Minggu, 03 April 2011

Autumn In London ( naskah lomba cerpen BWS 2010 )

Autumn In London
Oleh : Diyah Oktavia
Pagi hari yang cerah dengan kicauan burung – burung yang bernyanyi riang di atap rumah penduduk. Semilirnya angin musim gugur menerbangkan daun – daun yang menguning tak tentu arah. Pepohonan yang berderet rapi di tepi jalan kini mulai gundul hanya tinggal rantingnya. Walau begitu tidak membuat aktifitas penduduk menurun. Para orang tua masih giat bekerja demi menghidupi keluarganya. Anak – anak masih aktif dengan kegiatan belajarnya di sekolah. Belum ada yang libur. Setidaknya musim dingin masih datang beberapa minggu lagi.
Seorang gadis asia bertubuh jangkung sedang berlari menuju sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Lagi – lagi ia bangun kesiangan dan pastinya terlambat tiba di sekolah. Dan sialnya hari ini ia ada ujian Matematika yang diajar oleh Mr. Paddock. Pengajar yang terkenal killer di sekolahnya. Ketika tiba di depan sekolah, pintu gerbang telah ditutup. Ia mengumpat sekenanya lalu tanpa pikir dua kali pagar besi itu berhasil dipanjatnya dan mendarat di lapangan sekolah tanpa kurang suatu apa – pun. Hal yang sudah biasa ia lakukan jika terlambat ke sekolah.
Namanya Kaori . Seorang murid tauladan di Westminster High School. Biang keributan di sekolah yang terkenal arogan, cuek, dan jago berkelahi. Dia mantan seorang kapten Judo di Jepang, namun sudah tidak lagi sejak kedua orang tuanya bercerai dan ikut ayahnya pindah ke London. Sedangkan ibunya masih tinggal di Jepang karena dia adalah orang Jepang. Kaori juga memiliki saudara kembar yang mirip dengannya. Tapi saudara kembarnya itu harus tinggal bersama ibunya di Jepang. Dan ia sendiri harus ikut ayahnya. Entah bagaimana kabar mereka. Kaori tidak tahu. Karena setelah perceraian itu dan terpisah, ayahnya melarang untuk berhubungan dengan ibunya atau keluarga yang ada di Jepang. Ayah Kaori sendiri adalah orang Jerman, berkulit putih, rambut pirang, dan bermata abu - abu. Uniknya, ia mewarisi kedua gen orang tuanya. Ia bertubuh jangkung, berkulit kuning coklat, berambut hitam lurus, berhidung mancung, dan bermata abu - abu seperti milik ayahnya. Sedangkan saudara kembarnya berhidung kecil dan bermata hitam gelap seperti ibunya.
Kaori kini berlari menuju koridor sekolah dan memasuki lorong menuju ke kelasnya. Ketika sampai di ambang pintu kelas, ia mengintip sebentar. Ternyata Mr. Paddock sedang membagikan lembar ujian kepada murid – murid di kelas tersebut. Kaori mengumpat lalu ia memberanikan diri masuk kedalam ruang kelas dengan cengiran lebar menyapa pengajarnya.
Good morning, Sir,” sapa Kaori memasang senyum termanisnya, berharap kali ini Mr. Paddock tidak memberi hukuman padanya.
“Kau terlambat, Miss Kaori. Duduk lah. Aku belum mulai ujiannya,” kata Mr. Paddock menyuruh Kaori duduk. Kaori mengangguk dengan hati lega. Sebelum ia mengucapkan terima kasih, Mr. Paddock bersuara lagi. “Selesai mata pelajaranku nanti kau harus ke ruang kepala sekolah.”
Kaori mendelik kaget. “What?!.”
“Tidak ada protes. Duduk lah dan mulai lah mengerjakan soalnya,” ujar Mr. Paddock sambil memberikan lembaran soal kepada Kaori. Kaori menerima dan berjalan menghampiri bangukunya lalu duduk dengan wajah lesu.
“Kaori. Ssstt... Kaori,” panggil seorang pemuda di belakang Kaori. Gadis itu menoleh. “Aku minta jawabanmu, ya? Aku tak sempat belajar semalam,” bisik Aron sedikit memaksa. Selalu begitu.
Kaori mendengus. “No. Kali ini tidak.” Kemudian ia sibuk mengerjakan soal.
***
Lonceng berdenting tiga kali. Semua murid berhamburan keluar kelas. Hari sudah terlalu siang dan kini waktunya mereka pulang. Akan tetapi kebanyakan mereka tidak langsung pulang ke rumah. Ada yang main di taman, supermarket, bahkan tempat hiburan.
Kaori sedang berjalan malas setelah mendapat hukuman dari kepala sekolah untuk membantu di perpustakaan sekolah. Dan itu akan membuatnya bertemu dengan ice – man, Lee Eu Sung. Pemuda yang memusuhinya sejak menjadi murid di Westminster High School. Eu Sung, tidak tahu mengapa selalu bersikap dingin padanya. Sialnya, ternyata Eu Sung juga tetangganya. Ayahnya adalah teman baik ayah pemuda itu. Dan celakanya lagi, para orang tua itu menyuruh mereka akrab. Akrab dalam apa? Sungguh Kaori muak padanya. Benci sekali melihat wajah angkuh Eu Sung. Apalagi tadi pemuda itu sempat memergokinya di ruang kepala sekolah dan mendapat hukuman. Pasti diam – diam pemuda itu menertawakannya. Benar – benar menyebalkan.
Kaori sudah sampai di rumah dan hendak tidur siang. Tiba – tiba ponselnya berdering. Ternyata ayahnya yang menelepon. Kaori mengangkat telepon itu.
Hay, Dad. Ada apa?,” jawabnya datar.
“Kau dimana, dear?,” sahut Ayahnya dari telepon.
“Di rumah. Aku mau tidur siang. Lelah. Ayah masih di kantor?.”
“Ayah lagi di Airport. Ayah ada tugas keluar kota. Kau tak apa di rumah selama aku pergi?.” Nada lelaki itu terdengar cemas.
“Aku akan baik – baik saja. Ayah tidak perlu cemas.”
“Baiklah. Kusuruh Eu Sung menemanimu. Tadi aku selesai meneleponnya dan dia sanggup menjagamu selama aku pergi.”
“Apa?! Kenapa harus Eu Sung? Tidak, Ayah. Aku akan baik – baik saja selama ayah pergi. Tak perlu menyuruh Eu Sung menjagaku,” protes Kaori geram.
“Ayah hanya ingin memastikan kau akan baik – baik saja. Jika dengan Eu Sung akan membuatku merasa lebih baik selama berada di luar kota. Kau anak gadis. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu.” Terdengar suara ayahnya mendesah.
“Baiklah. Okey. Ayah tidak perlu berpikir yang macam – macam. Cepat lah selesaikan pekerjaan ayah disana dan pulang,” ujar Kaori cepat. Itu lebih baik dari pada ia harus berlama – lama dijaga Eu Sung. Pastinya pemuda itu akan menguntitnya sepanjang hari selama ayahnya ada di luar kota. Seperti yang pernah pemuda itu lakukan tahun lalu ketika ayahnya lagi – lagi mendapat tugas keluar kota. Dan biasanya laki – laki itu baru akan kembali beberapa minggu kemudian setelah pekerjaannya di luar kota beres. Mengingat ayah Kaori adalah seorang detektif cukup terkenal di London dan terkadang harus meninggalkannya sendiri di rumah untuk menyelesaikan sebuah kasus.
***
Hari berikutnya, seperti yang Kaori duga bahwa Eu Sung selalu mengawasinya. Terkadang mengikutinya di Cafetaria ketika jam istirahat. Padahal mereka sudah berdua di perpustakaan sekolah selama istirahat berlangsung dan itu harus ia lakukan selama seminggu dalam rangka hukuman dari kepala sekolah. Ugh. Rasanya kesal dan jengkel. Kaori sendiri selama di perpustakaan hanya berbicara seperlunya dengan Eu Sung kalau ada yang penting saja.
Begitu juga sepulang sekolah itu yang biasanya ia pulang sendiri, kini pemuda itu berjalan di belakangnya. Hal itu membuat Kaori semakin panas. Alhasil ia mempercepat langkah agar cepat sampai di rumah dan mengunci pintu sehingga pemuda itu tidak dapat masuk kedalam. Jika ia berada di dalam kamar dan melihat Eu Sung sedang berdiri di balkon kamar, ia cepat – cepat menutup tirai jendela kamarnya. Kebetulan jendela kamar mereka berhadapan. Bila tirai jendela di buka akan tampak Eu Sung yang sedang menatap datar rumahnya atau Eu Sung yang sedang mengelap camera sambil membidik gambar.
Tidak terasa tiga tahun sudah mereka bertetangga. Selama tiga tahun juga mereka berada di sekolah yang sama. Dan sikap Eu Sung tidak ada yang berubah. Masih tetap dingin seperti dulu ketika pertama kali ia bertemu. Terkadang Kaori tidak mengerti sikap dingin pemuda itu yang lebih banyak diam. Tetapi tidak pernah ia mendengar pemuda itu mengeluh ketika disuruh untuk menjaganya.
***
Suatu hari Kaori sedang berjalan – jalan di taman. Ia baru saja membeli bahan untuk membuat spagety. Tadi sewaktu akan pergi ia memantau keadaan terlebih dahulu dan tidak melihat tanda – tanda Eu Sung ada di rumah. Jadi ia bebas pergi sesuka hatinya tanpa harus ditemani pemuda itu. Menyenangkan rasanya. Ia menghirup udara musim gugur sambil tersenyum puas.
Tiba – tiba ada tiga sekawanan preman menghadang langkahnya. Kaori berhenti dan melihat sekitarnya. Sepi. Tak seorang pun orang yang lewat. Hanya mereka berempat di jalan itu. Namun bukan Kaori namanya jika mudah takut atau menjerit minta tolong.
“Hai, manis. Mau kemana?,” tanya Si Pucat menyeringai menggoda Kaori.
“Mari kita bersenang – senang, sayang. Kau pasti suka,” kata Si Botak sambil mencolek lengan Kaori. Sedangkan yang berambut gondrong tertawa lalu senyum – senyum memandang penuh nafsu ke arah gadis itu.
“Minggir. Biarkan aku lewat,” perintah Kaori dingin.
“Hahaha... Galak juga kau, ya? Tambah sexy saja kalau kau marah, manis,” colek Si pucat. Ketiganya tertawa.
Ketika mereka mencoba mendekapnya, Kaori segera memberi tendangan ke kaki Si Jangkung. Lalu meninju rahang kanan Si Botak. Mereka meraung kesakitan. Sebelum ia sempat berlari, Si Pucat segera meraih lengan Kaori dan mencekal kedua tangan gadis itu. Belanjaan Kaori jatuh. Salah satu tangan Si Pucat mencekik lehernya, membuat Kaori sulit bernafas.
“Kau mau coba lari? Sekarang coba saja!,” geram Si Pucat.
“Dasar anak ingusan. Mau mencoba melawan kami? Cari mati kau,” umpat Si Botak.
“Sudah. Bawa saja dia ke tempat kita. Lalu main – main.” Si Jangkung menyeringai galak. Tidak senang dilawan.
Kaori tidak siap. Mereka terlalu kuat. Kemampuan beladirinya tidak akan cukup mampu mengalahkan mereka bertiga. Dan ketika mereka hendak membawa Kaori, sebuah hantaman keras mendarat di pipi kanan Si Pucat. Membuat pria itu tersungkur ke tanah dan mengaduh. Ternyata Lee Eu Sung datang pada waktunya. Pemuda itu tidak puas meninju Si pucat dan memberi hujan tendangan keras kearah perut pria itu yang mengaduh kesakitan dengan mulut berdarah. Melihat temannya roboh, Si Botak dan Si Jangkung kini menyerang Eu Sung. Eu Sung dengan sikap menangkis serangan mereka dan menendang perut Si Botak dan meninju wajah Si Jangkung membuat mereka mundur tiga langkah kebelakang. Eu Sung tidak diam saja. Ia lantas menarik lengan Kaori membawa gadis itu pergi dari sana. Mereka berlari sekuat tenaga sebelum ketiga preman itu sempat mengejar mereka. Mereka terus berlari hingga akhirnya mereka sampai di pasar tradisional yang terletak dekat danau. Eu Sung membawa Kaori pada keramaian itu lalu mereka masuk ke sebuah toko baju untuk bersembunyi. Eu Sung sempat mengintip. Ketiga preman itu sudah tidak mengejar mereka lagi.
“Kau tak apa – apa?,” tanya Lee Eu Sung bersuara.
“Aku baik – baik saja,” ucap Kaori datar. Untung saja tadi Eu Sung segera datang. Kalau tidak ia tidak tahu bagaimana nasibnya. Sekarang ia dapat bernafas lega.
“Ayo, pergi!,” kata Eu Sung sambil menarik Kaori keluar dari toko dan menyusuri jalan besar dan tetap menyusup pada keramaian agar mereka tidak terlihat oleh ketiga preman tadi. Ketika mereka berjalan tiba – tiba tubuh Eu Sung tersungkur ke depan. Pemuda itu roboh dengan darah mengalir dari pinggangnya.
“Eu Sung!,” jerit Kaori kaget dan memangku Eu Sung yang terluka. Kaori sempat melihat Si Botak ada di dekatnya dengan tangan membawa pisau lalu menyeringai dan pergi. Tidak ada yang tahu pasti kejadian tersebut. Kaori hanya dapat berteriak agar ada yang membantu menangkap kawanan si Botak dan menelepon ambulance. Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Eu Sung kedalam mobil ambulance, Kaori ikut serta. “Eu Sung. Bertahan lah. Kau harus kuat.” Kaori mulai terisak saat wajah Eu Sung memucat. Darah Eu Sung masih mengalir.
Lee Eu Sung menatap Kaori tanpa berkedip. Baru kali ini ia melihat wajah Kaori dari jarak yang begitu dekat. Baru kali ini ia melihat wajah itu cemas dan menangis karenanya. Biasanya hanya ekspresi dingin yang dilempar kepadanya. Tapi kali ini ia melihat ekspresi lain Kaori yang belum sempat dilihatnya. Gadis itu menatapnya sedih dengan air mata membasahi pipi mulus gadis itu. Ingin rasanya Lee Eu Sung menyeka air mata itu namun ia terlalu lemah untuk mengangkat tangannya. Ia hanya mampu menatap mata abu – abu gadis itu dalam. “Akhirnya kau melihatku,” hatinya berbisik. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Kemudian perlahan pandangannya kabur dan gelap.
***
Seminggu kemudian, Eu Sung sudah diperbolehkan pulang. Ayah Kaori juga tadi menelepon bahwa pria itu akan sedang menuju Airport menuju London. Ternyata kabar Eu Sung masuk rumah sakit dan sampai di telinga ayah Kaori. Mungkin ayah Eu Sung yang memberitahu sehingga ayah Kaori mempercepat pekerjaannya di luar kota dan kembali ke London menemui putri yang amat dikasihinya.
Siang itu kaori menjenguk Eu Sung di rumah depan. Ayah Eu Sung bilang kalau putranya ada di dalam kamar. Ketika Kaori membuka pintu kamar Eu Sung, kamar itu kosong. Eu Sung tidak ada di dalam? Mungkin sebaiknya ia menunggu didalam saja. Kaori memberanikan diri masuk kedalam. Ia sempat kaget ketika melihat gambar dirinya dengan berukuran besar tertempel di dinding kamar Eu Sung. Kapan Eu Sung mengambilnya? Lalu ia melihat sebuah album yang ditaruh sembarangan di atas meja. Kaori membukanya dan duduk di tepi tempat tidur. Halaman pertama foto dirinya yang sedang menaiki pagar sekolah. Lalu yang sedang berkelahi dengan Robin and the gank. Berikutnya wajah close up Kaori yang sedang tertawa. Di album itu semuanya berisi fotonya dengan macam – macam ekspresi.
Tiba – tiba pintu toilet terbuka. Eu Sung muncul dari dalam dan kaget melihat Kaori yang juga menatapnya kaget.
“Eh. Sorry.” Kaori buru – buru menaruh album itu ke atas meja di ikuti pandangan curiga Eu Sung. “Bagaimana kabarmu hari ini?,” tanya gadis itu salah tingkah. Tentu saja pertanyaan itu sudah ia ulang selama seminggu ini ketika Eu Sung masih berada di rumah sakit. Kaori selalu datang membawakan buah – buahan untuk Eu Sung. Mereka juga sempat bercanda. Dan Kaori baru sadar kalau Eu Sung ternyata menyenangkan. Pemuda itu bercerita apa saja dan terkadang merapikan rambut Kaori yang dimainkan angin yang masuk kedalam ruang rawat. Seminggu itu mereka seperti teman akrab dan bukan lagi musuh seperti anggapan Kaori. Kaori sendiri sudah tidak lagi membenci Eu Sung. Malah ia merasa nyaman didekat pemuda itu.
“Ternyata kau penggemar beratku, ya?,” ujar Kaori memecah keheningan sambil tersenyum simpul.
Eu Sung hanya menatap Kaori datar, tidak langsung menjawab. Pemuda itu kini duduk disebelahnya.
“Kaori, aku senang meliatmu tersenyum,” ucap Eu Sung datar. “Kupikir kau membenciku.” Ditatapnya Kaori dalam. Tatapan teduh dan lembut.
“Tidak, Eu Sung. Kau orang baik. Terima kasih karena menolongku waktu itu sampai kau harus terluka karena aku,” jawab Kaori jujur. Ia balas menatap Eu Sung.
“Bukan salahmu,” sahut Eu Sung membenarkan. Kemudian hening.
“Kaori. Seandainya waktu itu tidak terjadi, apa kau masih mau menatapku seperti ini?.” Pertanyaan Eu Sung itu membuat kedua mata Kaori melebar dan kaget. “Kau tahu, Kaori. Aku sempat berpikir, bagaimana supaya kau melihatku? Bagaimana caranya supaya kau tersenyum padaku? Kau begitu berkilau sampai aku hanya berani memandangmu dari jauh. Aku tak berani mendekatimu karena takut kau akan lari. Melihat caramu memandangku saja sepertinya kau membenciku. Kupikir apa salahku sampai kau begitu benci padaku.”
“Aku tak benci padamu...,” sergah Kaori cepat sambil memalingkan pandangan ke tempat lain.
“Aku tak pernah bisa mengerti kau, Kaori... Kupikir jika aku mati waktu itu karena menolongmu, aku akan sangat bahagia karena kau akhirnya melihatku. Aku senang sekarang kau berani menatapku apalagi tersenyum padaku. Terima kasih...”
“Eu Sung, apa maksudmu?.” Kaori segera menatapnya.
“Kaori... Apa kau benar – benar lupa padaku?.”
“Aku tidak mengerti... Bukankah kita sudah kenal dan bertetangga selama empat tahun ini?.”
Eu Sung hanya tersenyum simpul. “Ternyata kau lupa, ya.”
“Kau bicara apa, sih?,” protes Kaori senewen.
“Apa kau ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu? Di acara tahun baru di Kyoto? Kau pernah membelaku dari teman – teman yang mengolokku waktu itu. Aku masih ingat jelas kau gadis kecil berkepang dua dengan pakaian kimono lalu melempar geta ( sandal kayu orang Jepang ) kepada salah seorang temanku sampai kepalanya bocor. Lalu kau menarikku dan mengajakku melihat kembang api bersama sambil makan takoyaki. Dulu kau sangat cerewet dan kau orang yang periang,” kata Eu Sung pajang lebar. Kemudian tersenyum lebar sambil menatapku yang kini melongo mendengar ceritanya. “Sekarang kau ingat?.”
“Astaga. Bagaimana mungkin itu kau? Itu sudah lama sekali. Aku saja tidak begitu ingat. Lagi pula waktu itu aku belum tahu siapa namamu karena saudara kembarku memanggilku pulang.”
Lee Eu sung kembali tersenyum lebar. “Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan senyum polosmu, Kaori.”
Kemudian mereka tertawa dan mengenang masa – masa yang terlewatkan. Selama tiga tahun Kaori membenci Lee Eu Sung. Mengira pemuda itu sedingin es dan aneh dan juga mengiranya penguntit. Ternyata Eu Sung adalah bagaian dari masa kecilnya yang terlupakan. “Lee Eu Sung. Akan kuingat selalu hari ini,” ucap Kaori dalam hati.
Angin kembali berhembus. Meniup daun – daun kemerahan. Menari – nari dibawa angin kemudian jatuh ke tanah dan kembali berlari.
End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar