Tiba – tiba terdengar suara khas yang Lizzy kenal memanggil namanya. Lizzy mencari sumber suara tersebut dan mendapati Dylan tengah berdiri di belakangnya dengan membawa travel bag. Lizzy terpaku pada sosok itu. Jung Dylan Wo. Pemuda itu Nampak terkejut dengan kehadiran Lizzy. Antara tidak percaya dan senang karena gadis itu datang. Walau bukan di Central Park seperti tempat yang dijanjikannya semula.
Perlahan, Lizzy melangkahkan kakinya yang terasa pegal menghampiri sosok Dylan yang berdiri mematung di tempat.
“Kupikir kau tak kan datang…,” ucap Dylan datar. Seolah semua itu adalah mimpi.
“Kau…. Uuuurrrghhh!!! Kau sungguh menyebalkan, Jung Dylan.” Tiba – tiba saja Lizzy sudah memukulinya dengan tangan kurus gadis itu.
“Aw. Aduh. Maaf. Maaf. Aku benar – benar tidak menyangka kau akan datang,” pekik Dylan menahan rasa sakit yang mengenai badannya.
“Kau tahu, aku mencarimu di sepanjang Central Park tapi kau tidak ada disana. Seperti orang bodoh saja mencarimu. Sungguh menyebalkan,” teriak Lizzy kesal.
“Maaf. Tapi aku sudah menunggumu selama dua jam disana. Lalu kupikir kau tak kan datang. Jadi kuputuskan untuk berangkat ke Bandara saja.”
“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan? Kau sudah membuatku membatalkan jadwal pertemuanku dengan fotografer majalah dan nanti pastinya aku akan diomeli atasanku. Kau mau tanggung jawab dengan semua itu, hah?.” Lizzy kembali memukuli Dylan. Pemuda itu hanya pasrah mengingat dialah yang bersalah pada gadis itu.
Dylan pun menggenggam tangan kurus Lizzy agar tidak memukulinya lagi mengingat sudah tidak cukup banyak waktu mereka untuk bicara.
“Kau sudah selesai bicara?,” katanya pada gadis itu. Lizzy mengangguk pelan. “Baiklah. Aku minta maaf karena telah mempermainkanmu sampai kau kelelahan begini. Dan aku minta maaf karena aku harus pulang ke Seoul karena ibuku sakit serius. Meskipun aku ingin lebih lama lagi bersamamu disini. Tapi kau juga tidak akan tega dengan masa depanku, kan?.” Dylan menatap kedua mata Lizzy lurus. “Aku masih harus menyelesaikan masalahku di Korea. Masih banyak yang harus kukerjakan disana. Tapi aku berjanji padamu, setelah aku menjadi orang yang sukses, dan menjadi seorang pria yang pantas untukmu, aku akan kembali.
“Dan aku ingin memberitahumu sebuah pengakuan. Walau ini terdengar tidak masuk akal karena kita baru saling mengenal. Tapi aku merasa harus menjagamu dan berusaha menghiburmu agar kau tidak berwajah murung lagi. Setelah kepergianku, berjanjilah padaku kau tidak akan murung lagi. Kau harus melanjutkan hidupmu demi impianmu dan orang – orang yang kau sayangi. Karena aku ingin kau selalu tersenyum dan ceria seperti musim gugur. Aku menyukaimu, gadis maple. Sarang haeyo… tapi aku tidak ingin dengar jawabanmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku saja. Tapi nanti setelah aku kembali, kau harus menjawabnya dengan tegas. Jadi, tunggu lah aku. Tapi jika kau menemukan orang lain dan membiarkan ia singgah di hatimu, aku pun juga tidak bisa memaksamu kau harus denganku. Itu pilihanmu dan aku tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu,” kata Dylan panjang lebar. Lalu diambilnya sebuah sketch book dari balik jaketnya dam memberikannya pada Lizzy. “Ini untukmu supaya kau mengingatku.” Melihat kedua mata Lizzy yang berkaca – kaca, Dylan bersuara lagi,”Kumohon, jangan menangis. Kau lebih manis tersenyum dari pada menangis, Lizzy.”
“Siapa juga yang menangis? Aku tidak menangis,” elak Lizzy.
“Kalau begitu tersenyum lah.” Lizzy pun tersenyum tipis. Dibalas senyuman manis Dylan dan tatapan lembutnya.
Setengah jam berlalu. Terdengar suara panggilan terakhir kepada para penumpang untuk segera masuk ke terminal 1 karena beberapa menit lagi pesawat akan melakukan take off. Dylan pun berpamitan dengan Lizzy sambil melambaikan tangan. Lizzy membalasnya dengan lambaian tangan juga sampai akhirnya sosok Dylan menghilang dari pandangannya. Lizzy hamper saja menangis. Tetapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cengeng.
Pada saat berada diluar Bandara, perlahan jari – jari tangan Lizzy membuka halaman pertama buku sketsa milik Dylan. Alangkah terkejut dan terharunya ia ketika melihat lukisan hitam putih bergambar dirinya di dalam buku itu. Merasa penasaran, Lizzy pun membalik lembaran demi lembatan berikutnya yang hamper semuanya adalah gambar dirinya yang sedang tersenyum. Dan lembar terakhir adalah lukisan yang bergambar dirinya sedang tertawa bersama Dylan dengan hiasan sekelai daun maple kering yang bertuliskan, teruntuk gadis maple-ku dari yang terkasih, Dylan. Senyum Lizzy terkembang sambil memandangi gambar halaman akhir itu. Ia tidak sabar menunggu datangnya musim gugur berikutnya ia pun juga tidak ingin kalah dengan Dylan. Ia juga harus bisa sukses menggapai mimpinya menjadi seorang jurnalis ternama. Juga tidak sabar menunggu Dylan dewasa muncul di hadapannya.
Di tengah sejuknya angin musim gugur Lizzy tersenyum. Tangannya mendekap buku sketsa milik Dylan di dadanya. Tak ada lagi penyesalan mengendap di hatinya. Musim gugur kali ini telah mengingatkannya pada hal terindah yang pernah dimilikinya.
Thanks, Dylan. You’re always gonna be my autumn.
Selesai
"naskah ini dikut sertakan dalam lomba Cinta Lintas Benua" tetepi tdk mendapat juara krn naskah hard copy saya nyasar entah kemana.. pdhl alamatnya sudah benar wktu ngirim... -_-"
Langganan:
Postingan (Atom)



