Namanya Lavender Patricia Samudra. Lebih suka dipanggil Aven. Gadis egois, keras kepala, ceroboh, dan payah dalam pelajaran matematika ini adalah pewaris kekayaan keluarga Samudra Tirtasanjaya yg memiliki beberapa hotel berbintang lima yang berdiri di beberapa pelosok negeri Indonesia. Dan juga salah satu pemilik perkebunan anggur terbesar di Negeri Paman Sam. Seumur hidupnya Lavender tidak pernah hidup serba kekurangan. Karena kekayaan keluarganya itu lah ia tumbuh menjadi sosok gadis yang manja, boros, dan pemalas. Setiap hari hanya foya – foya dengan teman – temannya. Hanya bisa meminta uang, uang, dan uang kepada ayahnya tanpa tahu bagaimana susahnya mencari uang. Aven tidak peduli dari mana kekayaan yang melimpah itu. Yang penting apa pun yang diinginkannya harus dipenuhi. Kalau tidak gadis itu akan mengamuk dan menangis sepanjang malam.
Lavender adalah putri kesayangan. Awalnya. Namun hadir seorang pemuda yang lebih tua dua tahun darinya, yang mengaku sebagai anak haram ayahnya dengan perempuan lain asal Korea. Sejak itu lah hidup Aven berubah. Rasa sayang ayahnya pun berkurang. Malah ayahnya bangga kepada saudara tirinya itu. Karena kata ayah, Park Eun Min alias Leon Samudra ( ganti marga ) adalah pemuda yang sangat brilian dan berotak cerdas. Disebut – sebut juga kalau Leon mampu memegang seluruh aset kekayaan keluarganya. Sebal bukan main. Aven pun membuat perkara sehingga membuat ayahnya naik pitam. Aven pun dikirim ke Indonesia tetapnya di kota Yogyakarta dan tinggal dengan neneknya yang super duper cerewet. Disana Aven harus berusaha segalanya sendiri. Tidak ada kemewahan disana. Ia pun dipertemukan dengan Biru, pemuda super cuek, arogan yang katanya berdarah ningrat yang kabur dari Jakarta. Lengkap sudah penderitaan Aven. Apalagi ketika mengetahui Biru si manusia es tiba – tiba saja mengajaknya menikah. Heemm.. Gimana jadinya ya kalau seorang Lavender berpasangan dengan Pangeran Es?
1
My Bad Day
Manhattan, US di sebuah club malam…
“Aven! Aven! Aven!” Suara yel yel mengelu – elukan nama seorang gadis yang sedang duduk di depan meja bartender sedang berlomba minum dengan seorang pemuda bule. Di depan meja tempat Aven duduk telah terdapat sepuluh botol minuman keras yang sudah kosong. Kini gadis itu meneguk sisa beer-nya yang terakhir. Sementara pemuda di sebelahnya sudah teler lalu pingsan di tempat. Pemuda itu hanya mampu menghabiskan sembilan botol saja.
“Yeee… You is the best, Ven,” sorak penggemar gadis itu.
“Huuu…. Chiken boy!!.” Lalu mencemooh untuk sang Losser.
Aven yang masih duduk di tempat tersenyum bangga dengan wajah memerah setengah mabuk.
“I said if I never lose… hoek… hoek,” ujar Aven sambil bersendawa mengerikan. Namun bagi para Aven Lover, sendawa gadis itu adalah nada yang indah.
“Yeee!!!! Aven! Aven! Aven!.” Suara yel yel terdengar lagi.
Aven sudah bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti para penggemarnya.
“Are you okey, Ven?,” tanya Linda cemas lalu memapah tubuh temannya itu yang sempoyongan.
“Yeah. I’m okey. Kau tau kalau aku tak pernah mabuk. Aku tidak mabuk,” ceracau Aven. Walaupun begitu Linda masih memapahnya hingga sampai di mobil.
Linda mendudukkan Aven di kursi belakang sedangkan ia yang menyetir.
“Ah, baik lah kali ini aku yang menyetir,” keluhnya sambil menghidupkan mesin mobil. Mobil mewah keluaran Ferrari itu pun berjalan lambat – lambat hingga akhirnya berhasil meninggalkan Club malam dengan mulus.
Jalan besar Times Square sudah sepi. Linda melirik jam digital pada monitor mobil yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia pun mempercepat sedikit laju mobil karena ia tidak ingin mendapat semprot ayah Aven karena memulangkan anak semata wayangnya dini hari.
Mobil sporty kuning itu berhenti tepat di depan rumah mewah yang kabarnya dibeli dengan harga 3 M dengan pekarangan luas. Ada sebuah taman dengan beraneka warna bunga tulip yang sengaja ditanam disana. Di tengah – tengahnya terdapat air mancur yang terdengar bergemericik di sela – sela keheningan malam. Sebagai pagar, berdiri pohon – pohon cemara yang menjulang tinggi berderet rapi mengelilingi rumah mewah itu.
Linda keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan Aven yang sudah tertidur. Setengah mati, Linda memapah Aven hingga di depan pintu. Kemudian ia mencari – cari kunci cadangan dari dalam tas tangan temannya itu yang sengaja dibuat duplikatnya agar Aven leluasa keluar masuk kedalam rumah. Ceklik. Pintu berhasil dibuka. Kini Linda kembali memapah Aven dan meletakkan gadis itu ke atas sofa panjang. Baru saja ia akan menghela nafas lega tiba – tiba saja lampu di ruangan itu mendadak menyala terang. Linda panik dan ingin cepat – cepat keluar dari sana. Namun terlambat. Sesosok pria telah berdiri tak jauh dari tempatnya dan menatapnya tajam.
“Sedang apa kau berada di dalam rumahku?,” tegur Lelaki itu dengan alis berkerut.
Linda mengkerut. Wajahnya kini pucat karena takut.
“Good night, Uncle,” sapanya salah tingkah. “Aku hanya mengantar Aven pulang. Kalau begitu aku pergi sekarang, Uncle.”
“Siapa yang menyuruhmu pergi? Dasar anak muda sekarang tidak tau sopan santun.” Lelaki itu bersuara lagi. Kali ini mendekati sosok putrinya yang tertidur pulas. Linda sudah gemetar dan mematung di tempatnya.
“Dia mabuk? Kau mengajari putriku bergaul seperti ini? Apa begini cara kalian bergaul?.” Pria itu kini memandang galak kepada Linda.
“Ma… Maaf, Uncle. Aven sendiri yang memilih seperti itu. Saya tidak pernah mengajarinya…” Linda menunduk takut.
Samudra, ayah Aven telah mendelik pada gadis muda di depannya. Kemudian kembali menatap putrinya miris.
“Sudah lah. Kau pulang saja sana!,” perintahnya. Linda bergegas keluar dari rumah yang lebih mirip kandang harimau itu. Ia baru akan kembali masuk kedalam mobil ketika menyadari kunci mobil itu tertinggal didalam rumah Aven.
“Aaaagghh!! Stupid! Stupid! Sekarang bagaimana caraku untuk pulang?,” histeris Linda kesal bukan main. Terpaksa ia harus berjalan kaki sampai di jalan raya lalu mulai menelepon seseorang. “Hallo? Mark. Bisa kah kau menjemputku di jalan dekat rumah Aven? Jemput aku, please!.” Setelah terdengar jawaban setuju dari seberang, Linda pun mematikan teleponnya. Lalu ia kembali teringat pada teman baiknya, Aven. “Aven, kau benar – benar menyusahkanku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar