oleh Tav Emerald pada 03 November 2010 jam 20:18
Bersinarlah, Hikari !
Oleh : Diyah Oktavia
Ciiiiiiitttt!!! Suara rem menjerit.
“Hei. Kau tak punya mata, ya?,” teriak seorang pemuda dari dalam mobil BMW hitam. Hampir saja ia menabrak pejalan kaki itu yang menyeberang sembarangan. Untung lah dia berhasil mengerem mobilnya. Gadis itu kini menghampiri mobil itu dan melotot pada Hideki.
“Kau yang buta! Sudah lihat itu lampu merah masih ngebut juga. Kau pikir ini jalan nenekmu, ya? Dasar kau tak punya otak!,” maki gadis itu kasar sambil menendang body mobil dengan sepatu boot-nya.
“Hei. Kau apakan mobil ku? Ini mobil mahal tahu.” Hideki mendelik pada gadis gila yang kini ngeloyor begitu saja ke seberang jalan. “Dasar gadis gila!,” umpatnya. “Sial!” Lalu ia pun kembali menjalankan mobil karena lampu sudah berganti warna. Ia tidak ingin terlambat ke acara makam malam bersama keluarganya di sebuah restaurant seafood ternama. Mereka pasti sudah menunggu.
Di lain tempat, Hikari mengomel tidak jelas ketika sampai di rumah sakit umum di daerah Tokyo. Ia kini berada di ruang rawat ibunya.
“Kau kenapa, Hikari? Baru datang kau sudah mengomel,” tegur ibunya. Hikari cemberut.
“Tidak apa – apa. Hanya kesal saja dengan orang di jalan,” cetus Hikari kemudian. Ia mengambil sebuah apel merah yang terletak di atas meja lalu mengupasnya. “Ibu tak usah berpikir yang macam – macam supaya ibu cepat sembuh,” lanjutnya sambil tersenyum simpul kepada ibunya. Hikari hanya tidak ingin penyakit perempuan itu kambuh dan bertambah buruk karena ulahnya.
Sudah tiga bulan ibunya dirawat di rumah sakit itu karena sakit ginjal. Dokter bilang kalau ibunya tidak segera mendapatkan cangkok ginjal yang cocok bisa berakibat fatal. Ia tidak mau kehilangan perempuan yang telah melahirkannya itu. Tidak lagi setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu. Sejak saat itu ibunya merangkap tugas sebagai ayah dan mencari nafkah untuk menghidupi mereka. Perempuan itu juga yang membiayai sekolah Hikari. Dan sekarang ibunya terbaring lemas di tempat tidur membuat dadanya semakin sesak dan sedih.
Setelah pulang dari rumah sakit, Hikari kembali bekerja di sebuah restourant yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kini setiap malam ia harus kerja banting tulang untuk membayar biaya perawatan ibunya. Memang gajinya tidak seberapa. Tapi setidaknya ibunya bisa mendapatkan perawatan yang baik di rumah sakit itu. Begitulah rutinitasnya setiap hari. Pukul lima pagi ia harus bangun dan mengambil kue ke tempat Bibi Ozawa untuk dijual di kantin sekolah. Hasilnya lumayan lah untuk uang jajannya sehari – hari. Kalau soal biaya pendidikannya, ia tidak perlu cemas karena ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah.
***
Pagi itu Hikari sudah tiba di sekolahnya yang terletak di pinggir kota Tokyo. Sekolah seni. Disitulah ia belajar untuk berhasil menjadi pianist bertalenta. Cukup banyak murid di sekolah itu yang mayoritasnya anak orang kaya. Namun Hikari yang memang keras kepala dan berpendirian keras itu tidak mudah dikucilkan begitu saja oleh siswa yang lain. Gadis itu cukup disegani di sekolah karena kemandiriannya dan kecerdasan yang ia miliki. Ia juga memiliki beberapa teman yang menyayanginya di sana. Jadi ia tidak perlu merasa kesepian atau sedih.
Ketika akan masuk kelas, tiba – tiba seseorang tidak sengaja menabraknya. Hikari hampir saja jatuh ke lantai ketika seseorang berhasil menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mereka pun saling tatap. Hikari buru – buru melepaskan diri setelah ia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.
“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Hikari sambil membungkukkan badannya sedikit.
“Bukan masalah,” jawab Hideki datar sambil menatap wajah Hikari dengan seksama. Sepertinya ia pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi dimana. Lalu selintas memori berhasil diingatnya. “Ah. Kau gadis yang waktu itu memakiku di jalan, kan?.”
Hikari mendelik. Salah tingkah karena ditatap seperti itu. Beberapa temannya yang melihat kejadian itu berkerumun di belakang. Siapa juga yang tidak mengenal Hideki Hatori dari kelas music, pemuda tampan dan terkaya di sekolah seni tersebut? Seluruh murid pun pasti tahu.
“Hei. Kau yang hampir menabrakku,” sambar Hikari tidak mau kalah.
“Kau juga sekolah disini?,” cetus Hideki.
“Memangnya kenapa? Ini bukan sekolah milikmu, kan?,” ketus Hikari. “Jangan mentang – mentang kau orang kaya bisa seenaknya menindasku. Aku tak selemah yang kau bayangkan. Ingat itu,” lanjutnya galak. Lalu ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya diikuti belasan pasang mata yang kini balik memandang Hideki. Pemuda itu pun juga segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke ruang kelasnya. Di kelas musik.
***
Hikari sedang sibuk menghafal naskah drama yang akan dibawakannya di pentas seni bulan depan. Guru teaternya telah menunjuknya berperan sebagai putri tidur. Kali ini pentas teater akan di adakan di gedung pentas kesenian di taman kota. Dan ia harus berhasil menguasai naskah tersebut dan memerankan perannya dengan baik. Teater nanti berjudl “Snow White.”
“Kau sedang membaca apa?” Tiba – tiba suara ibunya membuat pandangan Hikari menoleh menatap wajah cantik perempuan di depannya itu.
“Menghafal naskah. Bulan depan ada pertunjukan teater, Bu. Aku jadi pemeran utamanya,” jawab Hikari. “Ibu butuh sesuatu?.”
Ibu Hikari menggeleng dan tersenyum tipis. “Tidak. Lanjutkan saja menghafalnya.” Hikari balas tersenyum dan kembali menekuni kertas berisi tulisan – tulisan itu.
***
Hari sudah berganti petang. Hideki sedang melintasi sebuah restaurant seafood dan langkahnya terhenti ketika menangkap sosok gadis yang ia kenal. Dia kan Si Galak itu. Oh, jadi dia kerja part time disini rupanya, batinnya. Lalu muncul ide jahil di otaknya. Ia masuk kedalam dan duduk di meja nomor empat.
“Pelayan!,” serunya memanggil. Hikari yang kebetulan tidak melayani pembeli pun segera mendatangi meja itu dan kaget melihat Hideki yang tersenyum mengejeknya.
“Mau pesan apa?,” tanyanya dengan wajah dingin.
“Jangan galak begitu. Aku disini mau makan. Aku bisa lho melaporkan kepada atasanmu karena kau sudah tidak ramah pada pembeli,” seringai Hideki senang. Hikari melotot sekilas. Ia hampir saja memukul pemuda itu ketika pandangan atasannya mengarah pada mereka. Hikari buru – buru mengurungkan niatnya dan berpura – pura melayani Hideki dengan baik meskipun dadanya bergemuruh karena kesal. Hideki berhasil mengerjainya habis – habisan, membuat Hikari bertambah sebal dengan pemuda itu. Awas kau pemuda sombong!, batin Hikari geram.
Setelah kejadian itu, entah mengapa ia sering menemukan Hideki di tempat yang sama seperti kebetulan. Bahkan ia sempat memergoki Hideki yang sedang membututinya sampai ke rumah dengan mobil BMW-nya. Hikari juga mengatainya sebagai penguntit karena tidak sopan mengikuti seorang gadis. Tetapi hal itu tidak membuat pemuda itu jera. Pemuda itu malah mengarang berbagai cerita yang tidak masuk akal yang membuatnya naik darah. Namun sebaliknya justru hal itu membuat Hideki semakin tertarik dan ingin mengenal Hikari lebih jauh.
Suatu hari ketika Hikari baru keluar dari rumah sakit, tiba – tiba pemuda itu ada di seberang jalan dan berniat memberinya tumpangan.
“Kau mau kemana? Biar kuantar,” kata Hideki menawarkan diri.
“Tidak. Terima kasih. Aku bisa naik bus sendiri,” tolak Hikari lagi – lagi bersikap dingin.
“Ayo lah. Aku tahu kau mau pergi ke tempat kerja. Lagi pula langit sedang mendung. Dari pada nanti kau terlambat karena terjebak macet, kan?.” Hideki semakin senang ketika akhirnya Hikari naik kedalam mobilnya.
“Bagaimana kabar ibumu?,” tanya Hideki membuka topik pembicaraan.
“Tidak begitu baik.”
“Maafkan aku kalau pertanyaanku tadi membuatmu sedih. Memangnya ibumu sakit apa?.” Kali ini Hikari menoleh menatap pemuda itu.
“Sudah sejak kapan kau menguntitku? Sampai masalah ibuku pun kau harus tahu,” ujar Hikari dengan nada tinggi. “Aku sudah pernah bilang padamu jangan campuri urusanku.”
“Baiklah. Tapi kupikir kamu butuh bantuan.”
“Memangnya kau bisa bantu apa? Ibuku sekarat dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Kau pikir karena kau orang kaya kau bisa menginjak harga diriku? Aku tahu kau sama dengan mereka. Hanya mengeruk keuntungan dari kami yang orang miskin,” cacar Hikari membuat Hideki mengerem mobilnya mendadak. “Kau mau membunuhku, ya?!.” Hikari melotot. Hampir saja jantungnya berhenti karena kaget.
“Kau sudah selesai bicara? Dengar. Aku tidak bermaksud berbuat jahat padamu. Aku hanya ingin membantumu. Karena kau juga temanku. Hanya itu,” seru Hideki tegas.
“Teman katamu? Sejak kapan? Kau dan teman – temanmu itu sama saja piciknya.”
“Aku tak sepicik itu! Aku juga punya perasaan. Apa salahnya aku membantumu? Kulihat kau hanya dengan ibumu dan kau pasti butuh bantuan untuk biaya rumah sakit. Setidaknya beri aku kesempatan untuk berbuat baik.”
“Okey. Sekarang kau sudah tahu siapa aku. Sebutkan saja apa maumu. Setelah itu jangan kau ganggu hidupku lagi.” Mereka pun saling pandang. Hideki terdiam beberapa saat.
Tiba – tiba Hikari terisak. Gadis itu menangis.
“Ibuku sedang sekarat. Dia butuh donor ginjal dan harus segera dioperasi. Kalu tidak nyawanya tidak akan tertolong. Aku tak mau kehilangan ibuku. Sudah cukup ayahku saja yang diambil,” ceracau Hikari dalam isak tangisnya.
Perlahan tangan Hideki terulur dan merangkul pundak Hikari yang bergetar. Rasa ibanya muncul.
“Sudah. Kau masih punya aku sebagai temanmu. Kau tak sendiri. Percayalah padaku,” hibur Hideki membiarkan tangisan Hikari memecah keheningan di jalan yang sepi itu.
***
Tibalah hari yang ditunggu. Semua murid teater sudah siap di aula untuk memulai pertunjukan. Tetapi Hikari sebagai pemeran utamanya belum muncul. Hideki yang juga disana sebagai pengiring musik tampak cemas. Entah sudah berapa kali ia melirik jam tangannya dan berjalan kesana kemari. Kemudian terdengar suara langkah orang berlari. Muncul lah Hikari dengan nafas tersenggal. Gadis itu segera meminta maaf kepada guru teaternya dan teman – temannya. Lalu masuk ke ruang ganti. Rasa cemas Hideki pun sirna berganti lega.
Sepuluh menit kemudian pertunjukan pun dimulai. Hikari naik keatas panggung dengan penampilan memukau. Pertunjukan drama Snow White itu pun berlansung dengan sukses. Tepukan meriah dari para penonton yang ada di aula tersebut menjadi penutupan pentas. Dan tiba lah pengumuman pemenang karakter terbaik. Hikari berhasil mendapatkan juara pertama sekaligus pemeran karakter terbaik. Gadis itu naik ke atas panggung dan mendapat sambutan meriah dari juri dan penonton. Apalagi ketika gadis itu menerima piagam penghargaan dan piala. Ratusan penonton bersorak bangga. Begitu juga dengan Hideki yang pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Hikari. Ia begitu mengagumi gadis itu. Gadis yang membuatnya selalu penasaran dan selalu berhasil membuat perasaannya tidak karuan. Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Perasaan ingin menjaga gadis itu pun muncul tanpa ia sadari. Ia hanya ingin gadis itu tersenyum bahagia seperti hari ini. Ia sungguh ingin menjaga senyuman manis itu.
Hikari sudah turun dari panggung disambut dengan ucapan selamat dari teman – temannya dan para pengajar. Mereka sempat berfoto – foto. Hideki menghampirinya setelah yang lain sibuk berfoto.
“Selamat, ya. Penampilanmu luar biasa,” kata Hideki memberi selamat.
“Terima kasih. Ini berkat dukunganmu juga.” Hikari tersenyum manis.
“Apa kau masih memendam rasa benci padaku?,” tanya Hideki kemudian.
Hikari menggeleng. “Aku tidak ingin membenci siapa pun lagi.”
Hideki tersenyum simpul. “Aku yakin suatu hari kau akan menjadi bintang besar.”
“Aku tak ingin menjadi orang terkenal. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.”
“Lantas apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak itu?.”
Sebelum Hikari sempat menjawab, Satori, tetangga dekat Hikari menghampiri mereka dengan wajah panik dan sedih.
“Hikari, ibumu. Ibumu sekarat,” kata pemuda itu.
“Apa?.” Seketika darah gadis itu seperti membeku. Mereka bertiga segera pergi ke rumah sakit dengan menaiki mobil milik Hideki.
Sesampai di rumah sakit, Hikari segera berhambur ke ruang perawatan ibunya diikuti Hideki dan Satori. Ketika tiba di depan pintu perawatan, seorang dokter baru keluar dari ruangan tersebut dengan wajah datar.
“Dokter, bagaimana dengan ibu saya?,” tanya Hikari cepat.
Raut wajah pria itu berubah mendung. “Maaf. Ibumu sudah pergi ke sisi Tuhan. Kuatkan dirimu. Kami sudah berusaha semampu kami menolong ibumu.”
“Tidak dokter. Ibu tidak mungkin meninggal. Tidak mungkin!,” raung Hikari tidak terkontrol emosinya. Lalu ia menghambur masuk kedalam ruang perawatan dan melihat ibunya berbaring kaku dan kedua matanya tertutup dengan wajah pucat. Hikari tak kuasa melihatnya. Gadis itu menangis sejadinya.
Hideki segera mendekap tubuh mungil yang bergetar itu kedalam pelukannya. Ia mencoba menenangkan gadis itu yang kini berteriak histeris. Perawat menyuruh mereka keluar karena mereka akan menangani jasat ibu Hikari. Hideki memaksa Hikari keluar dari ruangan dengan perasaan hancur. Satori juga ikut menghiburnya. Namun tangis Hikari belum mereda. Dan Hideki semakin mempererat pelukannya.
***
Hari pemakaman ibu Hikari berlangsung sendu. Semua pihak sekolah datang melayat dan mengucapkan belasungkawa. Beberapa teman teater gadis itu juga datang dan mencoba menghiburnya. Sedangkan Hideki selalu ada disamping gadis itu. Selalu siap kapan pun dibutuhkan. Meskipun kehadirannya belum tentu dapat mengobati kesedihan gadis itu. Sesekali ia memandangnya. Hikari tidak lagi menangis. Hanya diam membisu. Hideki tahu luka dihati Hikari belum sembuh. Apalagi kini ibunya tercinta telah tiada. Ia bisa mengerti kesedihan dan kemarahan gadis itu.
Seusai pemakaman, Hideki mengantar kemana pun Hikari inginkan. Tetapi gadis itu hanya diam. Kedua matanya kosong. Ketika mobil itu melewati taman dekat danau, Hideki menginjak rem. Mobil pun berhenti tepat di tepi jalan taman. Hideki menekan sebuah tombol yang tersedia di pintu mobil membuat kaca pintu depan terbuka, membiarkan angin masuk kedalam memainkan rambut mereka. Suasana menjadi hening hanya terdengar sayup – sayup deru kendaraan yang agak jauh dari mereka dan suara bisikan angin yang berhembus lembut.
“Hikari, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Biarkan ibumu pergi dengan tenang ke alam sana. Jika ibumu melihatmu seperti ini, dia pasti sedih. Dan kau pasti tidak ingin melihat ibumu sedih, bukan?,” ujar Hideki mulai bersuara.
Melihat Hikari yang masih terdiam, Hideki memberanikan diri menyentuh jemari gadis itu yang dingin. Seketika raut wajah Hikari berubah kaget. Tetepi ia membiarkan pemuda itu tetap menggenggam jemari tangannya. Hideki menatapnya dengan lembut. Tatapan itu teduh dan menenangkan. Beberapa detik kemudia raut wajah Hikari yang tegang mulai mencair. Walau ada kebingungan di dalam sorot matanya yang liar.
“Hikari, lepaskan kesedihanmu. Kau tidak sendiri. Masih ada aku dan teman – temanmu. Aku akan menjagamu. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Kau boleh menyuruhku sesuka hatimu. Aku rela melakukan apa pun asal kau dapat kembali tersenyum. Sebagai gantinya, jadi lah dirimu yang sekuat baja. Bersinarlah seperti namamu. Jadilah dirimu sendiri seperti apa yang kau lakukan selama ini.” Tutur kata Hideki itu membuat Hikari kembali meneteskan air mata. Hideki kembali panik.
“Hei. Katakan apa yang salah denganku? Kenapa menangis?.” Hideki segera menyeka air mata itu dengan ibu jari tangannya. “Kumohon jangan menagis lagi. Kau boleh memukulku kalau begitu.”
“Tidak. Kau tidak salah apa – apa,” ucap Hikari kemudian yang berhasil meredakan kepanikan di wajah Hideki. “Terima kasih, Hideki. Terima kasih karena kau bersedia menjagaku.” Lalu tersenyum tipis.
Pipi hideki memerah. Ia tersipu malu. “Aku berjanji,” ucapnya lebih kepada dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar