Namaku Arand Stewart. Aku putra dari pemilik perusahaan stasiun televisi ternama di New York. Hobiku adalah mengoleksi barbie – berbie cantik. Dengan ketampanan dan kekayaan orang tuaku yang melimpah ruah, aku bebas memilih gadis manapun yang kusuka, termasuk mempermainkan perasaan mereka. Kupikir dengan begitu sakit hatiku dapat terobati karena cintaku terhianati oleh gadis yang kusukai. Tepatnya mantan kekasihku. First loveku. Aku tidak tahu mengapa dulu tiba – tiba gadis itu meninggalkanku dan menghilang tanpa jejak. Padahal aku sangat menyukainya. Tidak terasa sudah dua tahun berlalu. Dan aku telah berubah menjadi seorang play boy.
Malam itu aku sedang makan malam dengan pacar baruku. Baru kemarin kami jadian. Entah apa yang membuatku menerima cinta gadis di depanku sekarang ini. Wajahnya memang manis. Tapi mulutnya cerewet sekali. Aku tidak tahan. Bagaimana tidak. Baru jadian satu hari saja dia sudah berani menyuruhku ini itu. Melarang berbagai aktivitas yang kusukai seperti bermain futsal atau bermain play station. Ibu dan ayahku saja tidak melarang. Asalkan itu tidak mempengaruhi prestasiku yang gemilang di sekolah.
“Nah, ini daftar yang harus kau lakukan dan yang tidak boleh kau lakukan selama aku menjadi pacarmu. Kuharap tidak ada komentar karena aku tidak suka dibantah,” kata Jenny sambil memberikan secarik kertas berisi tulisan padaku.
Kedua mataku melebar ketika membacanya. “Apa – apaan ini? Kenapa kau lebih melarangku untuk tidak melakukan hal – hal yang kusukai? Apa?! Aku harus mengantar dan menjemputmu kemana pun kau pergi, menemanimu ke salon, shopping, diner setiap weekend harus tepat waktu. Apa ini tidak kelewatan? Pacar – pacarku yang dulu saja tidak pernah melarang atau mengaturku,” protesku marah. Ini sangat keterlaluan.
“Kau tak suka? Kalau begitu tak usah berpacaran denganku,” cetus gadis itu merajuk.
“Okey. Lebih baik kita putus saja. Aku tak suka kau perintah sesukamu.” Aku bangkit dari duduk.
“Apa?! Kau bercanda, ya?.” Jenny melotot.
“Aku serius. Mulai detik ini juga kita putus!,” tegasku akhirnya. Lalu meninggalkan restaurant.
“Arand! Kau tidak bisa begini padaku.” Masih kudengar suara Jenny berteriak padaku tetapi tidak kutanggapi. Aku terus berjalan menghampiri mobilku dan pergi.
***
Aku jomblo lagi. Tapi kali ini aku malas mencari koleksi baru lagi. Aku bosan. Toh tidak ada seorang dari mereka yang memahamiku. Menurutku para gadis itu angkuh dan matrelialistis. Semuanya sama saja. Kalau matre sih tidak masalah. Hanya saja aku tidak suka cara mereka mengaturku seperti boneka. Aku adalah seorang pria sekaligus yang pantas menjadi pemimpin para wanita. Tapi mengapa wanita lebih suka mengaturku? Kadang aku benci dan muak dengan mereka. Wanita itu egois. Aku berjanji tidak akan mencari koleksi lagi.
Hari – hari lajangku pun dimulai. Memang lebih baik seperti itu. Karena dengan begitu aku bebas melakukan apa pun yang kusukai tanpa ada yang mengaturku. Aku lebih aktif berkumpul bersama teman – teman sepermainanku yang juga tidak memiliki kekasih. Kami para pria asyik dengan obrolan masing – masing yang terkadang konyol. Akan tetapi aku menikmatinya.
Suatu hari, aku dipaksa temanku untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Tadinya ingin kutolak tetapi karena dia teman lamaku dan kami sudah lama sekali tidak berjumpa, akhirnya kuputuskan untuk datang juga.
Di keramaian pesta itu, banyak wajah – wajah asing yang belum kukenal. Jadi aku memilih menyendiri ke tempat lain. Beberapa gadis melirik tertarik padaku. Sesekali mereka melempar senyum padaku. Memberi sinyal agar aku menghampiri mereka. Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik.
“Hei, Arand!.” Tiba – tiba seseorang memanggilku. Aku menoleh. Kulihat Philip, teman lamaku melambailkan tangan, menyuruhku datang ke tempatnya. Aku pun kesana tanpa mempedulikan lirikan gadis – gadis itu.
Philip tersenyum lebar padaku. Kemudian merangkulku.
“Hei. Sudah lama sekali tidak bertemu. Apa kabar kau sekarang? Kelihatannya kau sendiri?,” kata Philip riang.
Aku hanya tersenyum simpul. “Baik. Kau sendiri apa kabar?.”
“Seperti yang kau lihat. Oh, ya. Ada yang ingin kuperkenalkan padamu,” cetus Philip lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Sayang!.” Philip melambai kepada seorang gadis cantik yang sedang duduk di dekat kolam. Gadis itu terlihat anggun dengan gaun long dress putih. Dia berjalan menghampiri kami.
Deg. Jantungku seperti hampir copot ketika dia mendekat. Aku mengenalnya. Bagaimana mungkin aku bisa lupa.
“Sayang, kenalkan ini teman lamaku. Arand. Kami dulu bertetangga dan aku sering main ketempatnya,” ujar Philip dengan sebelah tangan melingkar ke pinggang gadis itu. Gadis itu tersenyum manis padaku.
“Hei, senang bertemu denganmu,” tukas gadis itu ramah. Aku membeku seketika. Tubuhku terasa kaku. Aku masih tidak percaya akan penglihatanku. Dia, wanita pujaanku, bidadariku, Irina. Irina yang itu.
Philip yang melihat reaksi kagetku sepertinya tidak menyadari kegugupanku. Bahkan dia tidak menyadari gelas yang kupegang bergetar dan hampir jatuh ke lantai.
“Philip, aku mau ke toilet sebentar.” Gadis itu bersuara lagi.
“Okey.” Philip mendaratkan ciuman ke pipi gadis itu. Aku terkesiap. Gadis itu tidak menolak. Lantas dia melenggang pergi. Pandanganku tak lepas dari sosoknya hingga akhirnya sosok itu menghilang dari keramaian.
“Bagaimana? Dia cantik, bukan?,” kata Philip bangga. Seolah mengerti apa yang kupikirkan. Aku hanya mengangguk. Tapi pikiranku masih tertuju pada gadis tadi.
“Dia siapamu?,” tanyaku konyol. Sudah jelas panggilan “sayang” tadi menunjukkan bahwa gadis tadi adalah miliknya.
“Tentu saja kekasihku. Namanya Marina. Cantik seperti namanya, bukan?.”
Kedua mataku terpejam. Kurasakan sakit menghujam jantung hatiku. Lagi – lagi aku harus patah hati dengan gadis yang sama. Sungguh memalukan.
***
Hari – hari berikutnya, aku pergi mencari keberadaan Irina. Philip bilang gadis itu mengikuti kursus balet yang letaknya tidak jauh dari taman kota. Aku pun pergi kesana. Kutanyai setiap orang, mereka bilang tidak mengenal Irina. Apa kah mungkin Philip bohong padaku? Tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Kemudian aku memaksa masuk kedalam untuk mencari sendiri di sekolah balet itu. Tetapi sosok yang kucari tidak ada disana.
Seminggu berlalu. Kurasakan aku mulai putus asa. Sudah lama cinta itu kucari, dan sekarang dia datang kembali dalam hidupku namun bukan untukku. Aku begitu merindukan dia sampai dadaku terasa sesak. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan berbicara dengannya tentang alasannya dulu meninggalkanku.
Tanpa kusadari, tiga hari menjelang kelulusan. Satu bulan itu kulakukan untuk mencari keberadaan Irina yang belum berhasil kutemukan. Sudah beberapa hari aku mengurung diri didalam kamar dan mogok melakukan aktifitas lain. Aku juga tidak nafsu makan. Dan itu membuat kedua orang tuaku khawatir. Sudah tiga hari mereka membujukku untuk keluar dari kamar dan menyuruhku makan. Tetapi aku tidak ingin bertemu siapa pun. Sampai akhirnya aku jatuh sakit dan pingsan. Ayahku yang menemukan diriku pingsan didalam kamar segera membawaku ke rumah sakit. Dokter bilang aku terkena sakit tifes. Belum lagi ada peradangan di lambungku. Kedua orangtuaku sempat panik. Mereka akan membayar berapa pun agar aku berhasil sembuh. Ibu sempat menangis melihat kondisi malangku yang terbaring lemas di tempat tidur dengan wajah pucat. Aku kasihan melihatnya.
“Ibu… Maafkan aku yang tidak berbakti kepadamu. Maafkan aku yang selalu membuat kalian cemas. Aku memang anak yang tidak berguna. Ibu, maafkan aku…,” ucapku lirih dan lemah. Suara itu nyaris tertelan di tengorokanku namun kupaksa bicara.
Ibu kembali menangis. Sedangkan ayahku hanya menatapku nanar.
“Kau kenapa, sayang? Apa yang membuatmu menderita seperti ini? Katakana pada ibu.” Ibu membelai kepalaku sambil terisak.
Aku hanya tersenyum. Walaupun aku bercerita pun tidak akan mengubah apa – apa. Dia tidak akan pernah kembali padaku.
“Ibu, ayah… Terima kasih untuk semua yang kalian berikan padaku. Aku bersyukur menjadi anak kalian. Terima kasih.” Itu pesan terakhir yang ku ucapkan.
Pandanganku kembali menerawang ke langit – langit kamar rawat yang serba putih itu. Kurasakan bayangmu menari – nari dalam ingatanku. Senyummu, candamu, semuanya seperti candu. Tetapi, mengapa tak seindah yang kuharapkan? Padahal aku mencintaimu. Dan aku rela melakukan apa pun untukmu. Tapi mengapa? Perlahan pandanganku kabur. Gelap dan aku tidak bisa melihat apa pun.
***
Lima e-mail baru di inbox yahoo mail Marina. Dibacanya pesan – pesan itu dengan tatapan tidak percaya. Sudah lama sekali ia tidak membuka e-mail lamanya itu karena terlalu sibuk dengan latihan balet dan masalah keluarganya.
Sender 2 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Kau dimana?
Sender 13 Maret xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Mengapa kau pergi, Irina? Aku mencarimu
Sender 14 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Happy Valentine! I love you…
Sender 5 januari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Apakah itu kau? Mengapa harus dia?
Sender 2 Februari xxxx
To : marina_lover@yahoo.com
From : arand_stwcool@yahoo.com
Cc : Hy
Aku mencintaimu…
Detik kemudian air matanya bergulir. Nafasnya terasa sesak. Ia terduduk lemas. Tapi tidak tahu harus berbuat apa. Karena sudah terlambat untuk mengawalinya kembali. Karena ia sudah ada yang memiliki.
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar